Entri Populer

Showing posts with label komik lokal. Show all posts
Showing posts with label komik lokal. Show all posts

Friday, 9 June 2017

Sejarah Majapahit dalam Komik; Blogtour dan PENGUMUMAN Pemenang Giveaway


“Bahkan iblis sekalipun berhak mendapatkan kejayaan dan penghargaan atas jerih payahnya….”





Saya tidak suka sejarah. Bagi saya, menghafal nama, tempat, dan terutama tanggal secara tepat adalah hal yang membuat pusing.

Tapi, saya suka komik. Segala jenis komik saya coba baca. Kadang, gambar memang memiliki kekuatan yang lebih besar dari kata-kata. Sebagai editor yang berkutat dengan huruf demi huruf, komik menjadi alternatif menyenangkan dari sisi visual.

Komik Dharmaputra Winehsuka ini bercerita tentang pasukan elite pelindung Raja Majapahit. Kisah ini dibuka ketika Prabu Jayanegara menggantikan ayahnya, Sanggramawijaya. Dharmaputra Winehsuka yang terdiri dari tujuh orang: Yuyu, Wedeng, Banyak, Pangsa, Tanca, Semi dan pemimpinnya, Kuti, memiliki sumpah “Satya Bela Bakti Prabu”. Artinya, mereka bersumpah akan melindungi raja dengan taruhan nyawa.

Masalahnya….

“Di setiap masa selalu saja ada pemimpin bodoh… Si Dungu yang sangat beruntung bisa menjadi raja.”

Prabu Jayanegara dikenal dengan ketidakmampuannya memerintah, membuat rakyat Majapahit sengsara.

Semi sudah lama menunjukkan rasa tidak suka melihat raja yang sangat menyedihkan. Baginya, raja seperti itu tidak pantas dibela sampai mati. Namun, bagi Kuti, bagaimanapun raja mereka, merupakan simbol yang memang harus dilindungi, bahkan dengan taruhan nyawa.

Ra Semi dan Ra Kuti

Bisikan Senopati Halayudha pada Prabu Jayawijaya membuat pertentangan dua sahabat tersebut semakin meruncing. Semi dan Kuti, dua terkuat dari Pasukan Dharmaputra, akhirnya harus saling bertempur, mempertahankan keyakinan masing-masing.
***

Meskipun tidak menyukai sejarah, kisah Pemberontakan Nambi sudah pernah saya baca. Menurut saya, meskipun berpusat pada kisah pasukan Dharmaputra, komik ini bisa mewakili kisah sejarah yang terjadi pada masa itu.

Beberapa kali membaca komik lokal dengan tema laga, saya cukup terkejut melihat gambar Alex Irzaqi. Rasanya seperti ketika membaca komik Legenda Naga, tapi dengan kisah sejarah lokal.

Ternyata, nama ini memang bukan pendatang baru. Wajar jika komik ini matang bukan hanya di gambar, melainkan juga diksi-diksi pilihannya. 

Karakter gambar tiap tokoh, didukung dengan karakter tokoh itu sendiri. Misalnya, Tanca yang seorang tabib, dan Pangsa yang rada-rada oon.

Dan ending-nya. Saya tidak terpikir jika penulisnya akan mengakhiri komik ini dengan ending demikian.

***




Ada dua komik Dharmaputra Winehsuka karya Alex Irzaqi untuk satu orang pemenang.

Dua komik ini isinya sama. Hanya saja, menggunakan kertas dan cetakan yang berbeda. Buku lamanya (kover warna), memiliki gambar yang sudah mendapat efek tambahan. Sementara versi cetak yang terbaru, lebih menampilkan kekuatan sketsa asli dari kreatornya. 


Sebelah kiri kover lama; sebelah kanan kover baru.



Caranya mudah.
  1. Like fanspage komik koloni di facebook.
  2. Follow Instagram koloni publishers.
  3. Jawab pertanyaan berikut.
Jika menjadi anggota pasukan elite Dhamaputra Winehsuka, kalian akan memilih seperti Kuti atau Semi?
Alasannya jangan lebih dari 3 kalimat, ya. Singkat saja.


  1. Tulis jawaban beserta nama, email, dan link like kalian di kolom komentar.
  2. GA berlangsung dari tanggal 9-13 Juni 2017. Pengumuman akan saya sampaikan tanggal 14 Juni 2017.
  3. Semoga beruntung. (҂'́)9


Friday, 27 February 2015

Ulasan Komik Bercermin pada Akhlak Nabi karya Hady Sumarna





Komik ini berisi hadits yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada tokoh khusus dalam komik ini. Semuanya beda-beda. Bener-bener kejadian sehari-hari yang bisa dialami di rumah, tempat bekerja, kafe, jalan, masjid, tempat konser, kecuali sekolah. Nggak ada setting  sekolah di komik ini.

