Entri Populer

Showing posts with label pembunuhan. Show all posts
Showing posts with label pembunuhan. Show all posts

Wednesday, 27 May 2015

ULasan Misteri Perkawinan Maut karya S Mara Gd





Judul: Misteri Perkawinan Maut
Penulis: S. Mara Gd.
Penerbit: Gramedia
Halaman: 552 halaman

Di kover buku ini, ada tulisan: penulis thriller no #1 di Indonesia. Sebenarnya, thriller itu apa?
Saya nggak begitu paham.

Yang saya tau, S. Mara Gd. Penulis cerita pembunuhan dengan tokoh polisi Gozali dan Kosasih. Kalo nggak salah, Gozali ini mantan penjahat, ya (?) Saya lupa. Membacanya pertama kali dulu… bersamaan dengan gandrungnya saya terhadap karya-karya Agatha Christie. Tapi karena kalah menarik dengan Agatha—menurut saya—maka saya tinggalkanlah Gozali dan menempel pada Poirot. 
 
Bercerita tentang kisah perkawinan yang berujung maut. Hamidah Bakar adalah sekretaris sekaligus simpanan Rudolf Lusong. Tentu saja Hamidah hanya mengincar hartanya. Seperti kebanyakan kisah tentang wanita penggoda, perlahan Hamidah mulai menuntut dinikahi. Tapi, Rudolf menolak. Dia masih cukup waras untuk menyadari bahwa kebersamaannya dengan Hamidah hanya selingan.

Sayang, perselingkuhan itu akhirnya terkuak. 

Dilihat langsung oleh anak pertamanya, Evi. Saya tidak bisa membayangkan shock yang dialami Evi ketika mendapati ayahnya dan perempuan lain berbalut pakaian tidur di apartemen. Dia masih 12 tahun, tapi cukup mengerti apa yang terjadi. Bagaimana bisa anak itu berada di apartemen dan melihat semua itu? Bisa dibaca sendiri. Ceritanya menarik.

Tidak bisa tidak, Rudolf bercerai dari istrinya, Gabrielle Lusong. Setelah perceraian itu, Rudolf menikahi Hamidah.
Dan di sinilah semuanya bermula.

Seperti diceritakan di back cover buku ini. Hamidah justru seakan direnteti kesialan. Karena keserakahan dan ketidaksabarannya, sih.
Pacarnya, lelaki tersembunyi yang ikut andil dalam rencana mengeruk harta Rudolf, lebih penyabar dan cerdas memilih jalan. Tidak gegabah seperti Hamidah. Akibatnya, dia tidak mendapat apa-apa dan justru ditemukan mati.

Setelah itu, Gozali dan Kosasih muncul, menelisik satu demi satu petunjuk, saksi, bukti, kebohongan, hingga perlahan mengarah kepada pelaku. Sementara, sudah jatuh korban-korban berikutnya.

Yang menarik dalam novel ini justru pelajaran hidup yang disampaikan melalui tokoh-tokohnya setelah mengalami guncangan dalam hidup mereka.

1.  Gabrielle Lusong, tadinya istri yang tabah menerima apa-apa perlakuan suami. Tipe istri penurut yang jika ada apa-apa yang salah, dirinya yang patut ditengok terlebih dahulu. Ini tipe cewek “malaikat” gitu kalo di sinetron. Tapi, S. Mara Gd. Berhasil menyampaikannya dengan lebih masuk akal. Setelah perselingkuhan suaminya, dia bangkit, memupuk percaya diri, didukung orang-orang sekitar.

“Ya. Sebetulnya dia adalah ayah yang baik. Aku saja yang gagal menjadi istrinya.”
 ....
“Mungkin karena aku jadi gemuk lalu aku sudah tidak menarik lagi baginya. Andaikan saja aku dulu lebih pintar menjaga tubuhku….”—p. 85

*tuh, dia tipe cewek begini…*





Dari Gabrielle, cewek-cewek bisa belajar pentingnya merawat diri dan menghargai diri sendiri. Secinta apa pun kepada sang lelaki.

Tapi, yang cowok jangan langsung hore-hore. Ada kutipan menarik dari salah satu tokoh, menyahuti keluh introspeksi di atas.

