Entri Populer

Showing posts with label gramedia. Show all posts
Showing posts with label gramedia. Show all posts

Friday, 24 February 2017

Peter Nimble dan Karakternya yang Plan-Plin


Tentang Kisah Peter Nimble
Alkisah seorang bayi ditemukan terapung di dekat kapal. Berisi bayi dengan mata buta, tampaknya sudah dimakan oleh burung gagak yang ada di dekatnya. Sejak saat itu, bayi Nimble hidup luntang-luntung. Entah kenapa di kota dekat dermaga itu tidak ada panti asuhan yang layak.
Usia lima tahun, Peter yang sudah terlatih mencuri di pasar bertemu Mr. Seamus. Dan sejak saat itu, ia dilatih-paksa agar menjadi semakin ahli dalam pencurian.
Suatu ketika, Peter bertemu dengan pedagang keliling dan berniat mencuri isi keretanya. Ketika berhasil serentetan gembok yang melindungi kereta, Nimble tidak mengambil tas berisi uang. Ia tertarik pada sebuah kotak kayu kecil di dalam kereta tersebut.
Seperti kita tahu, penciuman dan pendengaran orang buta sangat tajam. Peter bisa mengendus segalanya, namun sesuatu dalam kotak itu benar-benar baru baginya.

Dan ternyata, isi kotak itu membawanya bertualang, menemukan takdirnya yang sejati--kayak disebut di blurb buku ini. 

Kemampuan penciuman Peter terlihat dalam deskripsi berikut:
“Begitu pintu tersebut membentang terbuka di depan hidung Peter, jantungnya berdegup kencang. Ia telah menghabiskan sepuluh tahun mengendus aroma perak, gading, serta batu-batu permata—namun tidak ada satu pun yang menyamai betapa berharganya harta dalam gerobak itu. Sementara si Pedagang Keliling menumpuk pendapatannya, Peter mengaktifkan seluruh indranya, menyerap semua detail gerobak itu: seberapa besar kabinnya, seberapa keras lantainya, dan seberapa banyak harta yang ada di dalam.” (hal. 35)

Tentang Kisah yang Tidak Utuh
Ada beberapa hal yang dapat menarik pembaca dalam sebuah karya. Di antaranya karakter.
Dan sayangnya, karakter Peter Nimble yang ingin digambarkan dengan unik malah jadi bumerang karena penceritaan yang tidak konsisten.
Ketika mengisi materi editing di Kampus Fiksi, saya menekankan pada keutuhan cerita dan logika di dalamnya. Baru kemudian, kalimat dan tanda baca. Karena sesungguhnya, membenahi bagian tersebut tidak terlalu sulit--kecuali jika sudah menyangkut gaya.
Saat ini, pembaca ada yang sangat riwil perkara typo dan tanda baca. Saya setuju. Jika, karya itu memang berharga. Sebuah karya yang sudah utuh dan tidak ada ketimpangan logika, apalagi memiliki gaya bercerita yang khas dan menarik, tentu layak mendapat pertimbangan editing tahap selanjutnya: kalimat demi mempertahankan gaya bahasa penulis dan tanda baca demi mempertajam suasana yang ingin dibangun oleh penulis.
See? Kerja editor semua merebah pada penulis.
Tapi, jika dalam tataran logika masih banyak bolongnya, atau naskah tersebut tidak utuh, maka otomatis fokus editor akan mengarah ke sana terlebih dahulu.
Buku Peter Nimble akan saya jadikan contoh untuk menunjukkan cerita yang tidak utuh. Kali ini, terkait dengan karakter tokoh yang tidak konsisten.

Peter Nimble yang Tidak Kadang-Kadang
Saya baru sampai pada halaman 99 ketika sudah menemukan setidaknya 3 kejanggalan berikut.

Tentang Kotak 
Dengan satu jari, Peter meraba pinggiran kotak itu. Perasaannya campur aduk, antara ingin dan takut. Dulu ia hanya berharap kotak itu berisi uang. Ternyata ia menemukan harta yang jauh melampaui bayangannya—…. (hal. 85)

Sampai pada bagian tersebut, yang terbentang di benak saya adalah: “Dulu? Bukannya dari awal sudah tau kemungkinan itu bukan uang?” Lalu saya membuka beberapa lembar ke belakang demi membuktikan—saya kadang nyolot duluan, padahal tertipu oleh ingatan—kebenaran ingatan saya. Dan ketemu.

