Entri Populer

Showing posts with label event BBI. Show all posts
Showing posts with label event BBI. Show all posts

Thursday, 31 March 2016

Apa kau sudah siap menukar sepasang dengan seorang? —Ulasan Novel Cala Ibi Karya Nukila Amal






Judul: Cala Ibi
Penulis: Nukila Amal
Penerbit: Gramedia
Cetakan Kover Baru, April 2015


Kau menyelipkan pena di halaman terakhir, menutup buku kecil itu. Mengakhiri sebuah alkisah singgah.
Mari pergi, suara itu terdengar lagi.--Cala Ibi

Kisah Ringkas:

Maya Amanita berasal dari Maluku, tinggal di Jakarta. Belakangan ini, dia mengalami mimpi aneh. Berkelanjutan. Berisi banyak hal. Di antaranya: cermin, pria dengan bekas luka yang membujur turun dari pelipis ke rahang, dan Maia. Ia kemudian  memutuskan membeli sebuah buku kecil bersampul hitam untuk mencatat mimpi-mimpinya.

Ketika sedang menangis, Maia didatangi Laila, keponakannya, yang memberinya sebuah boneka naga.

Cala Ibi adalah seekor naga, yang bisa mewujud manusia juga.

Cala Ibi kemudian mengajak Maia bertualang. Mulai dari terbang, hingga pulang, lalu bertemu Ujung dan Tepi, penjaga penjara dan mantan tawanannya, kemudian mereka berkelana ke dalam hutan, berusaha menguak makna perjalanan seorang sesepuh tua Halmahera.

Sepanjang perjalanan Maia, Maya juga mengalami perjalanan. Macetnya Jakarta, keponakan baru di tahun Naga Emas, bertunangan, nyaris tergoda salah satu rekan, juga kekhawatiran terhadap ayahnya, dan ibunya (yang memutuskan menemani suaminya) yang tidak mau pergi desa walau di sana sedang ada kerusuhan. Ia melanjutkan perjalanan hidupnya sambil dihantui mimpi-mimpi yang seringnya ia lupa. Tapi sungguh mengganggu dan ia ingin tahu.

Maia terus menelusuri jejak Bai Guna Tobona, sang dukun perempuan sakti, salah satu saksi berdirinya Ternate yang kemudian menghilang. Maia ingin tahu.

Maya dan Maia, sama-sama menanam rasa ingin tahu dalam diri di dunia mereka masing-masing. Karena…. Mungkin, karena….


…ketaktahuan, hanya itu, yang mesti membuatmu terus, hanya karena itu.--Cala Ibi


Seperti di kovernya, hitam dan putih, dan cara berceritanya: POV 1 dan POV 2, saya langsung menebak bahwa buku ini tentang dua dunia: dunia nyata dan dunia mimpi. Maya dan Maia. Keduanya berada dalam satu tubuh. 

Mana yang nyata, mana yang mimpi? 
Pada akhir perjalanan mereka, apakah itu masih penting dipersoalkan?


***


Gabungan tema dan cara bercerita Nukila Amal memang unik, seperti di Smokol, demikian pula di buku ini. 


Jika ditanya, buku ini berkisah tentang apa, saya akan menjawab: Pencarian.



Sepertinya ini novel pencarian jati diri dengan dasar religi.

Ketika ada kutipan surat al-Qur'an di dalamnya (an-Nahl 68-69)--keterangannya diletakkan halaman depan, bersama keterangan buku lain--saya sempat berpikir, jangan-jangan buku ini ingin mengulas makna di balik ayat itu. Dan saya yang jarang baca apalagi mendalami kitab suci sendiri malah nge-blank. (˘_˘٥)

Jadi, saya akan membahas sesuai kemampuan otak saya saja, dan di dalamnya tidak termasuk kedalaman makna ayat itu. (“o_o)


sumber


Buku ini berkisah tentang siklus tanpa henti rasa ingin memenuhi kebutuhan pada diri manusia. Kebutuhan akan harta, perhatian, pengakuan. Sementara sebenarnya banyak manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri.