“Seorang suami yang meninggalkan istrinya hanya karena dia menjadi gemuk setelah melahirkan dua anak untuknya bukanlah suami yang patut dipertahankan,” kata Citra.—p. 85


2. Rudolf Lusong, tadinya suami yang menganggap istrinya “cuma” seorang istri. Tipe laki-laki sukses yang setelah memberi cukup uang belanja merasa sudah sewajarnya mendapat perlakuan istimewa di rumah. Setelah perceraiannya, dan tahu bahwa Gabrielle cukup cantik untuk diinginkan laki-laki lain, dia baru menyadari kehilangannya.  

Apalagi Hamidah punya kelebihan. Payudaranya besar dan montok. Entah itu hasil suntikan, entah asli, tidak jadi soal bagi Rudolf. Yang penting…, bisa langsung membuat gairahnya meledak tak tertahankan.—p.13

Rudolf membuka pintu kamar tidur dan melihat istrinya sedang asyik menonton film dari atas tempat tidurnya. Dia hanya mengenakan rok dari kaus ketat tanpa pakaian dalam, karena kedua putting susu dan lekuk-lekuk tubuhnya tampak jelas di balik kausnya. Bedanya, semua itu sekarang tidak membuat gairahnya bergejolak lagi. Semuanya jadi biasa.—p. 51

Dari Rudolf, cowok-cowok bisa belajar bahwa selingkuh seringnya menarik karena dilakukan diam-diam. Dan hampir bisa dipastikan akan berujung pada penyesalan.






 3. Hamidah Bakar. Cewek yang mengandalkan kecantikan dan kesaksiannya untuk memikat laki-laki eh, lebih tepatnya, harta laki-laki. 

Cewek-cewek mungkin bisa belajar sedikit lebih pintar dari dia jika ingin menggaet laki orang. *buset…*

Serius, buat cewek-cewek, sayang-sayang waktu yang terbatas dalam hidup kita kalo dipake buat nggaet suami orang. Sia-sia. Hamidah ini contohnya.



“Ini sungguh kondisi yang ironis, bukan?” kata Kosasih. “Semasa hidupnya Hamidah Lusong tampaknya seperti seorang wanita yang banyak didambakan lelaki. Bosnya menginginkannya, kekasih gelapnya menginginkannya. Tapi begitu dia mati, semua meninggalkannya. ….”—p. 363

Dan masih banyak lagi dari tokoh-tokoh lain.

Sayang, penempatan porsinya menurut saya sungguh berat di drama (romance-nya). Jadi, saya hampir bosan dan merasa bukan sedang membaca novel pembunuhan ketika sudah hampir separuh buku belum juga menemukan tokoh yang mati. Dan tidak lama setelah menemukan mayat kedua, saya sudah bisa menduga pelakunya.
Kosasih dan Gozali memang dua polisi yang jujur. Coba lihat kutipan ucapan mereka. Jadi, ceitanya salah satu mayat yang mereka temukan adalah preman jahat (preman baik tu kayak di “Preman Pensiun”).

Kosasih berkata bahwa dia nggak peduli siapa pembunuh preman itu. Toh artinya pembunuh sudah mengurangi populasi orang jahat di dunia ini. Tapi, kata Gozali….

“Kita bukan Tuhan, Kos. Kita tidak menghakimi. Kita Cuma petugas yang berusaha menjalankan tugas kita sebaik mungkin. Balasan itu urusan Tuhan. Urusan kita adalah melakukan tugas dan kewajiban kita.”—p. 349

Luar biasa Gozali ini, pantaslah cewek-cewek meleleh, walau tampangnya sangar.


Dan saya berharap, benar-benar berharap, ada polisi seperti ini di dunia nyata, di Indonesia.




 
Hal lain yang menarik dan membuat saya merasa langsung tergerak untuk mengutipnya adalah pemikiran Rudolf Lusong.