Lagi, seperti kebanyakan komik lain, penulisannya tidak terlalu diperhatikan. Kata-kata seperti di gundul, di deketin, kesini, jadi hal yang wajar ditemukan. Saking wajarnya, ya jadi biasa aja nemu begitu di komik. Padahal, akan lebih baik kalo mendapat perhatian lebih, biar yang baca terbiasa dengan penulisan yang baik dan benar.

Oke, cukup untuk penulisannya. Karena ini komik, ayo konsen ke gambar dan isi.

Gambarnya sudah lumayan. Tapi di halaman 141 kayak ada satu lembar karya orang lain yang nyelip. Soalnya, keliatan banget beda jenis gambarnya. *oke, ini su’uzhan. Biasanya, saya iseng2 ngetwit ke pembuatnya, sih. /(>o<")\

Dan..., pembuatnya sudah konfirmasi. Lewat Twitter. Juga lewat komentar di bawah. Ngahahahah... Tulisan di atas emang kesannya tuduhan njiplak, yak? *ckckck, ampon, dah*

Padahal, maksud saya, kadang memang ada pembuat komik memang nyelipin karya asistennya.... Nah, saya kira Mas Hady juga begitu. Ternyata itu karya dia juga, yang model manga. *maafkan... (=.=")

Dari segi isi, karena isinya random banget, jadi bisa menjangkau semua tempat dan kalangan. Mulai dari pengemis, mahasiswa, sampai calon presiden. Beberapa isinya “ngena” banget.
Saya akan mengambil contoh hadits di halaman 46.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Malanglah ia, malanglah ia, malanglah ia. Yaitu, seseorang yang hidup cukup lama menyaksikan hari tua ibu-bapaknya, tetapi ia gagal memperoleh surga (dengan jalan mengkhidmati mereka).” (HR. Muslim).

Cerita yang menyertai hadits ini tentang anak perantauan yang kemudian menjadi terlalu sibuk, terlalu penting, bahkan untuk sekadar meladeni telepon dari orang tua.

Saya termasuk orang perantauan. Memang nggak seekstrem tokoh di komik ini. Tapi, tetep aja, ada saat-saat saya merasa bahwa apa yang saya lakukan di perantauan lebih menyenangkan daripada meladeni orang di rumah. (T-T”)
Yang pernah merantau pasti juga pernah merasakan hal yang sama. *maksa* 

Hal lain yang menarik dari komik ini saya temukan di halaman 88. Seorang anak cewek dimarahin ayahnya karena pulang jam 10 malem. Emosi, anak cewek ini apdet status di akun Fb-nya. Yang bikin agak shock adalah isi statusnya yang nggak banget. Apalagi dia pake jilbab. 

Di sisi lain, ini kenyataan. 

Ada anak-anak seperti ini di sekitar kita. Namanya juga anak muda, ngerasa semua yang dia lakukan benar, ngerasa terlalu dikekang, dan seterusnya. Dan media sosial adalah diary terbuka. 

Kita bisa menulis apa saja. Orang bisa berkomentar apa saja.

Bagian ini memberi banyak pelajaran bagi yang membaca.
Bahwa emosi sesaat memang mengerikan. Maka wajar jika dikatakan orang yang kuat adalah yang dapat menahan amarah.
Bahwa media sosial memang sebaiknya digunakan dengan bijak.
Nggak perlulah semua orang tau masalah dalam hidup kita. Lagian, tempat terbaik untuk curhat tetep Tuhan.

Tapi, hadits yang disampaikan di akhir kisah ini malah susah saya pahami. Seakan nggak cocok dengan kisah yang dijabarkan.
Berikut ini haditsnya.


Abdullah Bin Amr menuturkan, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya, yang terbesar dari dosa-dosa yang besar ialah orang yang memaki (mengutuk) kedua ayah bundanya.” Ketika ditanya, “Bagaimana seseorang mengutuk ayah bundanya?” Rasulullah Saw. menjawab, “memaki ayah orang lain, lalu dibalas ayahnya yang dimaki. Dan, memaki ibunya orang lain, lalu dibalas ibunya dimaki.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalau hadits itu dipotong pada kalimat pertama, saya masih paham, karena sesuai dengan kisah yang diceritakan. Tapi, kelengkapan hadits itu justru membingungkan, karena tidak klop dengan kisah yang disampaikan sebelumnya.