Melalui kegelisahan Maya dan Maia, penulis sepertinya ingin menunjukkan bahwa salah satu hal dasar dalam diri manusia adalah rasa penasaran, rasa ingin tahu, yang jika dituruti, manusia akan terus menggali, untuk kemudian mengakui bahwa memang ada yang hanya perlu diterima.



Di dekat cakrawala, aku tak lagi bertanya mengapa mesti ada mimpi. Sebab mesti saja.—p. 256


Itu yang saya tangkap dari padatnya isi buku Cala Ibi. *masih kliyengan

Dari segi tema dan cara bercerita (perihal Maya dan Maia, dan bukan tentang tanda baca), buku ini memang berniat menggugah cara berpikir atau mungkin apa-apa yang perlu dipikir dan tak perlu dipikir oleh manusia.

Kita memang harus masuk ke dalam hutan dalam hutan dalam hutan dalam hutan bersama Cala Ibi untuk kemudian memilih jalan seperti Maia. 

Iya, setelah diberi banyak asupan, pada akhirnya tentu kita yang menentukan jalan hidup masing-masing. Apa-apa yang perlu dicari tahu. Apa-apa yang tak perlu dicari tahu. Akan selamanya begitu.

Yang masih mengganjal—mungkin saya kurang awas membaca—saya belum memahami Cala Ibi ini perumpamaan apa dalam kehidupan kita? Ujung, Tepi, dan Bayi ada. Tapi, Cala Ibi—yang menjadi judul buku ini?

Kalau ada yang tau dan berkenan ngasih tau, bisa bisikin saya.


Sebab bisikan lebih menggoda lebih menjamah lebih menggugah daripada teriakan.

Sebab bisikan selalu jatuh lembut di telinga, tak seperti teriak yang menghantam pekak.--Cala Ibi


***

Selanjutnya, mari bahas hal-hal menarik yang tampak dari buku ini.

Diksi.
Banyak yang memuji diksi yang digunakan dalam buku ini. Memang menarik.
Hingga terasa padat. Tak jarang sesak.
Contoh:


Kota mendengung giat, udara hangat, mobil-mobil tampak seperti permen warna-warni jeruk stroberi karamel vanilla, langit berbalon ikan rupa-rupa warnanya, angin menarikan bunga menggugurkan daun, anak-anak jalanan tertawa bergigi susu bertulang rawan.--Cala Ibi

Itu baru satu kalimat. Masih banyak kalimat menarik lain dalam buku ini yang bisa jadi bahan sedap untuk dibahas dari segi stilistika, gaya bahasa.

Sudut Pandang Penceritaan. 
Ada dua sudut pandang cerita dalam novel ini.
POV I: Aku—Maya.
POV II: Kau—Maia.
Keduanya tidak berbaris rapi satu-satu menyampaikan kisah mereka. Tidak urut. Kadang Maia muncul dua kali berturut-turut, baru Maya kembali bercerita.
Kenapa Nukila Amal menggunakan dua POV ini? Saya rasa, karena Maia adalah bagian dari Maya.


Dialog, apa itu dialog?
Oh, di buku ini ada banyak dialog, kok. Yang nggak ada itu tanda bacanya. Nggak ada tanda petik yang lazim digunakan untuk menandai adanya tuturan langsung.

Saya beberapa kali menemukan cerpen tanpa tanda petik di dialog. Oh, tak apa. Masih bisa dimengerti. Pasti ada maksud tersembunyi. Tapi ketika ada yang benar-benar mempraktikkannya ke dalam novel setebal 275 halaman… astaga.

Mengenai hal ini, salah satu pembelaan penulis disampaikan melalui tokohnya.


Ia tak kenal tanda baca rupanya, bacaan macam apa ini, .... Lihat, di sini harusnya ada garis pemisah, di sini harus ada kata penghubung: seperti atau dan, bagaimana mungkin ia menulis sesukanya? (Ujung)

Itu pilihannya, kau mau apa? Menambah lagi rambu-rambu, perangkat siksaan linguistikmu itu? Seperti perangkat aturan, adab-adab yang telah kau sesakkan ke dalam kehidupan manusia? (Tepi)

Itu petikan percakapan Ujung dan Tepi di halaman 250. 

