Entri Populer

Showing posts with label kumcer. Show all posts
Showing posts with label kumcer. Show all posts

Saturday, 2 September 2017

Imajinasi Pun Butuh Konsistensi--Ulasan Ringan Dua Cerpen Eka Kurniawan



Buku yang saya pilih saat ingin bacaan ringan biasanya memang kumpulan cerpen. Buku Perempuan Path Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi *hosh hosh* baru-baru ini saya temukan di tumpukan, jadi buku inilah yang saya baca.

Dari 15 cerpen di dalamnya, ada beberapa cerpen yang menarik untuk dibahas. Kalau belum baca, saran saya baca dulu. Soalnya, ini ulasan, bukan review, jadi bakal banyak spoiler di dalamnya.

Yang utama menarik untuk dibahas adalah "La Cage aux Folles". Ide untuk menceritakan kemungkinan yang terjadi pada pasangan sejenis yang dituangkan Eka menarik. Misal, A dan B sama-sama laki-laki dan saling jatuh cinta, sebenarnya mereka mencintai fisik atau raga? Mencintai perempuan di dalam tubuh lelaki, atau memang menyukai tubuh lelaki yang bisa diposisikan sebagai wanita ketika berhubungan? 

Awalnya, cerpen dibuka dengan percakapan Kemala dan Martha. 

"Antara Jakarta dan Los Angeles barangkali bukan jarak yang jauh buatku," kata Kemala kepada Martha akhirnya, sebelum melanjutkan, "tapi antara tubuh lelaki dan perempuan, kau akan tahu, ada jarak yang terlampau jauh untuk kutempuh." 

Sampai di sini, imajinasi apa yang terbentuk di kepala pembaca mengenai tokoh-tokoh itu?

Kemala dan Martha sama-sama wanita, dan salah satu di antara mereka--kemungkinan Martha, ingin "mengganti" tubuh. Menjadi laki-laki. 

Iya, nggak? Atau, ada yang mendapat kesan berbeda?

Cerita diteruskan dengan kenyataan bahwa nama asli Martha adalah Marto. 

Oh, oke. Jadi, Kemala siapanya Marto? Keluarga, sahabat, atau kekasih?

Cerita berlanjut mengenai perjuangan Marto benar-benar mengganti tubuh menjadi Martha. Ia memohon kepada kawannya agar dibawa ke Amerika. Di sana, ia terus berkembang hingga mendaftar menjadi penyanyi restoran La Cage aux Folles. 

Kemudian, ada bagian cerita yang menampilkan satu kalimat pendek. 

Melintasi Samudra Pasifik, di dalam lambung pesawat Airbus A380, seorang lelaki mencoba duduk sambil membaca novel Shidney Sheldon, Rage of Angels, yang dibelinya di bandara. Tujuh jam lagi baru ia akan sampai di bandara LAX, Los Angeles.
Lelaki itu Kemala. Ia merasa pesawat tersebut sangat lambat.

Hah? 
Lelaki itu Kemala.
Kemala itu lelaki.
-___-"
Baiklah, saya merasa tertipuh. Itu bukan nama yang membuat saya memiliki kecurigaan sedikit pun bisa dipakai untuk uniseks. Bukan nama yang umum digunakan untuk "menjebak" pembaca. 

Meskipun, sudah ada petunjuk seperti berikut.

Sejujurnya, Kemala tak suka Marto mengubah namanya menjadi Marni dan berkali-kali mengingatkannya, "Kamu tak perlu menjadi perempuan, Sayang."

Nyatanya, saya masih loading saat bagian itu. Saya pikir... jadi, Kemala perempuan yang sebenarnya menyukai perempuan, tapi merasa jatuh cinta pada Marto yang bertubuh laki-laki namun berjiwa perempuan? << Hu um, saat bagian ini, kepala saya makin berdenyut. Dan ternyata jawabannya sesederhana Kemala adalah laki-laki. Ini tidak adil... pilihan nama itu terlalu tidak biaaasssaaaa.... *baiklah, abaikan drama ini. 

Dan di akhir, meskipun menyusul ke restoran dan melihat langsung perubahan Marto menjadi Martha, Kemala merasa sudah tidak lagi mencintainya.

Oke, jadi ide dasar Eka adalah: Bagaimana jika ketika salah satu dari pasangan sejenis memutuskan mengganti tubuh, pasangannya justru tak suka dan memutuskan berpisah? << begitu kira-kira.

Jadi, cinta macam apa yang terjadi di antara Kemala dan Marto?
Apakah bisa kita sebut Kemala mencintai Marto apa adanya, karena dia justru meminta Marto tetap seperti saat itu? 
Atau, justru Kemala tidak mencintai Marto apa adanya, karena ternyata dengan tubuh yang lain Kemala merasa mereka sudah tak bisa lagi bersama?

Berarti, cinta Kemala hanya fisik semata, dong? Ketertarikan sesama jenis artinya terkait fisik, bukan jiwa. Itu yang ingin ditampilkan Eka. Dan menurut saya menarik.


(Tambahan Dimulai)

Nah, nah, demam saya sudah turun. Dan saya teringat. Ada tokoh bernama Laksono yang terlibat selama perubahan bentuk tubuh Marto ke Martha. Awalnya, ketika ditawari bahwa Marto juga bisa "dipakai", Laksono berkata, "Najis, najis."