Selain tentang cewek yang curhat di medsos itu, hal lain yang menarik di komik ini saya temukan di halaman 126. Judulnya: 7 Golongan yang Dinaungi Allah. Biasanya—demikian pula dalam komik ini di halaman sebelum-sebelumnya—kalau judulnya begitu, akan ditunjukkan sesuai dengan judulnya, yaitu 7 orang yang dinaungi Allah. Tapi, di bagian ini justru kebalikannya. 

Misalnya:
1. Pemimpin yang adil, contoh yang diberikan pemimpin yang curang. 

2. Pria yang diajak selingkuh tapi takut karena Allah, contoh yang diberikan justru cowok yang bilang, “Kamu nggak usah takut, …. Toh suamimu juga ga tau, kan,” ke cewek yang dia ajak selingkuh. 

3. Orang yang bersedekah diam-diam, contoh yang diberikan justru pemberian santunan yang diliput stasiun TV.

Karena sebelumnya contoh-contohnya masih normal, di bagian ini saja jadi baca ulang judulnya. Kok contohnya aneh-aneh? Pikir saya. Ternyata, pembuatnya memang sengaja memberi kebalikan dari 7 golongan orang yang dinaungi Allah.

Ada beberapa hadits yang menurut saya kurang pas contohnya.
Misalnya, di halaman 140.

Ibnu Umar menyatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sejahat-jahatnya dusta adalah bila seseorang mengaku kedua matanya melihat sesuatu yang tidak dilihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi, kisah yang menyertainya adalah tentang dua orang pemuda yang sedang nongkrong. Salah satu dari dua pemuda itu melihat seorang perempuan seksi. Dia sudah memberi tahu temannya, tapi temannya tidak percaya dan tetap sibuk dengan HP. Ketika cewek itu sudah jauh, baru si pemegang HP sadar jika dia baru saja melewatkan “pemandangan”. Nah, di sinilah dia berbohong kepada temannya dengan berkata, “Gue ga kecewa, tadi juga gue liat, kok!”

Saya yang memang awam jadi berpikir, “Lah, dusta begini di mana jahatnya…?”


Begitulah.
Selain beberapa hadits lain yang sulit saya pahami—mungkin, karena ketidakcocokan hadits dan kisah yang dipaparkan—pergantian posisi hadits dan kisah di komik ini juga sempat membingungkan. Di awal sampai halaman 50, hadits disampaikan lebih dulu, baru kemudian kisah. Tapi, tiba-tiba berganti. Kisah dulu, baru hadits. Ini memerlukan penyesuaian membaca. 

Tetap saja, saya mendukung komik sebagai salah satu media untuk menyampaikan ajaran kebaikan. 

Semangat, para komikus Indonesia….
(งˆˆ)ง



Friday, 16 January 2015

Komik Ketuker Sandal Karya Fajar Istiqlal

Komik ini bercerita tentang kondisi dan situasi yang sering terjadi di masjid di sekitar kita. 

Berawal dari sebuah masjid yang suram nggak keurus, terpilihlah marbot baru, si penjual es tung-tung. 


Dimulailah perjalanan si marbot menjaga kebersihan, ketenangan, dan kedamaian masjid itu.

***







Awalnya, saya langsung ngebatin, "hish, gambarnya jelek, nih."
*dilempar sendal*

Tapi memang masih termasuk kasar gambarnya. Termasuk panel dan balon katanya... *ini sengaja apa gimana, ya? Saya nggak paham* Yang jelas, cukup mengganggu.

Minus yang lain adalah posisi hadits atau ayat yang ada di akhir kisah tu salah penempatan, deh.

Misalnya setelah cerita 9, Tempat yang pas untuk berdagang dan mengemis, dimasukkan hadits tentang wudhu. Atau setelah cerita 14, Niat sampingan, dimasukkan hadits tentang imam.

Minus lainnya lagi, pembuka komik ini kurang runtut--menurut saya. Mestinya, Pak Haji itu nongol lebih dini. Dia kan agak2, tuh... Agak gokil maksudnya.