Banyak komentar di belakang buku ini. Mereka memberi pendapat mulai dari segi linguistik hingga filsafat. Karena, buku ini memang berisi banyak hal, hingga perkara iklan dan hidup pekerja yang monoton entah sampai kapan. Dari alif hingga kaf dan nun yang menjadi kun. Dari Bai Guna Tobona, sang dukun perempuan sakti, hingga Islam dan Kristen masuk. Dari pulau tak bernama, hingga muncul Kerajaan Ternate. Dari emas hitam berupa cengkih, hingga emas sungguhan. Dari titik menjadi garis menjadi bidang. Dari sepasang menjadi seorang: Apa kau sudah siap menukar sepasang dengan seorang?

Saya merasa penulis ingin berkata begini melalui buku ini:


Tidakkah kalian merasakan, belajar dari sejarah, bahwasanya hidup ini perulangan tanpa henti? Seperti angka delapan. Terus berputar tanpa awal dan akhir.



Kamu pembaca yang mana? Ibu, putra daerah, sosialita, pekerja kantoran, anak, hingga jomblo, semua ada bagiannya, sehingga lagi-lagi terasa padat. Dan sesak.

Karena, buku ini berisi kombinasi padatnya pesan dan cara bercerita yang di luar kebiasaan. Mungkin saya bersepakat dengan salah satu komentar tentang buku ini disampaikan oleh Nirwan Dewanto: “hanya pembaca yang mau memperbaharui cara bacanya yang bisa menikmati permainan Nukila.”

Dan saya belum termasuk. 

Saya tidak bisa menikmati cara Nukila Amal bercerita. Meskipun, saya menyadari bahwa hal yang dilakukannya dalam memilih gaya bercerita untuk mendukung pesan yang ingin disampaikan. Saya mengerti, tapi tidak belum bisa menikmati.

Bahasa bersifat arbitrer dan konvensional. Arbitrer artinya mana suka, seperti pembelaan Tepi kira-kira: terserah. Tapi, jangan lupakan konvensional. Artinya kira-kira berdasarkan kesepakatan. Boleh saja memang, seseorang menggunakan gaya becerita seperti ini, seperti boleh saja seseorang menggunakan bahasa alay. Tapi, yang membaca harus menerima kesepakatan itu untuk dapat meresapi pesan yang ingin disampaikan melalui kisah dalam buku ini.


Pada mulanya adalah bukan Kata, tapi Rasa. Adalah Rasa Pertama yang kemudian melahirkan Pikiran Pertama menjadi Kata terucap Lidah Pertama … --p. 228

Nah, karena ini baru pertama kali saya menemui novel dengan gaya bercerita macam cerpen tak biasa, inkonvensional, sebut saja, ditambah dengan padatnya pesan, saya belum bisa menikmatinya.

Selama membaca, saya beberapa kali terganjal hingga harus membaca ulang untuk mengerti mana yang tuturan mana yang deskripsi.
Saya suka, tapi belum berhasil menikmati.

Padahal, seperti kata Cala Ibi:


Awal atau akhir … Kita masih bisa pergi dari sini, dan kau tak perlu repot membaca semua ini,-- P. 229

Seperti pilihan membaca buku. Kita tidak harus menyelesaikan sebuah buku. Tapi, dengan kondisi tanpa tanda petik, saya tertarik menyelesaikannya. Mengikuti kisah Maya dan Maia dan Cala Ibi. Hanya saja, lagi-lagi, belum bisa menikmati sepenuhnya. 


***


Duh, sepertinya saya harus lanjut membaca lagi dan lagi.
*Lirik timbunan yang masih banyak
*Tetiba congkak


Ulasan ini dalam rangka ikut #BBILagiBaca bulan Maret 2016
Ini salah satu capture tweet selama pembacaan. (^-^)





Thursday, 31 December 2015

Secret Santa 2015 Riddle




Akhirnyaaaa, posting ini juga. \(*0*)/
Saya dapet dua dari lima weird and wicked series Kiddo, yang nomor 1 dan 3.



Makasih, yes, Santa.... *cipok*

Nah, ini riddle-nya, silakan dibaca di foto ini. Ngahahahahhah....



Nggak, ding. Ini saya ketik ulang yang bagian petunjuk.


