Entri Populer

Showing posts with label novel terjemahan. Show all posts
Showing posts with label novel terjemahan. Show all posts

Friday, 7 October 2016

The Devil’s whisper (ulasan)







Judul: The Devil’s whisper
Penulis: Miyuki Miyabe
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2012; cetakan II
Tebal: 413 halaman


"Yang buruk adalah kau mencari-cari alasan untuk menjelaskan apa yang telah atau tidak kau lakukan."--p. 117

Tiga orang gadis muda yang cantik mati. Di tempat berbeda, dengan cara berbeda.

Gadis keempat, Kazuko Takagi, mulai khawatir. Mereka semua memiliki kaitan. Dia pernah memiliki kaitan dengan ketiganya. Mungkinkah dia yang berikutnya diincar?

Tapi, ketiga gadis itu tidak dibunuh. Mereka semua bunuh diri.
Benarkah seseorang bisa didorong untuk melakukan bunuh diri? Dengan cara apa?

Merasa keselamatannya terancam, Kazuko Takagi berusaha menghilang.

***

Kaitan Mamoru, seorang pemuda SMA biasa, dengan kasus tersebut adalah karena pamannya dituduh melakukan kelalaian menerobos lampu merah sehingga menyebabkan seorang gadis mati (gadis ketiga, Yoko Sugano). Rekor paman Mamoru sebagai sopir teladan selama ini seakan tidak berarti. Ia ditahan hingga proses penyelidikan selesai.

Merasa pamannya terancam menjadi tahanan, Mamoru berusaha menyelamatkannya. Ia mulai menyelidiki masa lalu korban. Dan menemukan kenyataan bahwa gadis itu pernah menjadi….

Oke, di sini ada spoiler. Kalau penasaran sama isi bukunya, silakan baca dulu.

Wednesday, 24 August 2016

Kesetiaan Mr. X [Ulasan dan Giveaway]




Judul: Kesetiaan Mr. X
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia
Tebal: 320 halaman
Tahun Terbit: 2016



Ishigami guru SMA biasa. Dengan perawakan nyaris bulat dan mata sipit, ia tidak bisa dibilang menarik. Tapi, dia merasa tertarik dengan tetangganya, janda beranak satu bernama Yasuko. Agar dapat melihat Yasuko, Ishigami selalu membeli bento di tempat wanita itu bekerja. Selama ini begitu saja, dan Ishigami sudah bahagia.

Suatu ketika, Yasuko kedatangan Togashi, mantan suaminya yang masih menempelinya demi memperoleh uang. Pindah tempat beberapa kali, Yasuko dan putrinya, Misato, tetap berhasil ditemukan Togashi. Tak tahan lagi, terjadilah peristiwa itu.
Dan Ishigami muncul, menawarkan bantuan untuk membebaskan Yasuko dan Misato dari belitan perkara pembunuhan.

Yasuko pun teringat cerita Sayoko, guru matematika ini sepertinya tertarik padanya …. Andai tidak mendengar cerita ini sebelumnya, yasuko pasti akan meragukan nyali Ishigami.—p. 39

Yasuko dan Misato cukup mengikuti instruksi Ishigami. Dan sejauh ini tampaknya berhasil. Alibi ibu dan anak itu memang meragukan, tapi mereka juga tidak berubah status dari “tersangka”. Polisi tidak berhasil menemukan bukti yang bisa membuat mereka ditangkap tapi juga tidak ingin melepaskan perhatian dari keduanya.

Hingga kemudian muncul Yukawa. Bisa dibilang, Yukawa adalah teman Ishigami. Keduanya sama-sama genius, tapi beda bidang. Yukawa fisika dan Ishigami matematika. Keduanya mencintai masing-masing bidang, tapi seperti yang kita semua tahu: cinta saja sering tidak cukup.

Mereka hanya ingin meneliti kajian kesukaan masing-masing tanpa perlu direpotkan oleh hal lain. Tapi kenyataannya, keinginan itu berbenturan dengan berbagai kepentingan dalam kehidupan, dan mereka berusaha menghadapinya dengan cara sendiri-sendiri.

Terdesak oleh perubahan drastis dalam kehidupannya, Ishigami memilih menukar semua kemampuan yang seharusnya bisa membawanya menjadi dosen demi makanan.—p. 97

Yukawa adalah kawan dengan kemampuan berpikir yang sepadan dengan Ishigami. Tapi, itu juga berarti Yukawa adalah lawan yang berat. Begitu mengetahui polisi yang bertugas mengungkap pembunuhan Togashi sering berbincang dengan Yukawa, Ishigashi bisa menerka bahwa soal yang dibuatnya untuk polisi bisa jadi dipecahkan oleh Yukawa.

Belum lagi, ada kehadiran Kudo yang jelas-jelas terlihat tertarik dan berhasil menarik perhatian Yusako. Apakah Ishigami merelakan Yusako dengan laki-laki lain setelah semua yang dia lakukan, atau dia akan melakukan tindakan lain yang lebih mengejutkan?

Pertanyaan terbesar adalah:
Bagaimana Ishigami memindahkan mayat Togashi dari apartemen mereka ke pinggir sungai yang berjarak puluhan kilometer?
Tanpa mobil.
Tanpa menarik perhatian banyak orang?


Ketika berhasil mengetahui semuanya, Yukawa hanya berkata, 
“Begitu…”, lalu menundukkan kepala dan terdiam. 

Terlalu terkejut untuk berkata-kata. Saya juga. 


Ketika sebagai pembaca mengetahui apa yang dilakukan Ishigami untuk menyingkirkan mayat itu, saya juga ingin berkata seperti Yukawa:

"Anda tidak tahu apa-apa tentang dirinya: betapa dia mencintai Anda dan tentang kerelaannya mengorbankan seluruh kehidupannya demi Anda."

***

Meski berisi pembunuhan, bagi saya, dasar kisah dalam buku ini adalah cinta.
Salah satu jenis cinta yang tak terduga. 


"Kadang demi menolong seseorang, yang harus kita lakukan hanyalah hadir di tempat itu."

***

Matematika dan Gunanya dalam Kehidupan Nyata

Semasa sekolah, salah seorang kawan pernah bertanya kepada guru matematika kami. Kira-kira begini:

“Untuk apa mempelajari rumus-rumus ini, Bu? Toh nggak bisa digunakan di kehidupan nyata.”

Saya tersentak karena keberaniannya bertanya.
Guru saya tersentak—mungkin karena tak pernah terbayangkan salah satu muridnya mengajukan pertanyaan seperti itu.

Di buku ini, Ishigami juga mendapatkan pertanyaan serupa:

“Apa sih gunanya hitungan diferensial dan integral? Buang-buang waktu saja!”—p. 129

“Untuk apa seseorang belajar matematika?”—p. 130

Dan ya, seperti kata Ishigami.
“Sayangnya, sedikit sekali guru yang bersedia menjawab pertanyaan sederhana itu. Tidak, mungkin justru karena mereka tidak bisa menjawabnya.”—p. 220

Guru saya tidak menjawab. Entah tidak mau atau tidak bisa.
Tapi di buku ini, Ishigami memberikan jawaban menarik kepada muridnya.

Kalau penasaran dengan jawaban Ishikawa, temukan dan baca buku ini. (づ ̄ ³)~

Atau, coba ikut giveaway.