Nah, saya sudah berniat mau ngasih bintang 2 aja tadinya.
Tapi, karena ceritanya sesuai dengan kenyataan, terus semakin ke belakang semakin gokil, dan ekspresi tokoh-tokohnya nyebelin *lah?* maka saya naikkan jadi 3 bintang. *kalo ada sih 2,5..., tapi untuk komik ini saya bulatkan ke atas*

Kutipan favorit dari Pak Haji:

"Apa manfaatnya sih kalian mengomentari shalat seseorang. Padahal shalat kalian sendiri aja gak pernah kalian perhatikan... apakah sudah benar atau belum."--p. 30


Dan, di komik ini juga diselipin Go Ku (atau Go Han?) serta Nak-Ru-To yang ikut shalat berjamaah... ngoahahahaha....

Demikian. Wassalam.

Thursday, 15 January 2015

Komik Ikut Kata Nabi karya S. Yuwanto



Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan). (HR. Ibnu Majah)--p. 71

Komik ini tentang pengalaman Nebi, Tomi, Kribo, dan kawan-kawan. Pengalaman sehari-hari yang ditampilkan dalam tiap satu lembar dengan diakhiri satu hadits.

Isinya kebanyakan sesuai dengan keseharian kita.



Komik ini mengingatkan kita untuk mengikuti kata Nabi Muhammmad Saw. dengan cara yang asyik.


Judul: Ikut Kata Nabi
Pengarang: S. Yuwanto
Penerbit: Qultum Media

***

Nah, sekarang penilaian. Ini bukan komik islami pertama yang saya baca. Jadi, saya sudah punya bandingan. 

Di satu sisi, komik ini sudah bagus. Karakter, cerita, plot, semuanya bagus. >_<
Yang bikin saya akhirnya memutuskan ngasih bintang 3 adalah karena satu hadits disampaikan dalam satu lembar.

Di satu sisi, tentu saja cerita dan hadits yang diterima pembaca jadi banyak.

Tapi, di sisi lain, hadits itu--bagi saya--kayak cuma numpang lewat.



Saya baca, ketawa, baca hadits--manggut-manggut.
Saya baca, tertohok, baca hadits--manggut-manggut.
Baca lagi, senyum-senyum, baca hadits--dan seterusnya... *kelamaan manggut2 ntar salah urat pula*

Setelah selesai baca, ya sudah. Hadits2 tadi lewat gitu aja.

Ada beberapa hadits yang saya tandai, karena sedang sesuai dengan hal yang saya alami. Pertama sudah saya sampaikan tadi. Yang kedua:

Apa yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan. (HR. Abu Dawud)--p.86


Yang ketiga:

Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya.(HR. Ahmad dan Abu Dawud)--p.97

Dalam komik ini, saya yang awam tentang hadits, taunya cuma HR. Muslim, Bukhari, Tabhrani, Tirmidzi, dan lain sebagainya, baru denger ada HR. Asy-Syihaab atau HR. Ad-Dailami.

Kalo di komik2 kocak Jepang, biasanya komikus yang iseng nyempilin *ah elah, bahasanya* diri dia di salah satu panel komiknya. Kalo nggak salah tebak, di halaman 14, yang tampak belakang pake kacamata dan terlihat suram itu adalah komikusnyaaa... huahahahaha <(^0^)> *belum tentu bener sudah congkak*

Biasanya, editing tulisan di komik sedikit diabaikan. Mungkin karena pembaca diharap lebih fokus ke gambarnya. Memang, tapi kan lebih nyaman kalo tulisannya diedit dengan ca'em. Komik ini termasuk lumayan minim kesalahan tulis. Minim, artinya masih ada. Tapi, dikiiittt..., terus barusan ngubek2 nyari, nggak ketemu lagi. Ahahahaha....

Oh, bukan berarti harus baku terus jadi kaku. Nggak. Kayak di halaman 22, ada kalimat:

Bentar deh, Neb. ini di mana sih, kok sepi n gelap gini?!

Penggunaan huruf N di sana tentu tidak saya permasalahkan. Lumrah saja. Bahasa sehari-hari kita kan memang seperti itu.

Contohnya, penulisan dimana yang masih disambung begitu. Tapi, yang ketemu contohnya: kata "darimana" yang ditulis gandeng di halaman 31. Udah, contohnya 1 aja. Susah nyari contoh yang laen lagi. Pan udah dibilang tadi, minim....


Oh, iya, favorit saya adegan di halaman 7.

Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya.(HR. Ahmad)--p.7

Saya sering, tuh, nggak nawarin temen makanan. Bukan pelit, tapi saya nggak suka.
Eh..., ternyata temen-temen saya suka. Yes, nggak mubadzir... >_<
*kalo gitu nggak termasuk hadits HR. Ahmad itu, kan?*

Pages