From Sumatera With Love 

Eh..., petunjuk mengenai saya belum saya beri ya. Maaf, karena memori saya sering penuh, jadi suka lupa. Hehe....

Sebagai penikmati fiksi, saya selalu menyukai roman. Desaain sampulnya selalu menggoda. Juga ada sensasi tersendiri saat membaca roman. Hari-hari terasa cepat berlalu saat sedang asyik membaca roman. Satya termasuk blogger yang moody dalam mereview sehingga postingan saya sedikit.
Siapakah saya?
Semoga kamu berhasil menebak dan menikmati bukunya.

Salam, 
target 103


Sementara, saya berhasil mengumpulkan beberapa clue: Sumatera, biru, roman, review sedikit. 
Kata-kata yang biru, memang berwarna biru di suratnya.
Hm... *elus2 dagu*
Dompetnya pun..., warna biru. Saya suka, saya suka. *ala Mei Mei*

Nah, nanti saya blogwalking dulu ke para peserta. 
Saya pasti bisa menebak, deh. 
*pede*

Friday, 13 November 2015

Membaca Cerita di Luar Logika Kita


Kata einstein: Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

Bagaimana batasan logis yang dapat diterima satu orang dengan orang lainnya? Sama dengan selera genre bacaan, berbeda-beda. 
Tidak sedikit kawan saya yang menolak membaca buku Harry Potter karena merasa dunia sihir adalah hal yang konyol, tidak masuk akal, tidak mungkin terjadi. Sehingga, tidak perlu dibaca.
Mendengar pendapatnya, saya teringat bagaimana sebuah dunia hadir di kepala saya, tentang seorang anak berkacamata yang sedang memandang langit dan memikirkan tentang hidupnya—hal yang dulu sering saya lakukan juga. Imajinasi itu begitu nyata sehingga kemudian sulit sekali meletakkan buku Harry Potter pertama itu sebelum selesai. Sejak saat itu, saya rasa saya sudah nyemplung dengan sukarela ke dalam dunia ciptaan Rowling. Jadi bagaimana mungkin ada yang tidak suka dengan buku ini? 
Apakah tidak masuk akal ada dunia sihir lengkap dengan sekolahnya? Bagi saya, mungkin. Setelah membaca Harry Potter. Bagi teman saya, tidak mungkin.
Perbedaan kami adalah saya tidak memiliki batasan apa-apa saat menerima kata-demi kata yang dirangkai Rowling, sementara kawan saya sudah membangun tembok tinggi untuk dunia di luar dunia manusia. Padahal, saya yakin dia mengenal fabel—yang kalau mau dilogika bisa dibilang sama tidak masuk akalnya.
Lalu bagaimana dengan cerita yang di luar nalar? Seperti cerpen “Metamorfosa” Kafka, misal, yang berkisah mengenai perubahan seorang manusia menjadi kecoak? Ini termasuk tidak masuk logika saya. Lalu kenapa ada orang-orang yang dapat menikmatinya?
Itu adalah kekuatan imajinasi. Kekuatan Kafka bercerita berhasil membuat beberapa pembaca dengan sukarela masuk ke dalam dunia yang diciptakannya. Dan orang-orang itu—saya kira tidak banyak yang benar-benar mampu menikmati cerpen ini—tentu memiliki daya imajinasi yang kira-kira setara. Maksud saya, sudah mengalami banyak kejadian dan sudah membaca banyak buku sehingga penerimaan terhadap hal-hal “aneh” pun lebih luas.
Hal tidak logis bagi seseorang tidak selamanya bertahan tidak logis dalam dirinya. Mungkin, kita saja yang belum mengenal dunia itu. Jika mau mengetes, coba baca ulang cerpen yang dulu terasa tidak masuk akal—kalo novel dianggap kepanjangan. Pasti akan hadir pandangan yang berbeda. Bisa jadi lebih menerima, bisa jadi mengernyit heran, kenapa dulu bisa suka. 

Buku apaan, nih?