Namun ada hal lain yang menarik perhatiannya. …, tangannya mengenai kotak kayu kecil yang polos, …. Peter menyentuh lubang kunci itu dan seluruh tubuhnya serasa bergetar. Ia tahu aroma benda inilah yang ia hirup sebelumnya (lihat kutipan di atas—hal. 35—mengenai aroma yang Peter hirup ini), sesuatu yang jauh lebih langka dari seluruh harta benda yang mengelilinginya. ….
Peter ragu. …. Itu berarti ia harus memilih. Tas penuh harta atau kotak penuh… misteri.
(hal. 37)

Begitu. Peter Nimble yang bisa mengetahui besaran uang hanya dari denting jatuhnya saja (kayak Poor Prince itu, lho), menelan kalimatnya sendiri. Ia sudah mendapat firasat atau insting, bahwa sesuatu dalam kotak itu berbeda. Ia memilih kotak kayu kecil ketimbang tas penuh uang. Bahkan, digambarkan “koin-koin meluap dari tas itu—ada cukup banyak uang untuk memuaskan Mr. Seamus selama sebulan.”
Itu kan deskripsi yang uwow banget. Dan Nimble milih mengabaikan tas itu dan menjulurkan tangan meraih kotak kayu kecil beraroma misteri. Terus kenapa harus ada kalimat di halaman 85 itu? -_-“
Kalaupun mau dibuat berbeda seputaran harta, sebajiknyalah jika di halaman 85 narator memberi tahu bahwa dulu Peter Nimble berharap is kotak itu lebih berharga dari uang—katakanlah emas permata atau batu berharga lainnya.

Benda Bundar
Setelah menolong zebra yang sedang dikerjai sekelompok preman jalanan, Nimble tahu bahwa isi kotak itu adalah bola mata. Kemudian, deskripsi yang muncul adalah….

Mata pertama dibentuk dari serbuk emas yang sangat halus. Mata kedua dari onyx hitam yang mulus. Sementara mata terakhir dari zamrud asli—permata paling murni yang pernah ia sentuh. (hal. 54)

Saya bertanya-tanya… kenapaaa… deskripsi ini tidak digambarkan di awal ketika Nimble memecahkan cangkang yang berisi bola mata-bola mata tersebut. Tentu maksud saya bukan Nimble seharusnya sudah tahu benda bulat itu adalah bola mata, tetapi bahannya.
Berikut deskripsi yang disodorkan pada awal pertemuan Nimble dan enam bola misterius tersebut.
Namun keenam isi telur ini tidak memiliki punggung, tidak punya huruf timbul, dan tidak punya tanda-tanda apa pun yang bisa membantu Peter menebak apa mereka. (hal. 42)

            Saat jumpa kita pertama, kusudah jatuh cinta Nimble dan enam isi telur tersebut, ia tidak merasakan tanda-tanda apa pun yang bisa membantunya. Setidaknya, bukankah setidaknya ia akan dapat memberikan deskripsi mengenai bahannya. Misal, ia tahu benda-benda itu dibuat dari bahan spesial, emas, onyx, dan zamrud, tapi bukan bola biasa. Dan kenapa ada orang yang mau membuat emas dalam bentuk bundar seperti ini… atau sejenisnya. Kesan pertama begitu menggoda harusnya Nimble lebih membuat kesan. Jadi, pembaca nggak berasa dapet info dadakan setelah sebelumnya hanya disebut enam isi telur. Saya—setidaknya—hanya membayangkan enam benda bundar. Selesai.
Bahkan, Peter sempat mencoba memakannya karena mengira itu telur sungguhan.
Sambil menjilat bibir, Peter memecahkan satu telur dan membiarkan isinya meluncur ke kerongkongannya.
Kerongkongan Peter tercekat karena ada benda bundar dan keras. Ada yang salah. Peter terbatuk-batuk dan memuntahkan benda itu ke cangkang telur. Ini bukan kuning telur biasa. (hal. 41)

Jadi, bagaimana bisa, saat pertemuan pertama, Peter bahkan tidak bisa membedakan telur sesungguhnya dengan benda padat yang mirip telur dari beratnya. Dan pada saat pertemuan kedua dan seterusnya, ia bisa menebak, mana pasangan mata emas, onyx, dan mana yang zamrud—yang saya duga dari beratnya.  -_-“

Terbangun Ketika Orang-Orang Tidur

Selanjutnya, ketika sampai pada bagian di bawah ini, saya tertegun.

…lebih dari sekali ia (Peter) membayangkan nikmatnya terbangun saat seisi kota tertidur lelap. (hal. 69)

Karena oh karena… bukankah memang kerjaan Nimble itu mencuri, ya? Dan sebelumnya ada penjelasan kalau dia didepak keluar untuk mencuri di malam hari. Demi meyakinkan diri, saya lagi-lagi merunut ke belakang. Dan. Ketemu.

Setiap malam, Mr. Seamus mengirim Peter ke kota untuk mencuri. (hal. 23) 
…setiap matahari terbenam, ia (Peter) akan kembali terbangun … dan ditendang keluar untuk menjalani malam dengan mencuri barang…. (hal. 24)

Saya rasa, ia sering terbangun saat seisi kota tertidur lelap. Atau maksudnya benar-benar tidak ada orang lain selain dirinya ketika ia berkeliaran?
Menurut saya, itu mengganggu. Entah jika dalam naskah aslinya ada diksi berbeda sehingga terjadi pergeseran makna.