***

Saatnya Giveaway… \('')/




Akan ada satu buku Kesetiaan Mr. X buat kamu.
Syaratnya:
1.  Pastikan kamu berdomisili di Indonesia.
2. Follow akun twitter saya (nggak harus) dan akun Gramedia.
3. Share link giveaway ini melalui media sosial kalian (nggak harus twitter) dengan hashtag #MrXBlogTour.
4. Jawab pertanyaan berikut:

Menurut kalian, untuk apa seseorang belajar rumus-rumus rumit matematika—selain tambah-kurang-kali-bagi?

5. Tulis nama, link share, alamat email, dan jawaban di kolom komentar.
6. Jawaban paling menarik yang terpilih akan jadi pemenang.
7. Giveaway ini hanya berlangsung 2 hari aja: 24 Agustus 2016-25Agustus 2016. Pengumuman pemenang serentak pada tanggal 29 Agustus 2016 bersama host yang lain.

Nah, semoga beruntung. (ʃƪ)


Thursday, 11 August 2016

Dua Peribahasa bagi Seorang Tersangka Pembunuhan

Ulasan Novel Konspirasi Takdir Karya Jeffrey Archer





Judul: Konspirasi Takdir [A Prisoner of Birth]
Penulis: Jeffrey Archer
Penerbit: Gramedia, 2008
Halaman: 616

Bagai Jatuh Tertimba Tangga

Tangga besi pula.

Mungkin itu peribahasa yang cocok menggambarkan kondisi Danny Cartwright (iya, nama keluarganya mirip Rianti, artis Indonesia yang mirip saya). Suatu hari, dia melamar pacarnya, Beth Wilson. Kemudian, dia, Beth, dan Bernie Wilson—kakak Beth, mengadakan semacam perayaan atas lamaran itu di Dunlop Arms—semacam kedai tempat minum.

Nahas, pengunjung lain di sana, empat orang laki-laki, mulai resek. Awalnya, salah satu dari mereka ngasih celetukan merendahkan. Karena tidak ditanggapi, celetukan itu semakin menjadi. Pancingan berhasil. Mereka berkelahi. Ketika pertengkaran sepertinya sudah akan dimenangkan tunangan dan kakaknya, Beth memanggil taksi. Hanya beberapa menit dia pergi. Tapi, yang dibutuhkan Beth kemudian ternyata bukan lagi taksi, melainkan ambulans.

Bernie tidak selamat selama di perjalanan menuju rumah sakit. Beberapa tusukan di tubuhnya membuat ia kehabisan terlalu banyak darah. Dan yang menjadi tersangka adalah Danny.
Danny dan Beth tidak menyangka, keempat orang yang ada di Dunlop Arms malam itu adalah orang-orang dengan posisi terhormat di masyarakat: pengacara, aktor, aristrokat, dan rekanan perusahaan terkemuka. Sementara Danny hanya karyawan bengkel. Dan satu-satunya saksi yang menguatkan dia adalah tunangannya, yang mungkin membelanya berdasarkan cinta.

Kepada siapa memangnya juri akan memihak?

***

Bagai Mendapat Durian Runtuh

Durian montong pula.

Setelah kesialan bertubi-tubi, Danny mendapat kesempatan emas. Justru kesempatan itu ia dapatkan di penjara. Dengan memberanikan diri mengambil risiko, dia berhasil bebas—dan kaya. Mulailah saatnya membalas dendam.

***

“Tugasmu membela klienmu sebaik mungkin, bersalah maupun tidak.”—p. 57 
Hal yang menarik dari buku ini bagi saya justru cara bekerja pengacara, jaksa, dan hakim ketika persidangan berlangsung.

Pertarungan Alex Redmayne—pembela Danny dengan Arnold Pearson—jaksa, mewakili kerajaan.

Misalnya, pertanyaan pertama Pearson untuk Beth. Bukannya bertanya “di mana Anda pada tanggal xxx”, atau “apa yang Anda lihat”, atau sejenisnya, ia malah bertanya:

“Miss Wilson, apa sarapan Anda pagi ini?”

Mengejutkan, memang. Seolah tidak terkait dengan kasus. Dan pasti saksi malah jadi bingung. Namun ternyata kaitannya adalah:

“Anda tidak ingat sarapan Anda pagi ini, tapi Anda ingat sekali ucapan yang Anda dengar enam bulan lalu.”

***


Saya mulai hilang kesabaran di halaman 480-an. Aksi pembalasan dendam Danny tidak bisa saya nikmati.


Malah kayak sinetron, pikir saya. Panjang betul dijabarinnya.

Jauh sebelumnya, pada saat pertemuan Danny dengan rekan satu selnya, Nick dan Big Al, saya sudah sempat mengernyit. Nick dan Big Al bisa dikatakan sangat baik kepada Danny. Kelewat baik untuk orang yang baru kenal. Dan saya sependapat dengan Big Al: ngapain Nick sampe ngajarin Danny cara makan di restoran mewah?

*spoiler*
Bahkan, Nick membuat wasiat kalau dia mewariskan seluruh hartanya kepada Danny.
*spoiler end*

Masalahnya, karakter Danny nggak memikat pembaca—saya—seperti dia berhasil memikat Nick, Big Al, dan tokoh lain yang membelanya mati-matian.
Memang, dia berusaha berjuang melawan tuduhan pembunuhan. Bahkan tawaran agar dia mau mengakui saja pembunuhan itu agar hukumannya jauh lebih ringan ditolaknya.

“Kalau kau menerima tawaran itu (mengakui), kau dapat meniti hidup bersama Beth dalam kurun 2 tahun.” 
“Hidup macam apa?”—101

Tapi nggak seistimewa itu karakternya. Bahkan, dia sempat merendahkan orang berdasarkan latar belakang.

Ia [Danny] membayangkan apakah Molly akan seterpesona itu jika tahu bahwa dia baru saja melayani anak tukang parkir di Grimsby Borough Council.—p. 485

Memang kenapa kalau dia anak tukang parkir? -____-“

Tapi, saya jadi ingat jawabannya—kenapa Danny bisa mendapat dua peribahasa tersebut—ketika melihat judul buku ini: Mungkin, itu semua memang konspirasi takdir. [*]



Thursday, 23 June 2016

Mengintip Karya Agatha yang Tertunda--Ulasan Buku Hercule Poirot dan Pesta Pembunuhan


Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Judul: Hercule Poirot dan Pesta Pembunuhan
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustakan Utama
Terbit: 2016
Tebal: 167 halaman
Harga: Rp48.000,00
Cover: soft cover
ISBN: 9786020328973


“Pernahkah Anda merenungkan, Madame, betapa besarnya peran desas-desus dalam hidup ini.”—Hercule Poirot, hal. 133

Ketika melihat-lihat gramedia.com untuk mencari buku terbaru, saya melihat buku ini. Awalnya saya kira ini adalah cetak ulang buku-buku lama Agatha dengan kover terbaru. Tapi, ketika membaca keterangan bahwa buku ini belum pernah diterbitkan, saya menelusuri lebih lanjut. Dan ternyata memang ini adalah bentuk awal dari naskah Agatha yang kemudian berkembang menjadi novel Dead Man’s Folly (Kubur Berkubah).

***

Berkisah tentang pengarang novel detektif, Ariadne Oliver, yang menghubungi Poirot secara tiba-tiba, memintanya datang menemaninya. Rupanya, Mrs. Oliver sedang diminta untuk menyusun teka-teki pembunuhan untuk meramaikan acara yang akan diadakan di rumah Sir George Stubbs yang baru, Greenshore.