Tapi..., setelah operasi berhasil dan Martha memilih wajah pemain film dewasa dari Indonesia bernama Anita Karma yang jadi favorit Laksono, dia malah mendatangi Martha.

Dengan wajah memerah, Laksono bertanya, "Bolehkah?"

Perubahan wujud *buset istilahnya Marto menjadi pemain film itu sudah membuat Laksono tak peduli lagi siapa dia sebelumnya. Toh yang tampak di hadapannya adalah wanita yang jadi temannya berimajinasi selama ini.

Jadi, lagi-lagi fisik yang berperan. Perubahan fisik seseorang bisa mengubah perlakuan orang lain kepadanya. Yak. Itu, kita semua tau. Bukan rahasia. Dan dirasa wajar terjadi apa adanya~~~

(Tambahan selesai)

***

Cerpen kedua yang akan saya bahas adalah cerpen "Membuat Senang Seekor Gajah". Cerpen ini dibuka dengan seekor gajah yang gelisah karena cuaca panas. Ia dengar dari kawan-kawannya, manusia memiliki lemari pendingin kecil. Dengan niat menumpang mendinginkan diri di kulkas manusia, Gajah mengetuk pintu. 

Dua anak kecil yang membuka. Tak ada orang tua, tak ada pengasuh. 

"Hei, Gajah. Apa yang bisa kami bantu?" ....
"Aku kepanasan. Aku ingin masuk ke lemari pendingin," kata si Gajah malu-malu.

Tapi, ternyata Gajah terlalu besar.
Beberapa cara sudah dicoba. Kedua anak itu
mengeluarkan rak-rak penyekat, dan si Gajah menggulung belalainya.
Masih tidak berhasil. Hanya sedikit bagian kepala Gajah yang masuk.

Muncullah sebuah gagasan dari salah satu anak itu.

"Mungkin kita harus memotong-motongnya, Potong kecil-kecil sehingga bisa masuk ke lemari."
Si anak barangkali sampai ke gagasan itu setelah mengingat ibunya pernah memotng-motong buah pepaya agar masuk ke mangkuk kecil.
Itu harus dicoba, pikir si anak lelaku. Selama beberapa saat kedua anak sibuk memotong-motong si Gajah.

Oke, cukup sampai di situ. Kutipan itu berurutan, memang begitu adanya.
Sebenarnya, ketika si anak perempuan sudah mengungkapkan secara lisan ide untuk memotong-motongnya, saya sudah menunggu reaksi. Dari si Gajah. Yang dibuat bisa berbincang dengan manusia sejak awal.

Ayolah,ketika dia minta izin mau ngadem di kulkas, perbincangan mereka lancar. Dan ketika mendengar anak-anak itu mau memotong-motongnya, si Gajah diam saja? Tak ada reaksi?

Mungkin, dia tidak mengerti arti kata "potong".

Siapa itu yang berbicara? *tengok kanan kiri
Yup, saya sempat berpikir begitu. Lalu, penuh harap, melanjutkan membaca. 
Tapi....

Pertama, mereka mencopot dan membagi-bagi keempat kakinya, lalu ekornya, lalu kepalanya, lalu telinganya yang lebar dan belalainya yang panjang. 

Dan begitu seterusnya diceritakan kedua anak itu berusaha memasukkan sebanyak mungkin bagian tubuh Gajah ke dalam kulkas. 

Hingga si anak perempuan kemudian menyadari sesuatu.
"Kurasa kita telah membunuh si Gajah." Kata-katanya mengandung sejenis kesedihan.

Oke. Jadi sudah pasti itu Gajah beneran sudah dipotong-potong.
Saya kesal. 
Ketika sebuah benda sudah dipersonifikasi, maka ada hal-hal yang terikat pada benda tersebut.
Dan si Gajah selain bisa berbincang dengan manusia, juga bisa merasakan suhu panas. Itulah kenapa awalnya dia kepingin nyoba masuk kulkas, kan?
Tapi, apa ketika diseset kakinya si Gajah nggak bereaksi? Sama sekali?

No....

Menulis fiksi memang menggunakan imajinasi. Namun, imajinasi pun butuh konsistensi.


Padahal, kalimat menjelang akhir di cerpen ini bagus. 

"Membuatnya senang kupikir hal yang lebih penting daripada yang lain. 
Percuma ia hidup jika tidak senang."

Ah, apa mungkin... Gajah itu adalah boneka gajah, dan dua anak itu berimajinasi seperti si ayah di Fortunately, the Milk karya Neil Gaiman? Hah? 
*baiklah, itu kebablasan. 

Saya berpikir begitu karena darah yang dihasilkan Gajah tidak disebut sedikit pun. Tapi, tidak ada petunjuk kuat kalau gajah itu cuma boneka. Misal, ketika emak-bapak kedua anak itu pulang, menemukan boneka gajah koyak moyak di lantai dan kulkas... *malah ngarang sendiri

Baiklah, ternyata saya cuma kuat bahas 2 cerpen itu saja. 
Setidaknya, saya kembali membaca, dan menulis. 
Ahahahahahahah!!!
<(^0^)>
*kayaknya saya butuh berobat

Sebelum menutup, ada satu cerpen lagi yang menarik. "Jangan Kencing di Sini". Tentang... cewek yang... mmm... silakan dibaca langsung aja, deh. 
*kabur...