Sebagian orang sibuk berkutat dengan kata baku-tak baku, typo, keliru tanda baca, hingga kalimat minor yang masih diperdebatkan apakah bisa disebut sebagai kalimat atau tidak. Seakan lupa, ruh fiksi ada dalam kisah yang disajikan. Bagaimana jika ada orang-orang yang ingin menyajikannya dalam bentuk tipografi macam puisi tapi tetap ingin disebut fiksi? Ya tidak apa-apa. Selama memenuhi batas unsur-unsur suatu karya dapat disebut prosa, tidak masalah menurut saya. Toh sudah banyak yang melakukannya.
Karena itulah, menurut saya, yang utama dari sebuah karya adalah keutuhan dan logika cerita di dalamnya.
Sekarang, saya sudah selesai membaca. Dan, ya, cukup menarik. Masih ada beberapa hal mengganjal, misal sering dikatakan Peter membuka gembok dengan tangan kosong (hal. 22). Saya masih tidak bisa membayangkan. Tapi baiklah, anggap saja gembok di sana berbeda dengan yang biasa saya temukan, misal gembok telepon rumah yang dulu saya akalin pake semacam lidi. Ngahahahahh…. Karena, kata-katanya adalah “membuka” dan bukan “mematahkan”.
Hal lain, ketika Peter berhadapan dengan isi kereta Peagang Keliling, dan kantong barang curiannya hanya punya tempat untuk satu barang, kenapa dia tidak menuang saja sayur-sayur lembap yang ia curi sebelumnya untuk membawa baik kotak misteri maupun tas berisi uang itu? Kan setelah itu mereka bisa membeli sayur mayur yang lebih layak—oke, bukan mereka, Mr. Seamus aja. Tapi bisa aja karena Peter yang dasarnya baik hati nggak kepikiran kayak saya.
Atau kenapa Peter yang masih bayi sampai menyusu pada kucing, padahal keberadaannya diketahui oleh seisi kota, bahkan ia diberi nama oleh hakim dan para aparat pemerintah (hal. 18). Kota macam apa tempat Peter tinggal itu? Dan hal-hal lain, yang masih bisa saya jawab dengan… “ya, mungkin…” versi diri sendiri.
Untuk karya perdana, karya Jonathan Auxier ini lumayan. Entah kalau semua hal yang saya paparkan terkait dengan penerjemahan. Seandainya, beberapa “bolong” tadi diperbaiki sebelum buku ini diluncurkan, alangkah baiknya. 


Tuesday, 20 September 2016

Tips Buat Kamu yang Mau ke Gudang Gramedia di Tajem, Yogyakarta

Baru-baru ini beredar informasi seputar buku murah di gudang Gramedia yang berlokasi di Tajem, Yogyakarta. Sebenarnya, buku murah ini sudah berlangsung selama setahun, lho. Cuma, dulu harganya memang masih kisaran 5.000-40.000. Dan kondisi gudang ramai, tapi masih bisa dimaklumi. Lalu tetiba September ini Gramedia benar-benar berniat mencuci gudang. Jadi, semua buku di dalamnya sebaiknya dikeluarkan.

Kemudian datanglah pengumuman itu: Semua buku dipukul rata, lima ribu saja.

Besar, sedang, bagus, lecek, pokoknya yang ada di Gudang silakan pilih dan bawa ke kasir. Dan itu artinya perjuangan. (҂'́)9

Karena oh karena pesona harga 5.000 per eksemplar memang aduhai, maka mulai berdatanganlah massa yang tak terduga. Beberapa kawan mulanya bertanya kepastiannya kepada saya. "Itu beneran apa hoax?"

Well, itu beneran. Dan bahkan yang nggak suka baca pun bakal tertarik dengan harga segitu.

Pengumuman setahun lalu hanya beda di: harga 5.000 s.d. 40.000, tapi gambar sudah tidak saya simpan.


Kalau kamu salah satu orang yang berminat datang ke gudang itu, berikut tips dan trik biar hunting buku kamu di sana sukses.

Langkah-Langkah Memasuki Gudang Gramedia


1.  Parkir kendaraan


Foto diambil pas gudang rame-ramenya. Bahkan gerbang lapis pertama dikerubuti orang-orang. Saya nggak jadi masuk waktu itu, bablas mamam baso. 


Parkiran motor gudang berlokasi di seberangnya. Pastikan kamu lihat kanan-kiri sebelum menyeberang dari tempat parkir. Lain hal kalau kamu pakai jasa Gojek atau Taksi.

2.  Memasuki Gerbang lapis pertama (Iya, gerbangnya dua lapis)



Ini titik lokasi pameran pertama, di halaman, tempat parkiran motor para pegawai. 


Seperti bisa dilihat di foto, jam kunjung (emang besuk orang sakit) dibagi menjadi tiga sesi.

Sesi 1: 09.00 – 10.30
Sesi 2: 11.00 – 13.30
Sesi 3: 14.00 – 15.30

Selama berada di antara gerbang lapis pertama dan kedua, kamu bisa lihat-lihat pengumuman yang tertempel di pos satpam, atau mengintip kondisi gudang dari dinding pembatas, atau melihat-lihat sekitar, sukur-sukur berani mengajak berbincang orang-orang, mana tau dapet gebetan.

3.  Memasuki Gerbang Lapis Kedua


Orang-orang pengunjung pertama yang langsung memasuki gerbang lapis pertama dan menunggu di depan gerbang lapis kedua, jam 07. 30. Jam sembilan, bagian sini sudah padat. dan gerbang pertama sudah ditutup. 