Meskipun hanya berdasarkan intuisi Mrs. Oliver, Poirot yang sudah mengenal karakter penulis itu menyanggupi tinggal di sana dan mengawasi agar tidak terjadi pembunuhan sungguhan.

“Kita menyebut sesuatu dengan nama yang berbeda-beda. Menurut pendapatku, Anda tidak tahu apa yang Anda ketahui itu. Anda boleh menyebutnya intuisi kalau mau.”—p. 44

Begitulah, Poirot pun mulai ikut tinggal di rumah itu dan ikut jamuan makan, mempelajari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dia mulai berbincang dengan orang-orang yang ditemuinya. Pemilik rumah, istri pemilik rumah, arsitek muda, sekretaris, pemilik rumah yang lama, dan beberapa warga. Sambil melakukan itu, Poirot berusaha mempelajari penyebab kegundahan hati kawannya, Mrs. Oliver—siapa yang mungkin jadi korban, siapa yang mungkin jadi pelaku, dan apa motifnya—hingga hari pelaksanaan acara pun tiba.

Dan memang kemudian ada korban sungguhan, yang tidak diduga-duga orangnya.

***

Salah satu hal yang menjadi kekuatan Agatha adalah dia fair. Dia akan mengajak pembaca mengenal para tokoh dan memahami situasi yang mereka alami. Termasuk, memunculkan berbagai kecurigaan yang mungkin terjadi dan masuk akal. Di antara hal itu, dia menyelipkan petunjuk. Kemudian, di akhir, dia akan membuka tabir yang membuat pembaca merasa bahwa seharusnya hal itu dapat terlihat dengan jelas.

Untuk penggemar berat Agatha, mungkin sudah bisa menebak pelaku sebenarnya—terutama jika masih ingat buku Kubur Berkubah. Dan karena ini adalah novela, tentu lebih pendek dari novel Agatha biasanya. Beberapa hal yang biasanya dipanjangkan oleh Agatha agar pembaca mengenal lebih dalam tiap karakter tokoh kurang terasa di buku ini.

Namun, bagi yang sudah khatam membaca 80-an karya Agatha dan merindukan sesuatu yang baru, bagi saya, buku ini cukup mumpuni sebagai pengobat rindu pada Poirot. Dibandingkan dengan karya Sophie Hannah yang ingin “menghidupkan” kembali Poirot, saya tentu saja jauh lebih menyukai buku ini. Terutama untuk melengkapi koleksi buku Agatha Christie. 

Selain kisah tersebut, di dalam buku ini juga ada beberapa pengantar: dari Tom Adams, pembuat kover buku-buku Agatha terbitan awal; Mathew Pritchard, cucu Agatha; dan John Curran, penulis Agatha Christie’s Secret Notebooks. Dua orang di awal terkait langsung dengan Agatha, sementara yang disebutkan terakhir mengulik-ulik catatan Agatha, dan menyodorkan sedikit bocoran isinya di buku ini sehingga pembaca bisa melihat cara Agatha membangun cerita, mengembangkan ide, hingga kemudian dieksekusi menjadi naskah ini.

Seperti yang sering dilakukannya ketika menuliskan alur sebuah kisah baru, Christie merancang motif dan latar dan daftar variasi A, B, C, dan D ini sering muncul di sepanjang Notebook.—p. 161

Saya membayangkan, di tengah proses menulis, Agatha pun mengalami perluasan ide. Namun, dia tidak berhenti dan menetapkan pilihan dari banyak pilihan yang terpikir di kepalanya. Ide yang tersisa, saya rasa, akan digunakan pada bukunya yang baru. Itulah kenapa bukunya banyak sekali—dan bahkan itu masih terasa kurang, bagi saya setidaknya.  

***

Menariknya, melalui Ariadne Oliver kita bisa melihat reaksi penulis terhadap beberapa hal yang sensitif—yang bukan tidak mungkin dialami oleh Agatha sendiri dan dibuat curhatan melalui tokohnya ini.

“Jika Anda tahu-menahu soal penulis, Anda akan mengetahui bahwa mereka tak tahan diberi usul. …. Maksudku, kita kan jadi ingin berkata: ‘Baiklah, sana tulis saja sendiri kalau begitu’!”—hal. 45

Atau ketika dia diminta memberi pelatihan menulis. Reaksi Mrs. Oliver sangat menarik, dan mungkin banyak yang diam-diam sepakat dengannya, baik penulis maupun pembaca.

“Tak bisa kubayangkan mengapa semua orang begitu bersemangat meminta para penulis untuk membahas soal cara menulis—seharusnya sudah jelas penulis itu tugasnya menulis, bukan berbicara.”—hal. 129

Sejujurnya, saya ngakak pas baca bagian itu.
Sayang, permainan yang dirancang oleh Mrs. Oliver di cerita ini kurang didetailkan. Saya sendiri tertarik jika benar-benar ada yang mau merancang misteri pembunuhan dengan petunjuk-petunjuk dan korban pura-puranya. Sepertinya akan lebih menarik dari game melalui layar.

***

Kover buku ini menarik. Dengan warna yang cerah tapi tetap berhasil menampilkan kesan suram. Namun, ukuran buku ini tidak sesuai dengan buku Agatha yang lain. Jika yang lain ukurannya lebih kecil seperti ukuran terbitan aslinya, maka buku ini berukuran normal seperti buku di Indonesia pada umumnya (13,5x20cm) sehingga kalau ditumpuk jadi kurang indah. Oke, alasan itu terlalu mengada-ngada. Selain itu, buku ini jadi kurang praktis untuk dibawa-bawa. Dan kenapa judulnya di depan sampai disebutkan dua kali, ya?

Saya masih berharap akan muncul terjemahan karya Agatha yang lain. Misalnya, naskah drama Mousetrap yang terkenal, juga karya-karyanya yang lain ketika ia menggunakan nama samaran Mary Westmacott. 


Sunday, 1 May 2016

Cormoran Strike, Tak Sempurna Tapi Berhasil Memikat Pembaca



Fotonya burem =.=" *banting hape*


Judul: Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo’s Caling)

Penulis: Robert Galbraith(JK Rowling)
Alih Bahasa: Siska Yuanita

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Kedua, Januari 2014

ISBN: 978-602-03-0062-7




Cormoran adalah detektif partikelir yang baru saja diputuskan kekasihnya, Charlotte. Robin adalah gadis muda yang baru pindah dari kota kecil ke London, dan dilamar oleh kekasihnya, Mathew.


Keduanya bertemu karena Robin bekerja sebagai pegawai sementara bagi Cormoran. Temporary Solutions, kalau di sini semacam outsousrcing. Pertemuan yang saya yakin tidak akan mereka dan para pembaca lupakan. 


Pada hari kedatangan Robin, Cormoran yang nyaris jadi gelandangan karena selain didepak Charlotte yang artinya dia tidak punya lagi tempat tinggal, juga sudah terlilit pinjaman dan tunggakan, didatangi klien bernama Bristow. 


Dengan kondisi Strike yang kacau, keduanya bahkan baru berkenalan resmi setelah tragedi pertemuan yang membuat Robn bersemu merah dan klien pertama mereka berdua, Bristow, pulang.