Bagaimana menyamakan penerimaan logika seseorang dengan yang lain? Jawabannya terletak pada kesamaan latar belakang pengetahuan penulis dan pembaca.
Mari berbicara logika dalam lingkup lebih kecil. Misal, tokoh yang seorang dokter diceritakan melakukan napas buatan. Bagi saya, bisa saja kejadian itu saya skip dan saya terima dengan lapang dada. Tapi ternyata, di belahan dunia lain *kejauhan oi* ada pembaca yang tidak dapat menerima. Bisa saja karena dia seorang dokter atau orang yang berkutat di bidang serupa sehingga mengetahui pasti bahwa tindakan si tokoh dokter itu keliru. Atau, pembaca pernah membaca buku lain dengan kejadian serupa namun sang dokter mengambil tindakan berbeda. Otaknya akan berpikir, “Harusnya nggak gini, kan?” Lalu mulai mencari informasi untuk mengetahui tindakan yang seharusnya dilakukan dokter yang ada dalam novel ini atau novel sebelumnya dia baca.
Dan begitulah pengetahuan baru tercipta dalam diri manusia. *buset* 
Pertanyaan berikutnya. Apakah kita harus bertahan membaca sampai akhir sebuah kisah yang tidak masuk di akal kita? 

Kapan abisnya ni buku?

Nggak ada yang maksa, dong.
Tapi kadang kita perlu memaksakan diri. Kita butuh wawasan baru. Jadi ada kalanya perlu membaca buku di luar zona nyaman kita. 
Alasan lain kenapa kita kadang perlu memaksakan diri membaca sampai selesai adalah karena saking geregetnya. Karena kita tidak berhak men-judge sebuah karya tanpa membaca sebelumnya. Kita sudah selesai baca aja bisa jadi pendapat kita keliru, apalagi belum baca. Hal ini saya lakukan saat membaca Monogram Murders—memaksa diri menyelesaikan membaca.
Beberapa perdebatan penulis dan pembaca di kolom komentar Goodreads pun karena ketidaklogisan cerita seperti itu, kan? Menurut saya, baik pembaca maupun penulis tentu mendapat pengetahuan baru. Jadi, setelah pertikaian seru itu, ya ambil hikmahnya saja. Bagi penulis untuk memperbaiki diri. Percayalah, riset memang sangat diperlukan. 

Karya berikutnya harus lebih baik.

Bagi pembaca untuk menyadari kalau tidak semua buku yang dicetak layak dibaca. *dilempar ke api*

Saya kembali teringat sebuah kalimat.
Seaneh apa pun cerita, selama mampu meyakinkan pembaca, tidak masalah.
Kira-kira begitu. Kalau nggak salah, kalimat itu saya dengar dari Joni Ariadinata pada sebuah kesempatan. Dan saya sepakat.

Nah, ini kali pertama saya ikut event BBI, Opini Bareng 2015. Semoga sesuai jalur. \('')/




Friday, 6 November 2015

Untuk Secret Santa 2015




Tarik napas..., embuskan.
Ini pertama kali saya ikut event Secret Santa BBI. Yeay! *jogedjoged*

Nah, apa yang harus ditulis di wishlist inih? Duh, nggak ngerti. Kadang, kalo liat buku... ya pengen. Kalau kesukaan..., tentu saja novel Agatha. Tapi, kali ini saya mau sesuatu yang lain. Agatha saya sudah lumayan banyak--walau belum lengkap, cukup untuk pengobat rindu. *entah curhat, entah cumbong*

Baiklah, Santa-ku..., ini dia wishlist perdana saya.
1. Orang-Orang Tanah 


Tertarik buku ini gegara baca review Mas Dion Yulianto


2. Weird and Wicked Series dari Kiddo











Lagi-lagi, setelah lihat review temen dan liat kovernya yang menarik hati, saya tergoda.... *halah*
Yang mana aja, Santa. Soalnya, ini nggak urut, kok.


3. Karya Robert Galbraith





Kalo yang ini..., karena mahal dan tebal jadi rada mikir belinya. Iya kalo sudah dibeli kebaca, kalau teronggok di pojokan dan berdebu kan sayang.


Sudaaahhh.... 
Bukunya nggak susah, kan? Jadi, nggak ngasih link tempat bisa beli bukunya.
Hihihi....

Penasaran pengen nebak si Santa.

Pages