Bagi kloter pertama, biasanya tidak ada nomor antrean. Semua pengunjung sesi pertama, jika tidak terlalu membludak, akan dipersilakan masuk. Sesi kedua dan ketiga diberikan nomor antrean. Jika di dalam keluar dua orang, yang berhak masuk dua orang; jika yang keluar hanya satu orang, yang boleh masuk berikutnya hanya satu orang. Hal ini demi menghindari kesesakan di dalam gudang.

Perlu diperhatikan, meskipun kamu datang jam lima pagi dan menggelar tikar di depan gerbang gudang, gerbang lapis kedua akan tetap dibuka jam sembilan.

4. Start Hunting
Lokasi di dalam gedung Gramedia ada tiga titik: luar, lantai satu, dan lantai dua. Sebaiknya, sebelum masuk pastikan kamu tau hendak menuju ke titik mana. Ingat, waktumu dibatasi. Dan setelah pertempuran mencari dan membawa buku yang kamu mau masih ada perjuangan antre yang seakan tiada habisnya~~

Di luar


Lantai 2



Tips: Bawa kantungmu sendiri. Beberapa mengambil plastik yang ditemukan dalam perjalanan dari parkiran ke gudang. Tapi sebaiknya bawa sendiri. Dan jangan cuma satu. Ada juga yang bawa karung (beneran), dan menurut saya itu efektif.

Untuk diingat: Sekalap-kalapnya kamu mencari di antara buku-buku yang menggiurkan itu, usahakan jangan menginjak-injak buku, pleaseee….




5.  Saatnya menghitung hasil Buruan
Sebelum ke kasir, pastikan kamu melihat kondisi sekitar. Ada jalur khusus untuk partai besar. Kalau pembelianmu banyak, sebaiknya belanjaanmu disortir dulu oleh tim Gramedia agar lebih praktis. Nanti, kamu cukup bawa catatan dari petugas dan nggak perlu menggeret-geret belanjaanmu yang tak hingga itu sepanjang jalan antrean.

hop, hop... berkardus-kardus dan berkarung-karung orang beli buku~~~


Itu tulisannya yang pake kardus: Partai Besar.


Cukup bawa kertas ini ke kasir.


Kalau nggak pake kertas itu, barang-barangmu tetep dipilah-pilah sama kasir, dikelompokkan, yang artinya bikin antrean makin berasa panjang, terutama bagi yang di belakang....
Kardus yang ikut dibawa antre, dan mulai kosong. Di antara sesaknya antre bayar, di bawah terik mentari~~~


Tips: Bawa uang cash. Selain lebih cepat, ada kasir yang tidak menerima kartu.

6.  Bawa pulang hasil kekalapanmu
Pastikan kamu menerima struk pembayaran dari kasir. Ada troli yang bisa kamu gunakan untuk membawa barang-barang besar. Jangan malu bertanya, tapi yang sopan. Kamu jelas lelah, tapi panitia juga pasti lelah.

Antre~~~


Ada troli yang bisa bantu angkut barang-barangmu sampe gerbang depan.


Nah, itu dia.
Sekarang, hal-hal yang ketje dan yang nggak banget yang bisa kamu lakukan selama di gudang.

Ketje kalo kamu…


1. Sarapan, lalu bawa makanan dan minuman; karena kalau tidak, bisa-bisa kamu pingsan atau dehidrasi.

2. Antre yang rapi. Waktu di sana, saya melihat kakek-kakek yang hanya membawa dua buku untuk dibeli tapi harus antre hampir dua jam. Saya sudah sampaikan saran ke pihak gudang agar pembeli dikelompokkan berdasar sedikit banyaknya pembeli, beberapa kawan lain menyarankan agar pembeli yang sudah tua, sedang hamil, atau difabel diberi jalur sendiri. Semoga disegerakan.

3. Pilih dan pilah buku. Sebelum ke kasir, banyak pembeli yang ngaso, beristirahat setelah perjuangan umpek-umpekan di dalem. Sambil istirahat, kamu bisa pilah-pilah buku yang ternyata terbawa karena nafsu semata. Kembalikan ke dalam, ya.

Nggak Banget itu kalo kamu…


1. Marah-marah karena lelah. Hel-low, semua lelah. Saling pengertian aja, lah.

2. Mengusik kardus hasil buruan orang lain. Di atas, di dekat tangga di titik lantai 2, biasanya ada kardus. Sekilas, kelihatannya itu masih milik umum, tapi hati-hati, bisa-bisa itu sudah ada yang punya. Kalau kamu mau pakai teknik mengamankan belanjaan sebelum hunting lagi, ada baiknya bawa label nama dan lakban. Beri nama kardus atau plastik bukumu. Jadi jika ada yang mengusik, jelas niatnya nggak baik. Kalau kamu telanjur melakukannya dan orang yang punya datang dan marah-marah, berbesar hatilah. Minta maaf, bilang bahwa kamu tidak tahu itu sudah ada yang punya dan kamu nggak berniat nikung belanjaannya…. Jelaskan bahwa gebetan kawan aja nggak pernah kamu tikung apalagi belanjaan orang. *ah elah*

3. Menginjak buku. Walaupun harganya “cuma” lima ribu, buku tetaplah buku. Hargailah. Mungkin bagimu buku itu tidak berarti, tapi siapa tau itu yang dicari-cari orang di belakangmu selama ini. Walaupun waktumu dibatasi, sempatkanlah menyingkirkannya ke pinggir.