Monday, 17 July 2017

Masa Kecil dan Kedewasaan--mengulik sepenggal cerpen Paradisa Apoda karya Eko Triono



“Bukankah benar masa kecil adalah orang tua bagi manusia dewasa?”—Paradisa Apoda


Pada sebuah percakapan dengan kakak beberapa waktu lalu, setelah melihat beberapa kasus di media sosial mengenai bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, saya teringat kalimat dari Eko Triono tersebut.

Di antaranya, mengenai mahasiswa yang mengerjai rekan sesama mahasiswa, dan anak SMP yang bawa genk-nya untuk menekan salah satu anak seumuran mereka.

Mereka melakukannya menurut saya karena mereka tidak merasa bahagia dengan diri mereka sendiri. Mereka merasa bisa mendapatkan kebahagiaan dengan menindas orang yang mereka anggap lemah—dan tampak lebih bahagia daripada mereka. Kadang, dengan berbuat demikian, mereka merasa "ada". Karena bisa jadi, mereka tidak dianggap ada bahkan oleh orang-orang terdekat mereka. 
Dan kenapa bisa muncul tabiat demikian pada anak-anak muda?
Penyebabnya adalah kita semua. Baik sebagai ibu, guru, atau sesama manusia.

***

Kalimat Eko Triono itu membuat saya tertegun cukup lama ketika dulu pertama kali membaca. Dan ternyata saya hafal di luar kepala.
Saking terasa kebenarannya.
Benar sekali!

Sebenarnya, bekal kita untuk menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa justru terbentuk ketika kita masih kecil. 


Banyak ahli psikologi anak sudah membuktikannya.
sumber 

Anak yang dibesarkan dengan sering dimarahi, atau dikecilkan, atau dibandingkan, akan berbeda dengan anak yang dibesarkan dengan pengertian akan kelebihan dan kekurangan masing-masing.




Berapa banyak anak yang menjadi korban orang tua hanya agar “seperti kawan-kawanmu”.
"Kok kamu belum bisa baca, to? Si anu sudah."
"Kayak si itu, lho. Nggak pernah rewel kalo disuruh berangkat sekolah."
"Kamu kok masih nggak bisa perkalian, to? Anak itu, lho, sudah pintar pembagian."


Itu sebagian kecil. Dan dilakukan dalam lingkup pertama. Rumah.
Belum lagi sekolah. Belum lagi sekitar rumah.


sumber
Pernah mendengar sekumpulan orang yang menggosipkan ayah atau ibu seorang anak di hadapan anak tersebut? Seakan anak itu tuli dan buta, tak memiliki rasa? Alasannya, dia kan anak-anak, masih belum ngerti. 

Padahal, anak-anak—dan orang berusia yang jiwanya tidak beranjak dewasa—justru menjadi spons terkuat. Ia akan menyerap tiap kata dan gesture merendahkan yang ditujukan kepada keluarganya, kepada dirinya.

“Lalu, mengapa kita hanya memberi mereka kereta kelinci yang berjalan dengan roda mobil dan mengalah di perlintasan? Sebaiknya jangan membuat arwah penemu kereta api merasa sedih.”

Lalu mengapa kita berusaha membatasi ruang anak-anak--dengan memberinya kereta-keretaan, dan bukannya mengajak naik kereta api sungguhan--?

Kenapa kita melindungi anak-anak tersebut dengan perumpamaan-perumpamaan, dan kadang amarah, ketika ada pertanyaan anak yang ajaib? Kenapa tidak berusaha memberi penjelasan sebisanya? Dan akui ketika kita juga ternyata sama tidak mengetahuinya dengan dia.


Tiap bulan pemerintah mengumpulkan data guru yang tidak menyenangkan untuk dibina atau dipecat, sebab merusak generasi.


Ini arena Eko untuk unjuk kegelisahan—meskipun saya tidak bulat sepakat. Karena, guru yang tidak menyenangkan itu berbeda persepsi bagi tiap personal.

Kenapa murid yang sering disalahkan? Kenapa tidak para guru juga melakukan introspeksi diri? Ketika tanpa sengaja memandang remeh kemampuan akademis murid yang berisik, misal?


Kereta Paradisa Apoda mulanya akan mengganggu jalur kereta lain. Sebelum kemudian keluar kota dan mengambil jalurnya sendiri; melintasi kebun-kebun, perbukitan, lembah, dan daerah perbatasan dengan tidak tergesa-gesa, tidak tergesa-gesa.
 (italic ditambahkan oleh saya).

Ketika membaca ulang cerpen "Paradisa Apoda" di buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?, sebelumnya buku ini pernah saya bahas, saya masih belum mengerti maksud Eko memberi nama kereta tersebut Paradisa Apoda, nama cendrawasih kuning-besar—yang menurut Google-Wiki memiliki arti “cendrawasih tak berkaki”.

Apakah semacam ironi untuk menunjukkan keindahan yang tak mungkin digerakkan?
Keinginan penulis untuk menunjukkan beberapa alternatif jalan keluar—salah satunya tentang anak-anak tadi—namun sekaligus menunjukkan bahwa jalan tersebut tak dapat dijalankan?

Jika pemahaman saya tersebut keliru, tak mengapa.
Kadang saya masih keceplosan memperlakukan Kira dengan tidak adil. Membaca kalimat itu akan mengingatkan saya, bahwa saat ini adalah masa Kira mendapatkan orang tuanya, untuk bekalnya kelak. Agar tidak mencari kebahagiaan dengan cara menindas orang lain. Karena masing-masing dari mereka spesial. 
Kelak, jika perjalanan hidup saya lebih luas, bisa saja bisa memahami maksudnya. Saat ini, mengerti secupliknya saja membuat saya mendapat pelajaran berharga.