Sempat terlintas di benak Strike untuk bergurau tentang Batman dan rekannya yang terandal, tetapi lelucon garing itu mati di bibirnya saat rona merah terang merebak di wajah Robin.—p. 52

Kasus yang diminta Bristow untuk diselidiki Cormoran adalah kematian adik angkatnya, Lula Landry, seorang supermodel. Lula diduga bunuh diri. Tapi Bristow yakin adiknya tidak mungkin melakukannya. Cormoran sebenarnya sempat pesimis, tapi karena uang yang ditawarkan tidak sedikit, maka dia memberikan jasanya untuk menyelidiki.


Prosesnya memang lambat, tapi justru wajar. Kasus itu sudah lewat 3 bulan, yang bisa dilakukan Cormoran tentu menelusur ingatan orang-orang yang tidak semuanya memiliki ingatan meyakinkan. Belum lagi, tidak semua yang terlibat mau bekerja sama dengan member bantuan bahkan meski hanya berupa percakapan. 


Tapi penyelidikan tetap memiliki kemajuan, beberapa atas bantuan Robin yang diam-diam memiliki ketertarikan dengan pekerjaan Cormoran. Misalnya, ketika mereka melakukan penyelidikan di salah satu butik, Vasthi. Meskipun sebenarnya bahkan untuk membeli ikat pinggang di sana pun mereka tidak mampu, Robin berhasil tampil meyakinkan para pelayan toko kalau mereka berduit.


Selama penyelidikan, ada beberapa tersangka yang dekat, membenci, atau orang asing yang mungkin menjadi pembunuh Lula. Belum lagi kemungkinan jika dia memang bunuh diri.


Dari pihak keluarga, Tony Landry, paman yang tidak dekat dengan Lula.

Duffields, pacar Lula yang cemburuan.

Ciara, supermodel juga.

Guy Some, perancang yang meskipun menyukai sesama laki-laki sangat protektif dengan Luna.

Bretisgui, tetangga flat yang mengejar-ngejar Lula agar main di filmnya.

Rochelle, kawan baik Lula dari kalangan orang biasa.

Belum termasuk Rochelle, salah satu orang yang bertemu Lula pada hari terakhir dia hidup.


Belum lagi sopir yang berharap jadi artis atau penjaga malam yang saat itu sedang diare.


Setelah tiga bulan, Cormoran, dibantu Robin, berusaha menemui orang-orang yang ditemui Lula pada hari kematiannya.



Kebenaran berangsur-angsur muncul dari banyaknya detail yang tidak saling terkait. Yang tidak dia miliki hanyalah bukti.—p. 325


***



Membaca Agatha membuat saya mengerti bahwa kebiasaan seseorang menunjukkan karakter tertentu. Pada tahap ekstrem, melalui Miss Marple, Agatha ingin menunjukkan bahwa bahkan perangai yang mirip menunjukkan karakter yang mirip pula. 


Hal serupa diaplikasikan oleh Holmes dalam menilai karakter orang melalui penampilan. Bahkan, hanya melalui sepatu, bahkan orang itu bisa dinilai dari mana saja.


Tapi, itu dulu.


Saya membayangkan bagaimanakah cara kerja detektif swasta—jika pekerjaan jenis ini memang masih ada—menyelidiki sebuah kasus pembunuhan. Tentu cara kerja polisi sudah lebih canggih. Tentu dengan CCTV di mana-mana dan gadget yang bertaburan, kerja polisi bisa lebih mudah. Maka mungkin para detektif swasta kebagian kerja menyelidiki perselingkuhan saja.


Hal yang terkait dengan kebiasaan dan  karakter tentu tetap berlaku. Manusia tidak banyak berubah ternyata. Tapi, teknologi?


Cormoran menunjukkannya kepada saya. Bagaimana dia menyelidiki kasus ini dari remah-remah sisa penyelidikan polisi yang sudah tiga bulan lalu. Cara mendapatkan berkas lengkap kasus itu dari polisi juga wajar saja. "Tentu saja harus begitu caranya," pikir saya ketika membacanya.
 


Nggak mungkin polisi mau ngasih berkas kasusnya begitu aja, kan?

Mulanya, saya bertanya-tanya, ini peran Robin jelas sebagai Watson bagi Sherlock atau Hastings bagi Poirot. Rekan. Atau, Tuppence bagi Tommy? Tapi, bukankah Robin baru saja dilamar sebelum pertemuannya yang menyakitkan sekaligus menggelikan dengan Cormoran? 


Jangan-jangan, buku ini bakal banyak membahas kisah cinta, nih. Iya, saya berprasangka. Tapi tetap menikmati proses kerja sama antara Cormoran dan Robin. Cara mereka saling menjaga agar tetap profesional meskipun penasaran. Dan seiring berjalannya halaman, semakin menikmati kisah asmara di dalamnya. Dan hingga review ini, masih penasaran dengan nasib Charlotte yang haus drama meninggalkan Strike—saya rasa akan saya temui di buku berikutnya. Juga, nasib Wardle dan Craven, dua polisi yang “bekerja sama” dengan Cormoran.


Kasusnya sendiri cukup menarik. Walaupun memang kalau sudah sering menyantap kisah detektif kalian bisa menebak, tapi proses Cormoran berusaha menyusun ulang kejadian pada hari kejadian tetap menarik bagi saya. Seperti kisah Agatha—saya yakin tulisan Agatha salah satu yang paling mempengaruhi tulisan Rowling di sini. *buset, ngotot* Awalnya, sepertinya ini kasus mudah saja. Namun kemudian, tiba-tiba tidak lagi. Hampir tiap orang menyimpan puzzle kebohongan demi keamanan diri sendiri. Puzzle yang membuat selaput kabut bagi kebenaran. Dan itu yang berusaha disingkap Cormoran dengan tungkainya yang tinggal satu setengah. 


Itu hal lain yang menarik. Tokoh yang tidak sempurna tapi berhasil memikat pembaca. Cormoran memang berbadan besar penuh bulu. Meskipun beberapa perempuan suka dengan tipe begini, Cormoran dibuat tidak sempurna. Dia mencintai Charlotte, dan sebelah kakinya sudah hilang.

Saya berusaha mengimajinasikan Cormoran, tapi gagal. Dan menolak jika dia seperti om-om berkuncir, sebutan saya bagi Steven Seagal. Lalu penasaran visualisasi sutradara untuk pemerannya jika difilmkan.


Tentu saja maksud saya, ketika Om-Om ini masih muda.


Sejauh ini, saya masih tertarik mengikuti petualangan Cormoran. (*)

Tuesday, 29 March 2016

Keping Hidup Ke-19--Ulasan The Bell Jar Karya Sylvia Plath




Judul: The Bell Jar
Penulis: Sylvia Plath
Penerbit: Ufuk Fiction
Cetakan I: Desember 2011



Seorang gadis muda yang berusaha hidup dengan segudang prestasi selama hidupnya, Esther Greenwood, tiba-tiba merasa hampa.
Oke, nggak terlalu tiba-tiba, memang.

Mulanya, dia kira nilai sempurna adalah hal bagus. Berprestasi merupakan hal bagus. Punya cowok calon dokter adalah hal bagus. Hingga dia mulai menyadari bahwa sebenarnya nggak ada yang bagus dari itu semua.

Bermula dari kekecewaannya terhadap kekasihnya, Buddy Willard, yang ternyata tidak selugu pencitraannya. Bagi Esther, Buddy adalah sosok ideal sebagai suami. Apalagi, dia kehilangan ayahnya sejak umur 9 tahun.