4. Menyerobot antrean. Hari gini masih nyerobot? Seriusan? Capek? Sama…. Semua capek. Kakek-kakek yang saya ceritain tadi aja berusaha bertahan sekuat tenaga, lho. Apalagi darah muda seperti kamu, masih berapi-api, kan~~~ *therlalu*







Sekian pantauan saya dari lokasi. Semoga membantu.
Oh, iya, nggak semua bukunya 5.000, lho. Yang komik 5.000 dapet 2. (˘ ˘з)-

Gudang Tajem masih buka sampai 30 September 2016; atau jika bukunya keburu habis, mungkin.
Buka setiap hari, Senin-Minggu, jam 09.00-16.00.
Selamat berburu, buku.

Tetap jaga diri dan situasi terkondisikan. Jangan sampai gara-gara buku murah membuat kelakuan kita sebagai manusia jadi murahan. 
Salam syahdudududu~~~~

(づ ̄ ³)~

Wednesday, 24 August 2016

Kesetiaan Mr. X [Ulasan dan Giveaway]




Judul: Kesetiaan Mr. X
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia
Tebal: 320 halaman
Tahun Terbit: 2016



Ishigami guru SMA biasa. Dengan perawakan nyaris bulat dan mata sipit, ia tidak bisa dibilang menarik. Tapi, dia merasa tertarik dengan tetangganya, janda beranak satu bernama Yasuko. Agar dapat melihat Yasuko, Ishigami selalu membeli bento di tempat wanita itu bekerja. Selama ini begitu saja, dan Ishigami sudah bahagia.

Suatu ketika, Yasuko kedatangan Togashi, mantan suaminya yang masih menempelinya demi memperoleh uang. Pindah tempat beberapa kali, Yasuko dan putrinya, Misato, tetap berhasil ditemukan Togashi. Tak tahan lagi, terjadilah peristiwa itu.
Dan Ishigami muncul, menawarkan bantuan untuk membebaskan Yasuko dan Misato dari belitan perkara pembunuhan.

Yasuko pun teringat cerita Sayoko, guru matematika ini sepertinya tertarik padanya …. Andai tidak mendengar cerita ini sebelumnya, yasuko pasti akan meragukan nyali Ishigami.—p. 39

Yasuko dan Misato cukup mengikuti instruksi Ishigami. Dan sejauh ini tampaknya berhasil. Alibi ibu dan anak itu memang meragukan, tapi mereka juga tidak berubah status dari “tersangka”. Polisi tidak berhasil menemukan bukti yang bisa membuat mereka ditangkap tapi juga tidak ingin melepaskan perhatian dari keduanya.

Hingga kemudian muncul Yukawa. Bisa dibilang, Yukawa adalah teman Ishigami. Keduanya sama-sama genius, tapi beda bidang. Yukawa fisika dan Ishigami matematika. Keduanya mencintai masing-masing bidang, tapi seperti yang kita semua tahu: cinta saja sering tidak cukup.

Mereka hanya ingin meneliti kajian kesukaan masing-masing tanpa perlu direpotkan oleh hal lain. Tapi kenyataannya, keinginan itu berbenturan dengan berbagai kepentingan dalam kehidupan, dan mereka berusaha menghadapinya dengan cara sendiri-sendiri.

Terdesak oleh perubahan drastis dalam kehidupannya, Ishigami memilih menukar semua kemampuan yang seharusnya bisa membawanya menjadi dosen demi makanan.—p. 97

Yukawa adalah kawan dengan kemampuan berpikir yang sepadan dengan Ishigami. Tapi, itu juga berarti Yukawa adalah lawan yang berat. Begitu mengetahui polisi yang bertugas mengungkap pembunuhan Togashi sering berbincang dengan Yukawa, Ishigashi bisa menerka bahwa soal yang dibuatnya untuk polisi bisa jadi dipecahkan oleh Yukawa.

Belum lagi, ada kehadiran Kudo yang jelas-jelas terlihat tertarik dan berhasil menarik perhatian Yusako. Apakah Ishigami merelakan Yusako dengan laki-laki lain setelah semua yang dia lakukan, atau dia akan melakukan tindakan lain yang lebih mengejutkan?

Pertanyaan terbesar adalah:
Bagaimana Ishigami memindahkan mayat Togashi dari apartemen mereka ke pinggir sungai yang berjarak puluhan kilometer?
Tanpa mobil.
Tanpa menarik perhatian banyak orang?


Ketika berhasil mengetahui semuanya, Yukawa hanya berkata, 
“Begitu…”, lalu menundukkan kepala dan terdiam. 

Terlalu terkejut untuk berkata-kata. Saya juga. 