Dan saya mensyukurinya.

Note: Semua kalimat warna biru merupakan kutipan dari cerpen "Paradisa Apoda" karya Eko Triono. 



Monday, 1 February 2016

GA Buku Kumcer Reruntuhan Musim Dingin Karya Sungging Raga--Plus Pengumuman Pemenang




Cerpen pertama yang akan saya bahas dari 22 cerpen dalam buku ini adalah “Sidareja, Sebuah Alkisah”. Saya tertarik dengan cerpen ini karena tokoh yang diangkat oleh penulisnya.

Bercerita tentang pertemuan tidak sengaja seorang lelaki dan wanita dalam Kereta Pasundan dari Surabaya ke Bandung. Seperti umumnya pertemuan di kereta, si lelaki berusaha mencairkan suasana dengan mengajak si wanita berbincang-bincang. Pedekate.
Pada sebuah kota yang akan dilewati kereta itu, ada kerusuhan. Orang-orang menyerang kereta yang lewat. Dan, salah satunya Kereta Pasundan ini.

Serangan tersebut mengubah masa depan kedua tokoh ini. Perubahan memilukan. Tenang saja, bukan mati, kok. Lebih menyedihkan dari kematian. *eh

Apakah orang-orang yang sering mengedepankan emosi pernah memikirkan kemungkinan seperti yang dialami oleh kedua tokoh ini? Mungkin tidak. Karena emosi kebanyakan menutup mata dan hati.

Waktu memang telah membagi dirinya sendiri pada setiap manusia. Dan pada dua orang ini, pada si lelaki dan si wanita, waktu dan kereta bersepakat untuk membagikan kenangan.—p.99


Cerpen kedua adalah “Abnormaphobia”. Suatu hari, seorang wanita datang menemui psikiater, mengadukan bahwa dirinya tidak takut pada apa pun lagi. Apa pun. Tidak takut pada kecoak atau anjing tetangga yang galak. Tidak takut ketinggian, dimarahi bos, atau ditilang polisi. Bahkan, wanita itu tidak takut kesepian. Luar biasa menurut saya yang terakhir ini.

Setelah berbincang-bincang, saran psikolog itu sederhana:

“Saya sarankan, coba Anda menyeberang di Jalan Kaliurang. Anda tahu jalan itu, kan? Itu jalan yang nyaris mustahil dilalui penyeberang jalan karena semua pengendaranya adalah pembalap. Jadi, coba Anda menyeberang di jalan itu.”p.94

Sayangnya, wanita itu tidak menyimak dengan baik kata-kata si psikiater. Akibatnya, dia….
Oke, saya tahan sampai di sana karena saya tidak ingin merusak kebahagiaan kalian ketika membaca sendiri kisah ini.


Cerpen ketiga, “Reruntuhan Musim Dingin” yang menjadi judul kumcer ini.
Cerpen ini berkisah tentang kepercayaan dan kekuatan seorang wanita untuk menunggu.

Tidak ada tembok yang lebih kuat dari seorang wanita ketika ia telah percaya. –p. 69

Ya, kebanyakan, wanita yang sudah berhasil dibuat percaya akan jadi keras kepala. Bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa kekasihnya mungkin hanya sibuk saja. Bahwa kekasihnya hanya khilaf. Huft.

Bagi wanita yang telanjur percaya, ia adalah kekokohan yang tak tertandingi. Bahwa kelak, kepercayaannya akan membuahkan hasil. Bahwa kekasih yang hanya mengandalkan janji kelak akan kembali.

Tapi, bagi yang melihat, akan tampak seperti kalimat selanjutnya.

Tidak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini kecuali melihat seorang wanita percaya pada sesuatu yang tidak mungkin.—p.69

Kedua kalimat itu dirangkai berdempetan oleh Sungging Rangga, sengaja memberi pujian lebih dulu, memaparkan kenyataan kemudian.

Kenyataannya, ketika  kita  melihat seseorang yang tampak sangat percaya pada seseorang yang kita tahu tidak dapat dipercaya, orang itu memang akan terlihat menyedihkan, bukan?

Barangkali, memang ada tempat-tempat yang lahir dari rahim kenangan. Sehingga setiap kali seorang merasa terikat padanya, ia tak bisa lagi melepasnya.—p.64

Ketika seseorang telah memutuskan pergi, dan kamu tidak punya cukup keberanian untuk menahannya, maka biarkan saja menjadi kenangan.

Begitulah. Kisah-kisah ini memang kebanyakan tentang cinta, yang—seperti yang disebut pada kover belakang—tak terduga. Baik tokoh, pertemuan antartokoh, maupun perpisahan mereka.

***




Sekarang, saatnya membagikan satu buku ini buat kamu yang beruntung. Akan ada satu orang yang beruntung mendapatkan kumcer ini.

Hidup sejatinya adalah mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti. Buat satu kalimat tentang perjumpaan atau perpisahan tak terduga yang pernah kalian alami… dengan menggunakan minimal salah satu dari tiga kata kunci yang saya italic dari kutipan buku Sungging Raga di atas.

Format Jawaban: Nama, twitter/FB, dan jawaban.
Pastikan kamu berdomisili di NKRI, ya. 
Syarat lainnya cukup follow Twitter @divapress01 atau like fanspage Penerbit DIVA Press.