Kemudian, dia mulai mempertanyakan segala hal.

Hingga akhirnya, dia malah bimbang. Dia tidak menemukan jawaban akan seperti apa hidupnya nanti. Ada beberapa pilihan, dia bayangkan sebagai cabang pohon ara. Tapi, seiring pertambahan usianya, satu per satu cabang itu luruh. Dia tidak mau jadi ibu rumah tangga, tidak menjadi editor ternama, tidak menjadi stenografi seperti ibunya. Dan akhirnya, dia tidak tau mau jadi apa. Dia tidak menemukan hal menarik untuk beberapa tahun ke depan dalam hidupnya.

Dia hanya bisa melihat keping hidupnya hingga yang ke-19. Setelah itu, kosong. Dia tidak tertarik dengan masa depan. Sehingga kemudian berpikir, lalu apa gunanya melanjutkan hidup. Maka, dia mulai melakukan aksi berhenti. Berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Melepas beasiswa. Berhenti menjaga perasaan Buddy. Dia tidak bisa tidur, sulit makan—karena tidak ada tujuan hidup.

Dia tidur, tapi masih bisa melihat.
Aneh, ya?

Eee, saya pernah. Maksudnya, kita tidur, tapi seakan masih bisa melihat jam di dinding, mendengar langkah kaki orang di luar kamar, dan seterusnya. Intinya, nggak nyenyak. Dan Esther mengalaminya selama berminggu-minggu.

Bisa depresi dia. Dan memang iya, dia depresi.

Lalu, ibunya mulai membawanya ke psikolog. Nah, ini kisah tahun 1960-an—masih ada eksekusi dengan kursi listrik. Jadi, setelah dua kali pertemuan, psikolog menyarankan terapi kejut. Esther tidak mau lagi menjalani terapi itu, dan beberapa kali mencoba bunuh diri.

Tapi, nggak total, sih, nyobanya. Saya rasa, Esther ini memang masih bimbang. Pake silet di bak mandi, gagal. Gantung diri, gagal. Pake pistol, nggak berani, soalnya ada yang nggak langsung mati. Akhirnya, dia memilih salah satu cara dan… nyaris berhasil.

Sepertinya, pada saat itu, mencoba bunuh diri adalah hal yang mengerikan, seakan orang yang melakukan memiliki penyakit lebih menular dan berbahaya dari penyakit apa pun di dunia.

Jadi, dimulailah perjalanan Esther dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa berikutnya.

Tapi, Esther tetap saja merasa sesak, seperti sedang berada dalam bejana kaca.

sumber


Bagaimana caranya agar ia keluar dari bejana itu?

***

Saya rasa, kekuatan sebenarnya di novel ini adalah pada penciptaan suasana—harusnya. Tapi, gagal disajikan—mungkin—dalam terjemahannya. Saya masih bisa mengikuti perasaan Esther, kegelisahan dia yang masih berusia 19 tahun, akan masa depan. Tapi kemudian seperti banyak yang hilang.

Kata tiba-tiba, maksud saya adalah tidak terjelaskan, atau tidak tersampaikan penjelasannya, atau saya yang tidak bisa menangkap penjelasannya. *hadew*

*spoiler dimulai*

Misalnya, munculnya Joan yang tiba-tiba, juga menghilangnya Joan yang tiba-tiba. Kenapa Joan akhirnya memutuskan bunuh diri? Kan dia sudah hampir sembuh?

Dan apa yang sesungguhnya membuat Esther akhirnya merasa bisa keluar dari bejana kaca? Karena dia sudah berhasil masuk ke komunitas orang-orang yang melepas keperawanan?

Nah, saya sempat terpikir, jangan-jangan, ini kisah tentang kegalauan seorang remaja Amerika dulu ketika akan melepas keperawanan. -_-"

*spoiler berakhir*

Demikian pula dengan hal-hal yang dialami Esther. Kegelisahannya di awal, ke-putus-asa-annya hingga sampai memutuskan bunuh diri, dan proses kesembuhannya. Juga, keterkaitan antara kejadian satu dengan yang lain.

Bayangan saya, hal-hal yang diceritakan itu sebenarnya menuntun atau membentuk pola pikir Esther. Tapi kita sering kehilangan ikatan antara hal-hal itu yang membentuk sebab akibat. Sayang sekali hal itu terjadi pada buku yang katanya salah satu novel terbaik ini.

Berbeda dengan Dorian Gray. Saya membandingkannya, karena kedua tokoh ini sama-sama berusia 19 tahun dan sama-sama gelisah—galau istilahnya sekarang. Tapi, pola pikir Dorian masih bisa berterima. Demikian pula dengan pola pikir tokoh-tokoh lain. Sementara di buku ini….


Baiklah, secara sederhana: Saya tidak bisa menikmati kisah dan kegelisahan Esther.



Monday, 14 March 2016

Kotak-Kotak Manusia—Ulasan To Kill A Mockingbird



Dalam novel ini, Scout berkisah tentang kehidupannya di Maycomb, Alabama, bersama kakaknya, Jem, dan sahabatnya, Dill. Kisah sederhana tentang kegiatannya sehari-hari. Tentang tetangga yang aneh, sekolah yang tidak selalu menyenangkan, pertengkaran dengan kawan, dan rasa penasaran yang memang biasanya lebih dominan menempeli anak-anak.

Hidupnya mulai terusik ketika beberapa tetangga dan teman-temannya mengatakan bahwa Atticus, ayahnya, adalah pencinta nigger. Scout tidak begitu mengerti apa artinya, tapi cara mengucapkan orang-orang di sekitarnya seperti mengejek. Jadi, dia tidak terima dan sempat bertengkar karenanya.

Scout dan Jem mulai memahami apa yang terjadi. Ayahnya membela seseorang yang tidak disukai oleh banyak orang. Jadi, ayahnya ikut tidak disukai banyak orang juga. Orang yang dibela Atticus adalah Tom Robinson, seorang kulit hitam. Ia dituduh memerkosa seorang gadis kulit putih. Sepanjang sejarah pengadilan, di Maycomb setidaknya, belum pernah seorang kulit hitam memenangkan persidangan atas seorang kulit putih.

Apakah Atticus, di bawah tekanan banyak pihak, berhasil membawa perubahan?


***

Hanya tuga hal yang akan saya bahas dalam novel yang terlambat saya baca ini.

Pertama, Atticus.

Menurut saya, karakter Atticus yang keras justru mengkhawatirkan. Dia berusaha menjadi ayah dan pengacara yang ideal. Memang, demi kehormatan dan kebenaran, dia bersedia membela Tom sepenuh hati. Saya sempat khawatir karena Atticus manusia yang baik sekali. Mengerikan, ya, orang yang baik malah terlihat mencurigakan. Mungkin, hal itu yang dialami Tom. Dia baik sekali kepada keluarga Ewell. Mampir untuk memperbaiki ini itu, padahal dia sendiri punya anak dua dan pekerjaan, tanpa mengharap apa-apa. Semata-mata hanya karena kasihan kepada anak tertua Ewell yang terlihat sering bekerja sendirian.

Kasihan.

Kata yang kurang ajar.

Di persidangan, ketika Tom menggunakan kata itu, banyak yang terkesiap. Seorang kulit hitam merasa kasihan kepada seorang kulit putih adalah hal yang kurang ajar.