Ketika sebagai pembaca mengetahui apa yang dilakukan Ishigami untuk menyingkirkan mayat itu, saya juga ingin berkata seperti Yukawa:

"Anda tidak tahu apa-apa tentang dirinya: betapa dia mencintai Anda dan tentang kerelaannya mengorbankan seluruh kehidupannya demi Anda."

***

Meski berisi pembunuhan, bagi saya, dasar kisah dalam buku ini adalah cinta.
Salah satu jenis cinta yang tak terduga. 


"Kadang demi menolong seseorang, yang harus kita lakukan hanyalah hadir di tempat itu."

***

Matematika dan Gunanya dalam Kehidupan Nyata

Semasa sekolah, salah seorang kawan pernah bertanya kepada guru matematika kami. Kira-kira begini:

“Untuk apa mempelajari rumus-rumus ini, Bu? Toh nggak bisa digunakan di kehidupan nyata.”

Saya tersentak karena keberaniannya bertanya.
Guru saya tersentak—mungkin karena tak pernah terbayangkan salah satu muridnya mengajukan pertanyaan seperti itu.

Di buku ini, Ishigami juga mendapatkan pertanyaan serupa:

“Apa sih gunanya hitungan diferensial dan integral? Buang-buang waktu saja!”—p. 129

“Untuk apa seseorang belajar matematika?”—p. 130

Dan ya, seperti kata Ishigami.
“Sayangnya, sedikit sekali guru yang bersedia menjawab pertanyaan sederhana itu. Tidak, mungkin justru karena mereka tidak bisa menjawabnya.”—p. 220

Guru saya tidak menjawab. Entah tidak mau atau tidak bisa.
Tapi di buku ini, Ishigami memberikan jawaban menarik kepada muridnya.

Kalau penasaran dengan jawaban Ishikawa, temukan dan baca buku ini. (づ ̄ ³)~

Atau, coba ikut giveaway.


***

Saatnya Giveaway… \('')/




Akan ada satu buku Kesetiaan Mr. X buat kamu.
Syaratnya:
1.  Pastikan kamu berdomisili di Indonesia.
2. Follow akun twitter saya (nggak harus) dan akun Gramedia.
3. Share link giveaway ini melalui media sosial kalian (nggak harus twitter) dengan hashtag #MrXBlogTour.
4. Jawab pertanyaan berikut:

Menurut kalian, untuk apa seseorang belajar rumus-rumus rumit matematika—selain tambah-kurang-kali-bagi?

5. Tulis nama, link share, alamat email, dan jawaban di kolom komentar.
6. Jawaban paling menarik yang terpilih akan jadi pemenang.
7. Giveaway ini hanya berlangsung 2 hari aja: 24 Agustus 2016-25Agustus 2016. Pengumuman pemenang serentak pada tanggal 29 Agustus 2016 bersama host yang lain.

Nah, semoga beruntung. (ʃƪ)


Thursday, 11 August 2016

Dua Peribahasa bagi Seorang Tersangka Pembunuhan

Ulasan Novel Konspirasi Takdir Karya Jeffrey Archer





Judul: Konspirasi Takdir [A Prisoner of Birth]
Penulis: Jeffrey Archer
Penerbit: Gramedia, 2008
Halaman: 616

Bagai Jatuh Tertimba Tangga

Tangga besi pula.

Mungkin itu peribahasa yang cocok menggambarkan kondisi Danny Cartwright (iya, nama keluarganya mirip Rianti, artis Indonesia yang mirip saya). Suatu hari, dia melamar pacarnya, Beth Wilson. Kemudian, dia, Beth, dan Bernie Wilson—kakak Beth, mengadakan semacam perayaan atas lamaran itu di Dunlop Arms—semacam kedai tempat minum.

Nahas, pengunjung lain di sana, empat orang laki-laki, mulai resek. Awalnya, salah satu dari mereka ngasih celetukan merendahkan. Karena tidak ditanggapi, celetukan itu semakin menjadi. Pancingan berhasil. Mereka berkelahi. Ketika pertengkaran sepertinya sudah akan dimenangkan tunangan dan kakaknya, Beth memanggil taksi. Hanya beberapa menit dia pergi. Tapi, yang dibutuhkan Beth kemudian ternyata bukan lagi taksi, melainkan ambulans.

Bernie tidak selamat selama di perjalanan menuju rumah sakit. Beberapa tusukan di tubuhnya membuat ia kehabisan terlalu banyak darah. Dan yang menjadi tersangka adalah Danny.
Danny dan Beth tidak menyangka, keempat orang yang ada di Dunlop Arms malam itu adalah orang-orang dengan posisi terhormat di masyarakat: pengacara, aktor, aristrokat, dan rekanan perusahaan terkemuka. Sementara Danny hanya karyawan bengkel. Dan satu-satunya saksi yang menguatkan dia adalah tunangannya, yang mungkin membelanya berdasarkan cinta.

Kepada siapa memangnya juri akan memihak?

***

Bagai Mendapat Durian Runtuh

Durian montong pula.

Setelah kesialan bertubi-tubi, Danny mendapat kesempatan emas. Justru kesempatan itu ia dapatkan di penjara. Dengan memberanikan diri mengambil risiko, dia berhasil bebas—dan kaya. Mulailah saatnya membalas dendam.