Udah, gitu aja.

Yang kalimatnya paling menarik akan mendapatkan satu buku kumcer ini.

Semoga beruntung.... 
(づ ̄ ³)~



Nah, setelah bertapa di bawah Gunung Huaguo *halah*, akhirnya, sudah ditetapkan pemenangnya.
Selamat untuk yang beruntung:


Nama: yunia fatina
Twitter: @yfatina


Kenangan senantiasa tercipta dan hanya akan dikenang saat semuanya kian hampir ke perpisahan.

Silakan kirim alamat kamu ke email: m.saratini@gmail.com atau inbox ke FB: Muhajjah Saratini, ya. 


Dan, terima kasih kepada semua yang udah ikutan...
*salaman satu-satu*

Coba lagi keberuntungan kamu di blog-blog ini:

dionyulianto.blogspot.co.id/  (8 – 14 Februari 2016)

ginteguh.tumblr.com/   (15 – 21 Februari 2016)

bibliough.blogspot.co.id/ (22 – 28 Februari 2016)




Monday, 30 November 2015

Menyukai Sesama Jenis, Bawaan Lahir atau Tercipta Kemudian?--Ulasan Cerpen “Perempuan Tua dalam Kepala” karya Arvianti Armand

Cerpen "Perempuan Tua dalam Kepala" yang saya ulas dari buku ini



Sejak membaca “Perempuan Tua dalam Kepala” karya Avianti Armand dalam buku Dari Salawat Dedaunan Sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta: 20 Tahun Cerpen Kompas Pilihan, saya selalu terngiang dengan kisah ini. Seperti saya sebutkan sebelumnya, bagi saya cerpen ini memberi pemahaman mengenai bagaimana pemerkosaan itu sesungguhnya.
Dalam ulasan kali ini akan saya bahas. Jadi, ini bukan resensi dan akan penuh spoiler. Sebaiknya, baca dulu cerpen ini agar tidak kecewa. Bisa baca di sini
Saya ingat, ada yang pernah berkata bahwa ketika diperkosa, sebaiknya nikmati saja. Bukan cuma di Indonesia, ternyata. Coba cek di sini secuplik sisa beritanya. Setelah mendengar pernyataan bodoh yang mungkin dimaksudkan sebagai guyonan itu, saya sakit kepala. Dan ketika menjadi bahasan dengan beberapa orang, salah satu kenalan pun memberi pro yang serupa. Bahwa bukankah korban bisa saja menikmati pemerkosaan?
Mendengarnya, saya semakin sakit kepala…dan langsung tersalurkan.
*tarik napas*
Setelah tragedi emosional dengan orang itu, saya berpikir, jangan-jangan bukan hanya mereka, melainkan ada beberapa lagi yang berpikir demikian.
Bagaimana bisa?
Apa tidak mengerti makna perkosa?

per·ko·sa, me·mer·ko·sa v 1 menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yg berlaku; negara itu dicap sbg negara yg ~ hak asasi manusia;

Lihat pada kata kekerasan yang ada di sana. Itulah yang membedakan perkosaan dan suka sama suka. Kalau kamu dirayu pacar dan mau ditiduri olehnya, itu bukan perkosaan. Tapi ketika kamu menolak dan tiba-tiba dia menekan kamu ke dinding, membekap mulut kamu agar tidak berteriak, menampar bahkan menabrakkan kepalamu ke dinding agar berhenti meronta…, maka itu perkosaan.
Lalu, jika bukan pengidap sado masokis, di sebelah maknanya bagian dari adegan itu yang bisa disebut dinikmati? Bahkan meskipun perempuan yang dipaksa melayani seperti tadi adalah pelacur, ketika dia tidak bersedia melayani dan dipaksa, itu disebut pemerkosaan.
Dipaksa.
Dengan kekerasan.
Tolong camkan.
Kembali ke cerpen.
Jauh sebelum ini, saya menonton film—saya lupa judulnya—yang di dalamnya disebutkan bahwa sodomi bagai lingkaran setan. Korbannya akan menjadi pelaku, dan demikian seterusnya.
Sudah banyak bukti bahwa bagaimana masa kecil seseorang dihabiskan akan sangat berdampak pada bagaimana dia di masa depan. Luka yang terjadi saat masa kecil seseorang bisa jadi berpengaruh menjadi watak seumur hidupnya.
Ada dua cerpen dalam kumcer ini yang membahas mengenai pengaruh masa kecil ini. Yang pertama adalah “Sempurna”. Jika ingin melihat bagaimana anak-anak Anda yang dipaksa sempurna dengan ikut les dan kontes di masa depan, mungkin tokoh Lara dalam cerpen ini bisa jadi salah satu gambaran.
Cerpen lain, tentu saja, “Perempuan Tua dalam Kepala”.
Bukan hal baru memang kisah mengenai anak yang mengalami kekerasan fisik di masa kecil. Saat membaca ulang cerpen ini, saya terbayang berita-berita yang belakangan ditayangkan di televisi. Apakah perasaan anak-anak itu juga seperti itu? Mencari perlindungan…hingga ketika tidak mendapat dari orang tua di sekitarnya, datanglah si perempuan tua. Dan tinggal di kepalanya, mungkin selamanya mendekam di sana.

Biasanya, pelakunya bahkan justru orang dekat, demikian pula dalam buku ini. Tokoh dalam cerpen ini mengalami kekerasan seksual dari bapak tirinya ketika dia masih kecil.

