Buku ini saya dapat sebagai kado pernikahan dari seorang
kawan. Saya menikah Juni 2013, sekarang Januari 2015. Jadi, satu setengah tahun
buku ini menghiasi rak dalam kondisi tersegel.
Setelah melahirkan, saya bertekad kembali rajin membaca—dan
semoga menulis. Event islamic reading challenge merupakan satu dari banyak cara
untuk menyiasati niat itu.
Judul: Pengantin al-Qur’an (Kalung Permata buat Anak-anakku)
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati, Jakarta
Buku Pengantin al-Qur’an merupakan gabungan tiga buku yang
menjadi suvenir untuk para undangan saat pernikahan anak-anak Quraisy Shihab.
Pembagian bab dalam buku ini cukup runtut, mulai dari hubungan antarmanusia,
pengertian cinta, perkawinan, hingga kehidupan berkeluarga.
Diksi yang digunakan dalam setiap bab adalah nasihat,
membuat buku ini tidak terkesan menghakimi. Jadi, buku ini berisi delapan
nasihat yang bisa diberikan seseorang kepada orang terkasihnya. Bisa dari
sahabat, orang tua, kakak, dan sebagainya. Meskipun sempat menyesali karena baru
sekarang saya baca buku ini, tetap saja saya bersyukur sempat membacanya.
Meskipun berjudul Pengantin al-Qur’an, saya juga menyarankan
agar buku ini dibaca oleh orang yang belum menikah. Karena setelah membaca
beberapa nasihat, kalian akan mendapat pandangan bagaimana sebaiknya memilih
pasangan.
Sebagian laki-laki merasa lebih “tinggi” kedudukannya dalam
rumah tangga. Untuk hal ini, penjelasan Quraish Shihab indah sekali. Dia
menyatakan bahwa tiada keistimewaan bagi yang melakukan aksi dan tiada
kekurangan dari yang menerima aksi tersebut. Seandainya jarum tidak lebih kuat
daripada kain atau pacul tidak lebih kokoh daripada tanah, maka tidak akan
terjadi jahit menjahit, tidak pula pertanian.—p. 3
Bagi muda-mudi yang bertanya-tanya mengapa perasaan yang
muncul di hati tidak tetap, kadang dalam cinta, muncul pula benci, seperti yang
ada di lagu Geisha, “Cinta dan Benci”,
atau lagu Naff “Kubenci untuk mencintaimu”, buku ini juga punya
jawabannya, lho. Itulah mengapa hati disebut kalbu, dalam arti sesuatu yang
berbolak-balik.—p. 29
Kadang, muncul pula pertanyaan. Benarkah cinta datang karena
terbiasa sehingga kita tidak perlu cinta saat akan menikah? Bagi saya, buku ini
memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.
Jika kalian memiliki toleransi yang sangat luas, bisa saja.
Tapi jika tidak, jangan coba-coba. Karena dalam Islam juga sangat dianjurkan
untuk mengenal calon pasangan terlebih dahulu, tentu dengan adab yang baik.
Perasaan cinta tetap perlu, saya setuju.
Buku ini juga membahas pentingnya mengenal pasangan, dalam
bahasa orang-orang tua: bibit, bebet, dan bobot. Ini penting, benar, karena akan
memengaruhi kelanggengan pernikahan.
Buku ini juga membahas mengenai mahar. Ada kutipan yang saya
sangat suka.
…perkawinan bukan akad jual-beli. Maskawin bukan harga dari seorang perempuan.—p.66
Maskawin adalah lambang bahwa laki-laki sanggup menafkahi
istri. Tidak perlu banyak, tapi –kalau bisa—juga tidak sedikit. Di buku ini
dikupas lebih dalam, saya khawatir salah menyampaikan bagian ini.
Sesuai judulnya, di bab-bab berikutnya tentu buku ini berisi
nasihat mengenai bagaimana baiknya menyikapi perjalanan berumah tangga.
Rahasia-rahasia kecil yang disampaikan buku ini mujarab sekali, lho. Salah satu
yang menarik adalah bahwa pertengkaran diperlukan sebagai bumbu cinta. Pernah
dengar istilah itu?
...jangan menduga cinta dan kasih sayang terkubur hanya pada saat masing-masing bersikeras terhadap keinginannya. Ia juga bisa terkubur saat salah satu pihak selalu melebur keinginannya demi kekasihnya.—p. 104
Jadi yang masih pacaran dan berpikir, “Akan kulakukan semua
untukmu, Kekasihku,” coba deh baca buku ini.
Berbohong dalam hubungan suami istri juga diperbolehkan.
Eits, bohong di sini maksudnya gombal, ya.
Mengenai kekurangannya, saya menemukan beberapa typo. Misal:
Di pojokkan—p. 65
Diatas—p. 142
Beberapa kurang huruf juga ada. Halaman seratus ke atas,
saya semakin banyak menemukan kesalahan seperti itu sampai-sampai saya merasa
jangan-jangan buku ini dibagi dua dan diedit oleh dua orang yang berbeda. Maka,
saya buka halaman depan dan… memang menemukan dua nama editor di sana. (^-^”)
Entah benar atau tidak, tapi memang semakin terasa di halaman seratus ke atas.
Selain itu, beberapa ayat ada yang tidak ditampilkan.
Mungkin, mungkin karena penyampaiannya lebih efektif, seperti di halaman 58.
Justru banyak doa yang dimunculkan. Tapi, tetap saja menurut saya sebaiknya
disampaikan lengkap.
Pembuka "Nasihat Ketiga" adalah doa, tapi tidak ada keterangan
itu doa apa. Saya yang sangat awam ini tidak mengerti dan akrab dengan doa-doa
seperti ini. Tapi, jika melihat paragraf selanjutnya, sepertinya itu adalah doa
ketika melakukan hubungan.
Tentu jika kekurangan salah ketik diminimalisir, buku ini
akan semakin baik. Buku yang saya punya cetakan kedelapan, tahun 2011. Semoga
ketika cetak ulang berikutnya, sudah disertai perbaikan.
Sssttt, sebenarnya, ketika menonton televisi, saya tidak
pernah betah lama mendengar ceramah Bapak Quraish Shihab. Tapi, melalui
tulisannya saya menjadi sedikit lebih paham memaknai pernikahan dan kehidupan. Begitulah.
Sungguh banyak hal yang dapat direnungkan selama membaca buku ini.
Sebagai penutup, saya ingin mengajukan pertanyaan. Apakah
ada yang pernah bertanya: Mengapa kita perlu menikah? Saya dulu lama
bertanya-tanya, berusaha mencari jawaban, sampai calon suami saya datang dan
memberi jawaban yang cukup masuk di akal. Buku ini juga punya jawabannya.
Silakan cek halaman 5, ya. ||--(*-^)/
No comments:
Post a Comment