***

“Tugasmu membela klienmu sebaik mungkin, bersalah maupun tidak.”—p. 57 
Hal yang menarik dari buku ini bagi saya justru cara bekerja pengacara, jaksa, dan hakim ketika persidangan berlangsung.

Pertarungan Alex Redmayne—pembela Danny dengan Arnold Pearson—jaksa, mewakili kerajaan.

Misalnya, pertanyaan pertama Pearson untuk Beth. Bukannya bertanya “di mana Anda pada tanggal xxx”, atau “apa yang Anda lihat”, atau sejenisnya, ia malah bertanya:

“Miss Wilson, apa sarapan Anda pagi ini?”

Mengejutkan, memang. Seolah tidak terkait dengan kasus. Dan pasti saksi malah jadi bingung. Namun ternyata kaitannya adalah:

“Anda tidak ingat sarapan Anda pagi ini, tapi Anda ingat sekali ucapan yang Anda dengar enam bulan lalu.”

***


Saya mulai hilang kesabaran di halaman 480-an. Aksi pembalasan dendam Danny tidak bisa saya nikmati.


Malah kayak sinetron, pikir saya. Panjang betul dijabarinnya.

Jauh sebelumnya, pada saat pertemuan Danny dengan rekan satu selnya, Nick dan Big Al, saya sudah sempat mengernyit. Nick dan Big Al bisa dikatakan sangat baik kepada Danny. Kelewat baik untuk orang yang baru kenal. Dan saya sependapat dengan Big Al: ngapain Nick sampe ngajarin Danny cara makan di restoran mewah?

*spoiler*
Bahkan, Nick membuat wasiat kalau dia mewariskan seluruh hartanya kepada Danny.
*spoiler end*

Masalahnya, karakter Danny nggak memikat pembaca—saya—seperti dia berhasil memikat Nick, Big Al, dan tokoh lain yang membelanya mati-matian.
Memang, dia berusaha berjuang melawan tuduhan pembunuhan. Bahkan tawaran agar dia mau mengakui saja pembunuhan itu agar hukumannya jauh lebih ringan ditolaknya.

“Kalau kau menerima tawaran itu (mengakui), kau dapat meniti hidup bersama Beth dalam kurun 2 tahun.” 
“Hidup macam apa?”—101

Tapi nggak seistimewa itu karakternya. Bahkan, dia sempat merendahkan orang berdasarkan latar belakang.

Ia [Danny] membayangkan apakah Molly akan seterpesona itu jika tahu bahwa dia baru saja melayani anak tukang parkir di Grimsby Borough Council.—p. 485

Memang kenapa kalau dia anak tukang parkir? -____-“

Tapi, saya jadi ingat jawabannya—kenapa Danny bisa mendapat dua peribahasa tersebut—ketika melihat judul buku ini: Mungkin, itu semua memang konspirasi takdir. [*]



Thursday, 23 June 2016

Mengintip Karya Agatha yang Tertunda--Ulasan Buku Hercule Poirot dan Pesta Pembunuhan


Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Judul: Hercule Poirot dan Pesta Pembunuhan
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustakan Utama
Terbit: 2016
Tebal: 167 halaman
Harga: Rp48.000,00
Cover: soft cover
ISBN: 9786020328973


“Pernahkah Anda merenungkan, Madame, betapa besarnya peran desas-desus dalam hidup ini.”—Hercule Poirot, hal. 133

Ketika melihat-lihat gramedia.com untuk mencari buku terbaru, saya melihat buku ini. Awalnya saya kira ini adalah cetak ulang buku-buku lama Agatha dengan kover terbaru. Tapi, ketika membaca keterangan bahwa buku ini belum pernah diterbitkan, saya menelusuri lebih lanjut. Dan ternyata memang ini adalah bentuk awal dari naskah Agatha yang kemudian berkembang menjadi novel Dead Man’s Folly (Kubur Berkubah).

***

Berkisah tentang pengarang novel detektif, Ariadne Oliver, yang menghubungi Poirot secara tiba-tiba, memintanya datang menemaninya. Rupanya, Mrs. Oliver sedang diminta untuk menyusun teka-teki pembunuhan untuk meramaikan acara yang akan diadakan di rumah Sir George Stubbs yang baru, Greenshore.

Meskipun hanya berdasarkan intuisi Mrs. Oliver, Poirot yang sudah mengenal karakter penulis itu menyanggupi tinggal di sana dan mengawasi agar tidak terjadi pembunuhan sungguhan.

“Kita menyebut sesuatu dengan nama yang berbeda-beda. Menurut pendapatku, Anda tidak tahu apa yang Anda ketahui itu. Anda boleh menyebutnya intuisi kalau mau.”—p. 44

Begitulah, Poirot pun mulai ikut tinggal di rumah itu dan ikut jamuan makan, mempelajari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dia mulai berbincang dengan orang-orang yang ditemuinya. Pemilik rumah, istri pemilik rumah, arsitek muda, sekretaris, pemilik rumah yang lama, dan beberapa warga. Sambil melakukan itu, Poirot berusaha mempelajari penyebab kegundahan hati kawannya, Mrs. Oliver—siapa yang mungkin jadi korban, siapa yang mungkin jadi pelaku, dan apa motifnya—hingga hari pelaksanaan acara pun tiba.