“Lelaki yang dicintai ibu mencintaiku juga…. Ia sering memintaku duduk di pangkuannya. Sambil bercerita tentang rumahnya di kota lain yang punya kolam ikan koi, tangannya akan membelai pahaku. Aku suka geli dan menyuruhnya berhenti. Tapi ia tak peduli. Ibu juga tak peduli. Ibu malah senang karena ada yang menjagaku di rumah jika ia menghabiskan waktu dan uangnya di mal.—p. 86 

Di hari perempuan tua itu datang, ibu meninggalkanku dengan laki-laki itu.—p. 86 

“Tutup matamu. Kamu tak akan merasa sakit.” Lelaki itu berbohong. Aku merasakan nyeri yang luar biasa di bawah sana. Dan tetap nyeri walau mataku telah terpejam. Aku menjerit. Lelaki itu membenturkan kepalaku ke tembok. Aku menjerit lagi. Ia membenturkan kepalaku lagi. Lagi. Lagi. ….”—p. 87

Jangan tutup mata. Dan memang sepatutnya mual.
Mungkin, memang demikian perasaan anak-anak itu. Mungkin, lebih parah dari itu. Mungkin, mereka bukan hanya dibenturkan ke tembok. Mungkin, telah banyak perempuan tua dalam kepala anak-anak di sekitar kita.

Perhatikan kutipan cerpen berikut:


Aku tak menyukainya. Dia tak menyukaiku. Dia memakiku ketika aku menolong anak laki-laki yang jatuh dari sepeda,….Tapi ia bertepuk senang ketika aku menempelengi pengendara motor yang memotong jalur mobilku.—p. 82


Sebenarnya, mereka tidak mau, tidak suka dengan perempuan tua dalam kepala mereka. Tapi, tidak mampu mengusirnya. Bahkan, tidak jarang mereka justru mengikuti saran perempuan tua itu.
Uniknya…, kehadiran Ben, seorang kawan lama di masa kecilnya yang pernah menghibur ketika ia menangis dalam sebuah gudang, membuka kisah baru.
Tokoh ini sengaja menyimpan sapu tangan yang diberikan Ben untuk mengusap air matanya sebagai kenang-kenangan sebelum ia terpaksa pindah dan kemudian ikut dengan ayah tirinya tadi.
Tokoh yang sekarang sudah dewasa ini, bertemu kembali dengan Ben dan mereka menghabiskan malam bersama. Lalu ia berkata singkat: Ayah tiriku mati muda.—p. 90
Itu katanya kepada Ben, sambil khawatir perempuan tua dalam kepalanya menjadi tidak suka dan kembali mengambil alih emosinya.
Kejadian sebenarnya ada pada halaman sebelumnya.


Ibu bilang, laki-laki tidak boleh cengeng. Ia tetap pergi meski aku merengek-rengek memintanya tinggal. Saat itu, aku benar-benar membencinya.
Satu, dua, tiga… Laki-laki itu menggandengku ke kamar. Empat, lima, enam… Laki-laki itu melucuti celanaku. Tujuh, delapan, sembilan… Ia menelungkupkanku di tempat tidur. Tangannya mulai menggerayangi pantatku yang terbuka. Aku menutup mata erat-erat.p. 89 


Bayangkan seorang anak kecil menghitung ketakutannya. Menghitung detik saat ia akan menerima kesakitan lagi. Menghitung kematian sebagian jiwanya. 


Di hitungan ke sepuluh, pintu rumah perempuan tua itu terbanting terbuka. Mukanya marah. Sebelas, dua belas… Lelaki itu menindih tubuhku. Napasnya mulai terengah.—p. 89


Perempuan tua itu keluar, berusaha menolongnya, karena sang ibu yang dimintai pertolongan tidak mau mendengar.


Tiga belas… Perempuan tua itu berteriak garang. Dari mulutnya keluar kata-kata paling kotor yang pernah kudengar. Laki-laki itu terjengkang kaget.—p. 89


Laki-laki itu terjengkang karena apa yang dirasa si tokoh keluar dari mulut perempuan tua itu sebenarnya keluar dari mulutnya sendiri. Perempuan tua sudah menjelma menjadi dirinya. Perempuan tua merupakan dirinya yang diciptakan sebagai bentuk perlindungan psikologis dari serangan luar. Dari bentuk perlindungan psikologis, perempuan tua menjelma menjadi perlindungan fisik.


Dengan sigap, perempuan tua itu meraih lambu baca di samping tempat tidur. Sepenuh tenaga, dihantamkannya kaki lampu itu ke kepala laki-laki. Besi beradu tulang. Aku mendengar suara retak. Tubuh laki-laki itu terpuruk ke lantai. Darah merembes pelan dari lukanya. Sekali lagi perempuan tua menghantamkannya. Lagi. Lagi. Lagi.—p.89


Tokoh ini menyembunyikan fakta sebenarnya dari Ben. Tentu saja, apa yang akan terjadi jika dia jujur? Dia mungkin akan kehilangan Ben.

Anak-anak--bahkan juga kadang orang dewasa--mencari "perlindungan" dari dirinya sendiri.

Bahkan, ketika tokoh ini bercerita kepada kita, ia masih menggambarkan bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah sang perempuan tua yang hidup dalam kepalanya, bukan dia. Perempuan tua adalah dirinya yang lain, tapi ia tidak sudi mengakuinya.