Kasihan memang sebaiknya tidak diungkapkan, apalagi jika tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengubahnya. Karena, kata “kasihan” bisa jadi dianggap simbol kesombongan.

Oke, balik ke Atticus.

Ternyata, di akhir kisah, Atticus yang ingin hidup lurus sebagai contoh teladan bagi anak-anaknya harus kembali dihadapkan pada pilihan yang berat. Di satu sisi, sebagai pengacara, tentu dia ingin menegakkan hukum, setegak kepalanya ketika membela Tom. Di sisi lain, kita tidak boleh membunuh burung mockingbird, karena burung itu tidak mengganggu. Dia justru membantu.

Atticus yang idealis itu pun luruh.

Saya rasa, selain mengenai segala macam rasis yang diangkat oleh Harper Lee, ini adalah hal besar lain yang ingin dia angkat, dan berhasil.

Apa yang bisa mengguncang seseorang yang bertahan memegang prinsip?

Sepertinya jawabannya sederhana: tergantung kepentingannya.



Atticus bisa bertahan ketika dirinya yang diganggu. Dia masih bersikukuh ingin menghukum ketika keluarganya yang bersalah. Tapi ketika menerima kenyataan bahwa orang lain yang bersalah, dan orang itu selama ini tidak pernah mengganggu siapa pun, dia mengalah kepada keputusan sherif kota Maycomb.

Atticus tega menyuruh Jem menghadap Mrs. Dubose selama sebulan dan membacakan cerita sebagai hukuman. Walaupun Jem merusak taman Mrs. Dubose karena nyonya tua itu menghina ayahnya, Atticus tetap menghukum Jem karena tidak sopan. Bahkan, lebih berat dari itu, ketika Jem terancam akan diseret ke pengadilan karena tuduhan yang berat, Atticus siap mengantarnya, meski dia tahu akan berat. Tapi, justru ketika menyangkut orang lain, dan orang itu sudah membantu keluarganya, dia menjadi tidak tega.

Ini kontradiksi yang mungkin akan dibenarkan hampir seluruh pembaca buku ini.

Atticus telah membuat jatuh cinta pembaca dengan keteguhannya memegang prinsip menjadi orang lurus. Tidak hanya lewat kata-kata, Atticus berusaha menunjukkan lewat sikap hidup. Karena jika tidak memberi contoh langsung dan hanya kata-kata, dia merasa tidak pantas menjadi panutan bagi kedua anaknya. (*0*)

“Dia masih teman kita.” “Tapi tadi malam dia ingin menyakitimu.”“Pada dasarnya Mr. Cunningham orang baik. Dia hanya punya titik buta, sama seperti kita semua.”—p.301

“Tetapi membenci Hitler itu boleh?”“Tidak boleh,” katanya, “Kita tidak boleh membenci siapa pun.”—p. 467

Lalu, setelah kita dibuat terpesona dan jatuh cinta oleh sikap hidupnya, Atticus yang keras itu memilih melanggar prinsipnya sendiri.

Tapi, saya yakin, banyak pembaca akan setuju bahwa hal itu diperlukan. Dan justru semakin cinta dengan Atticus. Aneh, kan? Hahai.

Kedua, cara bercerita Scout.

Sudut pandang cerita yang dipilih Harper Lee memang patut diacungi jempol. Kita akan melihat dunia orang-orang di Maycomb dari sudut pandang Scout, lengkap dengan keluguan dan keingintahuannya sebagai anak-anak.

Pada beberapa bagian, untuk beberapa diksi yang sulit seperti karikatur dan hermafrodit, Scout bercerita menurut pendengarannya—dan Jem: karaktertur dan morfodit (p. 137).

Atau, percakapannya dengan Dill mengenai cara mereka untuk memperoleh bayi.

“Scout, kita cari bayi, yuk.”“Di mana?”
Dill mendengar ada orang yang punya perahu dan selalu mendayungnya menuju pulau berkabut tempat dia menyimpan semua bayi; kami bisa memesan satu—
“Itu bohong. Kata Bibi, Tuhan menjatuhkan bayi lewat cerobong asap. Setidaknya, rasanya, itu yang dia bilang.”p. 276

Ini berasa lagi ngupingin langsung anak-anak ini ngomong, lengkap dengan imajinasi dan pola pikir mereka yang masih meraba-raba.

Hal lain adalah perdebatannya dengan Jem ketika membahas mengenai perbedaan kulit putih dan kulit hitam. Mereka berdebat tentang hal yang mereka dengar dari bibi dan ayah mereka. Bahwa kulit putih memang lebih pintar dari kulit hitam, dan perbedaan itu sudah ada sejak leluhur mereka. Mereka masih sama-sama anak-anak, tapi Scout dengan tegas berkata:

“Tidak, Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”—p. 431

Hal ini, seringnya, justru bisa dilihat anak kecil. Bahwa manusia hanya ada satu jenis. Ketika dewasa, sudah banyak peng-kotak-an yang dilakukan. Ada kotak berdasarkan daerah asal. Kotak logat bahasa. Kotak harta yang dimiliki. Kotak jenis pekerjaan orang tua. Kotak warna kulit hanya serpihan kecil saja.



Pemilihan sudut pandang ini dilakukan dengan total oleh Harper Lee, dan memberi banyak keuntungan bagi kisahnya.

Begitulah. Membahas dua hal itu saja sudah banyak menguras pikiran dan tenaga. *eh


Novel ini memang menawarkan banyak hal. Salah satunya, yang pasti dimiliki banyak novel lain pemenang penghargaan, adalah tawaran untuk memikirkan lagi banyak hal yang mungkin terlupakan. 

Oh, yang ketiga....
Apakah ada yang bisa memberi kepastian kepada saya. Apakah Boo itu albino?



Boo Radley
Makasih buat Mas Dion atas rekomendasinya. :D
Lalu, adakah yang bersedia ngasih atau minjemin Go Set A Watchman? *kedip2*
*dilempar DL*


Saturday, 7 November 2015

Jangan Rusak Citra Poirot Lebih dari Ini--Ulasan Novel The Monogram Murders karya Sophie Hannah

Saat mendengar tentang kemungkinan munculnya sebuah buku yang ingin “menghidupkan” kembali Hercule Poirot, saya sudah termasuk golongan yang kontra. Tentu saja saya pun merasa kurang dan ingin kehadiran Poirot lebih banyak lagi. Tapi, bukan berarti diceritakan oleh penulis lain.

Katanya, penulisan ini mendapat izin dari pihak keluarga Agatha. Yah, bagaimanapun prosesnya, buku ini sudah lahir. Dan, saya sudah membacanya.

Saat akan memulai, saya sempat meraba-raba, bagaimana perasaan saya nanti? Apakah bersemangat, kecewa, marah, atau malah jatuh cinta selama membaca dan setelah membaca buku ini?

Jawabannya adalah: kesel.

Kenapa?

Tulisan saya yang kacau selama proses membaca sudah saya rapikan, dan ini poin-poin yang saya ingat.

1. Karakter Poirot
Karakter Poirot yang unik-lah membuat kita eh saya jatuh cinta. Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas Poirot. Terkait membandingkan Poirot punya Agatha dan punya Sophie, begini yang saya temukan.

- Sel-Sel Kelabu
Buku ini justru paling banyak menyebut frasa “sel-sel kelabu” yang terkenal itu. Dan hal ini justru mengurangi rasa spesialnya. Turah-turah, bahasa Jawanya. Mungkin maksudnya agar terasa Poirot-nya. Ish.