Dan memang kemudian ada korban sungguhan, yang tidak diduga-duga orangnya.

***

Salah satu hal yang menjadi kekuatan Agatha adalah dia fair. Dia akan mengajak pembaca mengenal para tokoh dan memahami situasi yang mereka alami. Termasuk, memunculkan berbagai kecurigaan yang mungkin terjadi dan masuk akal. Di antara hal itu, dia menyelipkan petunjuk. Kemudian, di akhir, dia akan membuka tabir yang membuat pembaca merasa bahwa seharusnya hal itu dapat terlihat dengan jelas.

Untuk penggemar berat Agatha, mungkin sudah bisa menebak pelaku sebenarnya—terutama jika masih ingat buku Kubur Berkubah. Dan karena ini adalah novela, tentu lebih pendek dari novel Agatha biasanya. Beberapa hal yang biasanya dipanjangkan oleh Agatha agar pembaca mengenal lebih dalam tiap karakter tokoh kurang terasa di buku ini.

Namun, bagi yang sudah khatam membaca 80-an karya Agatha dan merindukan sesuatu yang baru, bagi saya, buku ini cukup mumpuni sebagai pengobat rindu pada Poirot. Dibandingkan dengan karya Sophie Hannah yang ingin “menghidupkan” kembali Poirot, saya tentu saja jauh lebih menyukai buku ini. Terutama untuk melengkapi koleksi buku Agatha Christie. 

Selain kisah tersebut, di dalam buku ini juga ada beberapa pengantar: dari Tom Adams, pembuat kover buku-buku Agatha terbitan awal; Mathew Pritchard, cucu Agatha; dan John Curran, penulis Agatha Christie’s Secret Notebooks. Dua orang di awal terkait langsung dengan Agatha, sementara yang disebutkan terakhir mengulik-ulik catatan Agatha, dan menyodorkan sedikit bocoran isinya di buku ini sehingga pembaca bisa melihat cara Agatha membangun cerita, mengembangkan ide, hingga kemudian dieksekusi menjadi naskah ini.

Seperti yang sering dilakukannya ketika menuliskan alur sebuah kisah baru, Christie merancang motif dan latar dan daftar variasi A, B, C, dan D ini sering muncul di sepanjang Notebook.—p. 161

Saya membayangkan, di tengah proses menulis, Agatha pun mengalami perluasan ide. Namun, dia tidak berhenti dan menetapkan pilihan dari banyak pilihan yang terpikir di kepalanya. Ide yang tersisa, saya rasa, akan digunakan pada bukunya yang baru. Itulah kenapa bukunya banyak sekali—dan bahkan itu masih terasa kurang, bagi saya setidaknya.  

***

Menariknya, melalui Ariadne Oliver kita bisa melihat reaksi penulis terhadap beberapa hal yang sensitif—yang bukan tidak mungkin dialami oleh Agatha sendiri dan dibuat curhatan melalui tokohnya ini.

“Jika Anda tahu-menahu soal penulis, Anda akan mengetahui bahwa mereka tak tahan diberi usul. …. Maksudku, kita kan jadi ingin berkata: ‘Baiklah, sana tulis saja sendiri kalau begitu’!”—hal. 45

Atau ketika dia diminta memberi pelatihan menulis. Reaksi Mrs. Oliver sangat menarik, dan mungkin banyak yang diam-diam sepakat dengannya, baik penulis maupun pembaca.

“Tak bisa kubayangkan mengapa semua orang begitu bersemangat meminta para penulis untuk membahas soal cara menulis—seharusnya sudah jelas penulis itu tugasnya menulis, bukan berbicara.”—hal. 129

Sejujurnya, saya ngakak pas baca bagian itu.
Sayang, permainan yang dirancang oleh Mrs. Oliver di cerita ini kurang didetailkan. Saya sendiri tertarik jika benar-benar ada yang mau merancang misteri pembunuhan dengan petunjuk-petunjuk dan korban pura-puranya. Sepertinya akan lebih menarik dari game melalui layar.

***

Kover buku ini menarik. Dengan warna yang cerah tapi tetap berhasil menampilkan kesan suram. Namun, ukuran buku ini tidak sesuai dengan buku Agatha yang lain. Jika yang lain ukurannya lebih kecil seperti ukuran terbitan aslinya, maka buku ini berukuran normal seperti buku di Indonesia pada umumnya (13,5x20cm) sehingga kalau ditumpuk jadi kurang indah. Oke, alasan itu terlalu mengada-ngada. Selain itu, buku ini jadi kurang praktis untuk dibawa-bawa. Dan kenapa judulnya di depan sampai disebutkan dua kali, ya?

Saya masih berharap akan muncul terjemahan karya Agatha yang lain. Misalnya, naskah drama Mousetrap yang terkenal, juga karya-karyanya yang lain ketika ia menggunakan nama samaran Mary Westmacott. 


Pages