Kembali kepada Ben, rasa suka tokoh ini kepada Ben sudah muncul sejak di gudang itu.


Aku minta maaf karena tak sempat pamitan. Aku berbohong. Sesungguhnya, aku tak berani menemuinya karena takut ia akan meminta sapu tangannya kembali. Aku ingin menyimpannya.—p.85


Rasa suka tokoh ini—yang berjenis kelamin laki-laki—kepada Ben, yang juga laki-laki, sudah tumbuh sebelum tokoh ikut ayah tirinya. Tidak ada penjelasan waktu khusus terjadinya sodomi oleh si ayah tiri pertama kali.

Jika terjadi setelah pertemuan tokoh dengan Ben, maka artinya tokoh kita memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis sejak kecil. 

Ada yang bilang kecenderungan menyukai sesama jenis merupakan bawaan sejak lahir, ada yang bilang pengaruh lingkungan. Dalam cerpen ini, bukan berarti kecenderungan itu merupakan bawaan sejak lahir. Rasa haus kasih sayanglah yang membuat si tokoh terenyuh saat ada yang bersedia menghapus air matanya. Dan ternyata yang menghapusnya bukan sang ibu, apalagi ayah kandungnya yang entah di manatidak diceritakan, melainkan Ben. Anak laki-laki seusianyalah yang menggenngam tangannya, menguatkan tanpa banyak bertanya apalagi menghakimi, membuatnya nyaman, membuatnya merasa jatuh cinta. 

Meskipun demikian, meskipun si tokoh merupakan penyuka sesama jenis, ia tetap tidak bisa menikmati perkosaan yang dilakukan si ayah tiri. Seperti halnya, meskipun wanita umumnya menyukai laki-laki, tidak berarti ia bersedia dan suka-suka saja ditiduri semua laki-laki.

Jika terjadi sebelum pertemuan tokoh dengan Ben, maka mungkin sodomi memang benar dosa yang menjadi lingkaran setan. Mungkin, setelah mendapat perlakuan demikian, akhirnya tokoh menyukai sesama jenis.

Tapi, saya cenderung percaya kejadian menyakitkan itu dilakukan si ayah tiri di rumahnya, setelah mereka pindah ke luar kota, setelah pertemuan tokoh dengan Ben. Karena…, tidak ada perempuan tua dalam kilas balik kisah pertemuan tokoh dan Ben di dalam gudang.


Betapa panjang tulisan ribet saya tentang salah satu cerpen dalam buku Kereta Terakhir karya Arvianti Armand ini? Ya…, saya rasa juga demikian. Meskipun, tentu jauh lebih panjang efek yang ditimbulkan dari perbuatan perkosaan.

Maka, janganlah lagi berpikir atau bercanda tidak lucu mengenai tindakan perkosaan. Perbuatan itu bukan hanya perkara rusaknya selaput dara atau lubang dubur *maafkan istilah saya*, efeknya pasti jauh lebih mengerikan dari itu.

Jangan biarkan anak-anak menciptakan perempuan-perempuan tua dalam kepala mereka.




Tuesday, 10 November 2015

Pastikan Kamu Cukup Usia Saat Membaca--Ulasan Buku Aksara Amananunna karya Rio Johan




Judul: Aksara Amananunna
Penulis: Rio Johan
Editor: Pradikha Bestari
Penerbit: KPG
Cetakan Pertama, April 2014



Buku ini berisi 12 cerpen unik karya Rio Johan. Kalau ditanya kesamaan semua karyanya, secara garis besar adalah kemampuan penulisnya menyeret pembaca menuju dunia rekaannya. Seaneh apa pun kedengarannya—atau kelihatannya—pembaca bisa dibuat terbawa bahwa dunia itu benar-benar ada. Sehingga, ketika berakhir, kita baru sadar bahwa sedang berada dalam dunia fiksi.


Beberapa cerpen pertama dalam buku ini setipe, menawarkan dunia tak terbayangkan dengan akhir yang tidak mudah dilupakan. Undang-Undang Antibunuhdiri, cerpen pembuka, termasuk salah satunya.

Dibanding cerpen-cerpen lain, Aksara Amananunna menurut saya malah biasa aja—typo-nya yang luar biasa. Sama seperti Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju. Tapi, yang disebutkan terakhir masih memberi pengajaran bahwa tidak apa-apa mengambil tindakan yang tidak sebagaimana umumnya. “Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien?” menurut saya malah seperti lelucon. Ending-nya tidak semenarik cerpen-cerpen lain, seperti Tidak ada Air untuk Mikhail, misal.

Kevalier D’orange tentang kekuatan gunjingan. Orang-orang penasaran dengan jenis kelamin Kevalier D’Orange. Dia seorang Kevalier, loh. Sudah memimpin banyak pertempuran dan menang. Masak, sih, cewek? Tapi, dia misterius banget, loh. Kamarnya nggak boleh dimasukin siapa pun dan mukanya kelewat cantik buat seorang cowok. *lalu teringat cowok-cowok cantik Korea* Hal yang awalnya lelucon menjadi serius. Masalahnya, ditanya pun nggak mau jawab yang serius. Jadi, sebenarnya dia cewek atau cowok? (˘ε ˘)
Temukan jawabannya di akhir cerpen.

Ginekopolis merupakan imajinasi yang ruwet. Seandainya dunia didominasi wanita saja, atau pria saja, seperti apa jadinya? Saya membayangkan lingkup dunia yang lebih kecil saat membaca cerpen ini. Seperti rumah tangga. Siapa yang lebih mendominasi, dan bagaimana jadinya?

Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa juga menarik. Sebenarnya, kamu sedang bermimpi atau tidak saat ini? Kadang, saat mimpi lebih indah dari kenyataan, kita jadi memilih lebih meyakini mimpi.

Ada tiga cerpen khas yang menyentil tentang dunia seksualitas yang mungkin belum kita ketahui dalam buku ini. Komunitas, Riwayat Benjamin, dan Robbie Jobbie. Saya juga cuma pernah tau segelintir. Misal, kalau ada orang-orang yang suka melakukan hal-hal dalam Komunitas, walau nggak kebayang bakal ada yang menampung dan memfasilitasi sebegitunya. Riwayat Benjamin langsung mengingatkan saya pada adegan sebuah film—yang sayangnya saya lupa judulnya—karena adegannya sama-sama dari belakang *lah* dan di taman cenderung kebun sekitar rumah zaman dulu *et buset*. Efeknya bagi yang melihat pun sama-sama besar. Saya sudah curiga dari awal, sih. Waktu saudagar itu mengelus2 pipi Benjamin. Hih! Nah, kalau yang Robbie Jobbie, saya bener-bener baru tau kalau ada model orang yang menikmati beginian. Ending-nya logis, nih.  Saya suka ketiganya…tapi ini nggak mau dikasih tulisan peringatan 21+ gitu, tah?

Saya menulis semua itu sebelum membaca cerpen terakhir, Susanna, Susanna!.

Begini, masing-masing orang memiliki tahapan untuk mencerna sebuah kisah. Dan masing-masing orang memiliki tahapan-tahapan juga untuk dapat mengambil hikmah dari sebuah kisah. Dan kisah yang terakhir ini bisa saya cerna tapi tidak bisa saya tangkap hikmahnya. Buat yang tertarik dengan isu LGBT, kisah ini mungkin menarik. Bagi saya, terlalu seronok. Seperti membaca stensilan—atau menonton AV, yang bukan biasanya pula—pada beberapa bagian. Dan ending-nya pun hanya seperti itu. Saya tidak suka. Apalagi, di tengah-tengah persidangan, ada adegan dagelan antara pelacur dan Pak Hakim. Tentu saja, setting sosialnya dipilih kalangan pelaut, yang terkenal serampangan, dan setting waktunya juga memungkinkan adegan itu, mungkin. Tapi, tetap saja, cerpen terakhir ini tidak memberi banyak hikmah atau pemikiran baru atau pemikiran lain, setidaknya bagi saya.

Dan, kenapa cerpen itu masuk ke dalam kumcer ini? Jika tiga cerpen sebelumnya masih bisa saya maklumi—dan saya bahkan menyarankan peringatan 21+—tapi tidak dengan cerpen ini. Saya tau ada yang suka dengan cerita model demikian, tapi bukankah biasanya sudah ada warning, semacam penanda, bahwa isinya akan demikian? Kumcer ini, yang diterbitkan KPG, seakan berbicara tentang karya sastra umumnya, berbicara kritik sosial dan semacamnya. Mungkin ada kritik terselip dalam cerpen terakhir, tapi… bagi saya, sudah keburu tenggelam dalam lautan berahi yang dipaparkan demikian gamblang.

Saya jadi teringat, sebagian orang tua masih melarang anak-anak mereka untuk membaca komik atau bahkan novel. Karena tidak berguna, atau bahkan bisa membentuk kepribadian yang buruk. Awalnya, bagi saya tidak masuk akal pemikiran demikian. Tapi…, sebenarnya tentu saja ada benarnya. Tergantung, bacaan seperti apa yang dilahap anak-anak Anda? Apakah sudah sesuai dengan umurnya, atau mungkin lebih tepat jika dikatakan, apakah sudah sesuai dengan daya tangkapnya?

Pada usia tertentu, hal-hal yang diterima otak demikian meraja, salah satunya dari lagu, bacaan, game, pola pikir kawan, dan sebagainya. Jika…, jika buku ini dibaca oleh anak yang belum paham…saya hanya khawatir. Karena, rasa penasaran biasanya berkuasa pada jiwa anak muda.

Mengenai penilaian, sejujurnya, typo yang muncul seharusnya tidak sepanen ini pada buku terbitan penerbit sekaliber KPG membuat saya mengurangi satu bintang. Apa editornya nggak fokus karena terlarut dalam ceritanya? *halah* Jadi, bukan salah penulis sepenuhnya mungkin, tapi tetep aja, yang saya nilai adalah wujud buku yang saya pegang, dan typo termasuk di dalamnya. Bukan typo-typo sederhana saja. Kalau nggak percaya, baca, deh. :D

Ditambah cerpen terakhir, membuat saya langsung menurunkan satu bintang. Cerpen serupa ini memang bukan selera saya. Seperti saya yang sampai saat ini belum sanggup membaca tuntas Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan karena terlalu banyak adegan hosh hosh *istilah apa pula ini* di awal... cuma kuat sekitar 100-an halaman. 


Padahal, biasanya saya satu selera dengan Mas Dion, tapi ternyata pendapat kami kali ini berbeda. Jika menurutnya cerpen terakhir paling menarik, bagi saya justru paling nggak, deh. 


Kalo menurut kamu?
Etapi..., pastikan kamu sudah cukup dewasa untuk membaca.


Pages