- Mata menyala hijau
Ketika menemukan hal menarik atau jawaban dari keping teka-teki, mata Poirot seolah akan menjadi menyala hijau—seperti yang biasanya disebut Hastings.
Dalam novel ini?

"Ooh." Dorcas memiringkan kepala dan menatap Poirot. "Mata Anda berubah aneh dan hijau, Sir."--p.201
..., aku menyadari sesuatu. Mata Poirot berubah semakin hijau.—p. 212

Dan masih ada lagi, cuma saya sudah nggak mau nandain halamannya.
Seperti sel-sel kelabu, penyampaian perubahan mata Poirot ini juga turah-turah.

- Cara Analisis
Saat Jennie masuk ke dalam kafe di mana Poirot minum kopi, Poirot mengira-ngira dari mana Jennie datang, gaya bicaranya, dan sebagainya. Tapi, itu pun dengan bantuan mata jeli Fee Spring. Dan yang berikutnya nggak muncul lagi kecerdasannya ini.

- Kerja Fisik
Poirot malas kalau disuruh “mengendus-endus”. Biarkan mereka yang bekerja, sementara aku berpikir. Gitu biasanya. Jadi, ketika di Hotel Bloxham ditemukan pembunuhan dan Poirot bersibuk, saya sudah berpikir, pasti habis ini Poirot diceritakan nggak mau kerja fisik. Dan itu muncul di bab berikutnya.

Kadang memang Poirot terjun langsung. Tapi..., ini nanti terkait dengan logika cerita, mayat itu ditemukan malam, dan Poirot baru melihat kondisi mayat itu paginya, bersama tuan polisi yang luar biasa, Catchpool. Kalau mendesak, atau tertarik pada kasus tertentu, Poirot memang akan terjun, dan segera.

Lagian, itu mayat tiga dibiarin nunggu pagi, emang polisi ada jam kerjanya, gitu? “Aduh, dah malam. Tunggu besok aja diurusnya. Tim forensik udah bubuk.”
*maafkan saya yang sarkas*

- Cerewet
Ada kalimat Poirot yang menarik.

“Madame, saya tidak akan bertanya apabila menurut saya hal itu tidak penting.”—p. 190

Padahal, biasanya Poirot itu akan menggunakan beberapa taktik untuk memancing omongan. Kadang dia menekan, kadang bertanya langsung, kadang mengajak berbincang hal yang seolah tidak penting. Dan kalimat itu tidak seperti Poirot yang saya kenal—bisa jadi karena kasus ini memang sebenarnya bukan untuk Poirot sama sekali sehingga kehadiran Poirot di sana pun seperti dipaksakan.

Misal, ketika di suatu bagian dalam novel ini, dia dibilang limbung saat bangun dari kursi karena kebanyakan duduk, biasanya itu bukan karena limbung. Bisa jadi dia memancing reaksi orang yang di dekatnya. Atau agar bisa berpura-pura butuh pegangan untuk membuktikan sesuatu. Apakah jika aku menekan tangannya di sebelah sini, dia akan merasa sakit? Jika tidak, berarti dia tidak pernah terluka, dan dia berbohong. *Ini misalnya panjang amat*

- Rapi dan Bersih
Poirot memang kadang sentimental, bersikap manis. Tapi, sampai melepas sarung tangan dan mengukir sebuah bunga di tanah dengan ujung kukunya? Eee..., itu siapa, ya?
Memangnya nggak ada ranting di sekitar sana? Lagian, Poirot memang kadang berbaik hati kepada orang yang jatuh cinta, tapi tidak pada perselingkuhan yang dilakukan dengan penuh kebohongan.

- Perut dan Otak
Tau minuman favorit Poirot yang sering bikin orang bingung? Sirup—itu terjemahan dari novel-novel Agatha, entah diksi aslinya dalam bahasa Inggris. Jadi, ketika di sini Poirot berkutat dengan kopi... sampai pernah dikisahkan dia minum bercangkir-cangkir kopi..., ini siapa woi? Rasanya pengen teriak gitu.
Bagi Poirot, penting apa yang dimasukkannya ke dalam perut. Karena itu akan sangat mempengaruhi bagaimana otaknya bekerja. Lupa kalimat persisnya.

- Kumis yang Dibanggakan
Kok saya nggak nemu kesombongan Poirot tentang betapa hebat kumisnya, atau betapa simetris bentuknya pada kedua sisinya.

Menurut saya, Poirot di sini timbul tenggelam. Beberapa kebiasaannya memang diceritakan Sophie, tapi bukan jiwanya. Seakan dia kadang muncul pada adegan ini, kemudian Poirot lupa ditampilkan dan hadir sebagai detektif entah siapa yang melakukan tugas sebagaimana detektif umumnya.

2. Rekan Poirot yang Lugu Lucu
Catchpool adalah kesalahan lain dalam novel ini.

Awalnya, saya kira tokoh ini untuk menggantikan Hastings, karena dia yang bercerita. Tapi, cara berceritanya buruk. Dan dia pun polisi yang diceritakan kelewat buruk.

Hastings adalah dokter veteran perang, dan pikirannya yang sering lurus-lurus aja justru membantu Poirot. Tapi, Catchpool adalah polisi Scotland Yard, maka saya teringat jangan-jangan dia setara dengan Inspektur Japp.

Tapi, saya salah. Catchpool adalah gabungan gagal antara Hastings dan Japp.

Hastings, seperti saya sebutkan, cenderung lugu. Tapi, pertentangan pikirannya dengan Poirot justru sering jadi lucu. Dan biasanya pembaca akan sepikiran dengan Hastings. Sama penasarannya dengan Hastings. Tapi, Catchpool kan polisi. Seenggaknya, seperti Japp, ada kesombongan atau keinginan untuk mempertahankan kredibilitas statusnya itu, kan?

Japp, meskipun sering minta bantuan Poirot, sering songong. Dengan mengambil tindakan atau keputusan sendiri. Tapi, Catchpool? Oy, ampun.

Dia kayak ditenteng Poirot. Polisi kok malah manut banget. Karakter apaan kali.

Ini beberapa yang saya inget:

Saat melihat mayat, Catchpool malah kabur. Hih! Diceritakan seolah dia punya trauma dengan kondisi mayat tertentu. Ya tapi nggak kabur juga kali. Dan akhirnya, mayat-mayat itu baru diurus keesokan paginya. *turut berdukacita*

Ketika sudah ketahuan kalau tiga mayat itu berasal dari desa yang sama, Catchpool nggaka ada inisiatif untuk ke desa itu dan mulai menyelidiki. Usulan itu malah datang dari Poirot. Dan apa kata si polisi ini...?

“Poirot, kau harus ikut denganku,” kataku agak putus asa. “Aku agak kebingungan dalam kasus Bloxham ini. Aku bergantung padamu.”—p. 108

Kedengarannya seperti anak kecil yang merengek minta ditemenin ke kamar mandi. Kalau nggak inget ini novel pinjeman, mungkin sudah terbanting cantik. *halah*

Dan cara investigasi dia di Desa Great Holling juga nggak banget. Tapi, masih bisa dimungkin-mungkinin, lah.

Dan ketika Poirot membuka tabir rahasia kasus, Catchpool membuka tabir ketidakbergunaannya di depan umum dengan celetukan-celetukannya.
*maafkan, saya sarkas lagi*

Catchpool ini mau dibuat gimana sama Sophie? Tolong, lah. Dia sudah dua tahun di Scotland Yard, dan sudah lima tahun jadi polisi, dan sudah sering menghadapi kematian yang mengenaskan (p.28), terus kenapa lembek begitu? Kalau Catchpool diciptakan cuma buat dijadiin bulan-bulanan biar Poirot keliatan cerdas, saya rasa ini justru penghinaan. Nggak perlu polisi sebodoh Catchpool—dan bagaimana sih dia bisa jadi polisi bagian pembunuhan dengan karakter yang begitu?—untuk menunjukkan kecerdasan Poirot.

3. Orang Inggris yang Sopan
Salah satu hal lain yang sering ditampilkan Agatha dalam buku-bukunya adalah kesopanan orang Inggris dan keterbukaan Poirot. Ini nanti akan bertentangan. Cara Poirot merayu orang Inggris--seperti Hastings--yang merasa perlu menjaga image agar berkata yang sebenarnya merupakan salah satu daya tarik buku-buku Agatha.

Tapi, di buku ini, salah satu pelayan mengungkapkan bahwa dia mendengar percakapan 2 tamu di hotelnya di depan 100 orang lain. Padahal, biasanya pelayan akan mati-matian menjaga lisan dari mengungkapkan perbuatan tidak sopannya, termasuk menguping pembicaraan. Dan di tempat yang lebih privat, Poirot akan meyakinkan bahwa merupakan hal penting baginya untuk jujur, dan hal ini tidak akan merusak citranya sebagai seorang pelayan profesional.
Gitu.

4. Psikologi Korban dan Pelaku
Salah satu yang saya ingat dari buku-buku Agatha adalah bahwa pembunuh itu sombong. Karena itu, pembunuh yang berhasil melakukan perbuatannya sekali akan memiliki kecenderungan untuk melakukannya lagi. Karena mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi: perbuatan mereka nggak akan ketahuan karena mereka cerdas. Di samping itu, ada keinginan untuk mengungkapkan kehebatan mereka. Jadi, mereka nggak mau ketahuan membunuh, tapi ingin diakui sudah melakukan hal yang hebat.
Karena itu, salah satu cara paling efektif adalah mengajak mereka berbicara banyak-banyak. Di antara sekian banyak obrolan, akan ada selipan petunjuk tanpa mereka sengaja.

Sejauh itu karakter pembunuh yang dipelajari Agatha, setekun dia memperhatikan ketepatan penggunaan racun dalam novelnya.
Tapi, karakter penjahat dan korban dalam novel ini nggak menarik. Sudah, gitu aja.

5. Cara Bercerita
Bisa jadi, kesalahan naskah ini berada pada: bagaimana kisah itu diceritakan. Saya tidak tahu, apakah Sophie ingin menjadi Agatha, atau ingin memakai Poirot untuk Catchpool? Yang pasti, kisah ini nggak membuat kita sepenasaran ketika membaca tulisan Agatha. 

6. Logika Cerita
Polisi menuruti Poirot (sudah saya sebutkan sebelumnya).

Mayat ditinggalkan (sudah saya sebutkan sebelumnya).

Penggeledahan
Ada satu bagian, Poirot membawa surat penggeledahan dan seorang polisi untuk memeriksa seorang saksi. Saya mulai lelah sebenernya. Biasanya, Poirot justru unggul karena dia adalah detektif, dia terlepas dari keharusan birokrasi dan dokumen-dokumen. Dia lebih bebas bergerak, dan lebih bisa dipercaya orang sebagai tempat bercerita. Daripada dengan polisi, Poirot akan lebih mudah mengorek keterangan justru karena dia nggak ribet. Dia sering membuka diri sebagai teman cerita demi mendapatkan jalan menuju fakta. Jadi, ketika di sini Poirot malah memilih jalan begitu, saya hanya bisa mengelus dada kucing yang kebetulan lewat.

Belum lagi, memang sebesar apa pengaruh Poirot kok malah dia yang repot geledah-geledah, dan bukan si Cathpool. Oh, iya, waktu itu Cathpool ceritanya lagi melakukan penyelidikan ke desa. Terkait hal ini....

Investigasi
Si Catchpool ngapain rempong sendirian berapa hari di desa, memang dia nggak punya anak buah?

Sekarat
Saat salah satu saksi di desa, Margaret Ernst, diserang dan sekarat, Poirot dan Catchpool diminta segera ke sana. Katanya, Margaret mau ketemu Cathcpool sebelum dia meninggal. Tapi, sampe sana..., mereka malah sempet-sempetnya rumpik ngobrol lama sama dokternya. Saya sudah terlalu lelah untuk berteriak, “Woi, malah pada ngobrol. Katanya orang itu sekarat.”

Logika cerita lain yang mengganjal pikiran saya ada di halaman 191. Ceritanya kan Catchpool masih di desa, jadi Poirot belum tau dong tentang info dari dia. Tapi....

“.... Apakah Anda mengenal inisial PIJ, atau mungkin PJI? Mungkin seseorang dari Grat Holling.”
Wajah Nancy pucat pasi. “Ya,” bisiknya. “Patrick James Ive. Dia Pendeta.”
“Ah! Pendeta ini, dia meninggal dengan tragis, bukan? Istrinya juga?”

Dari mana Poirot tau kalau pendeta itu meninggal dengan tragis?—kan dia detektif hebat—anggeplah begitu, walau Agatha biasanya selalu menjelaskan semua kejanggalan di akhir hingga tidak ada pertanyaan tersisa di otak pembaca. Lalu, dari mana Poirot bisa menebak..., “Istrinya juga?” Dia detektif apa cenayang? *kzl!*

Sudah, itu aja.
Buku ini membenarkan dugaan saya bahwa sebaiknya tulisan ini tidak pernah ditulis, atau diterbitkan. Sophie Hannah sepertinya sudah punya banyak karya dan dia sebenarnya tidak perlu menyeret Poirot untuk menambah eksistensinya.
Kata suami saya, mungkin dia melakukannya karena fans Poirot juga, kayak kamu.

Tapi, nggak gini caranya.

Awal membaca, saya mencoba menetralkan hati dan pikiran. Apalagi, salah satu teman yang selesai membaca buku ini duluan berkata bahwa tokoh-tokoh Agatha khas. Setelah saya jelaskan ini bukan tulisan Agatha, dia baru menyadarinya. Saya pikir, mungkin penulis ini cukup berhasil. Saya harus seneng atau sedih, ya?

Ternyata hasilnya mengecewakan. Sangat mengecewakan. Bukan hanya gagal menghadirkan Poirot kembali, novel ini juga gagal sebagai novel detektif. Saya menghargai kesukaan Sophie, misalnya suka, dengan Poirot dan Agatha, tapi tolong berhentilah menulis tentang Poirot.

Gimana kalo ada orang kayak temen saya yang baru mau mengenal karya Agatha dan justru menemukan buku ini dulu, dan nggak sadar kalo ini bukan buku tulisan Agatha.

Jangan rusak citra Poirot lebih dari ini.

Kalau kamu memang menyukai Poirot, maka berhentilah menulis tentangnya sekarang juga. Kalau kamu tidak menyukainya, apalagi.

*tulisan ini akan segera dirapikan begitu nemu PC dengan koneksi inet yang oke*

Pages