Bagi Rudolf yang chauvinistis, kalau laki-laki berselingkuh itu bisa dimaklumi. Tapi kalau seorang istri, wah, itu sudah keterlaluan! Dalam suatu hubungan seks, laki-laki adalah seorang pelepas, seorang pembuang, sedangkan wanitanya adalah seorang penerima, seorang penampung. .... Jadi laki-laki yang membuang tidak menjadi kotor, tapi perempuan yang menerima, tubuhnya menjadi kotor. Begitu teori Rudolf.--p.160


Oke..., gambar ini... e... maksudnya perumpamaan. Oke, anggep aja bonus.
 
Ada banyak hal dari kutipan itu. Salah satunya, teknik menyampaikan amanat. Hal ini terkait dengan tulisan saya di sini.
Biasanya, novel atau cerpen adalah salah satu sarana penulis menyampaikan pola pikirnya pada dunia. Ini salah satunya. Apakah itu artinya S. Mara Gd setuju dengan pemikiran Rudolf? Belum tentu. Bisa saja dia menampilkannya justru agar diperdebatkan oleh nurani pembaca. 

Setidaknya, saya jadi sedikit mengerti pola pikir laki-laki yang lebih memaklumi jika laki-laki berselingkuh. Sementara jika wanita yang berselingkuh, seolah-olah dia adalah pelacur. *sori kalo terlalu gamblang

Dalam hal editing, editornya—yang tidak tertulis—baik sekali.
Hanya…, ada beberapa diksi yang mengganjal, mungkin terkait waktu penggunaan (?) buku ini pertama kali cetak Mei 2003.
Beberapa contoh: Konsern, labah-labah, lesung pipi.


Begitulah. Buku ini memberi banyak pelajaran mengenai kehidupan. Terutama kehidupan berumah tangga.





Sumber Gambar: dokumen pribadi, dua, tiga, empat, lima, enam.

Tuesday, 19 May 2015

Ulasan buku Misteri Patung Garam







Judul                   : Misteri Patung Garam
Penulis                : Ruwi Meita
Editor                 : Sulung S. Hanum & Jia Effendie
Penerbit              : Gagas Media
Cetakan              : 2015

Lagi, saya menemukan buku Gagas yang digarap 2 editor.
Sayang, catatan terkait buku ini di HP yang lama, jadi masalah editing akan saya lewatkan.

Sejak muncul kovernya, saya sudah penasaran dengan buku ini. Harapan saya besar karena saya suka pembunuhan. Novel ini berhasil mengombang-ambing perasaan pembaca. 

Cerita singkatnya begini, Kiri Lamari seorang polisi yang baru dipindahtugaskan ke Surabaya. Dia disambut dengan kasus pembunuhan yang unik. Mayatnya dibaluri dengan garam. Jadi, awet. 

Jadi, pembunuh yang dihadapi Kiri kali ini adalah pembunuh yang cerdas, yang mementingkan keindahan. Model pembunuh yang justru berbahaya karena biasanya berhati-hati. Tapi, pembunuh itu melakukan improvisasi. Dia tidak punya cukup waktu untuk membuat patung dengan sempurna. Dan itu karena kehadiran Kiri. 

Hal itu justru menuntun Kiri lebih dekat dengan si pembunuh.
Meskipun novel pembunuhan, ceritanya disisipi kisah cintanya dengan Kenes dan konfliknya dengan orang tua. Dan, kehadiran Ireng.

Saya pribadi nggak tertarik dengan Kiri Lamari. *Eee..., selera saya tentang cowok memang rada aneh.* Saya justru tertarik dengan karakter Inspektur Saut dan “kampret rebus”-nya. Dan, tentu dengan Ireng, si anak songong.

Yang juara di novel ini justru keutuhannya. Sebagai novel detektif, semua pertanyaan terjawab. Dan terjawab dengan kondisi memaksa pembaca membuka kembali lembar-lembar awal untuk meyakinkan diri. 


beberapa patung memang luar biasa
tuh, mirip banget manusia...

Di tengah-tengah membaca buku ini, saya sempet sok-sok-an bilang ke temen kalau saya tahu pembunuhnya. Dan memang benar tebakan saya. Yang tidak saya duga adalah masih ada lebih dari satu kejutan (termasuk ending) yang ditahan. Lalu saya kembali menekuri buku ini sambil merasa jengkel karena saya jadi tidak pernah tahu bagaimana rasanya jika saya mengetahuinya langsung, bukan karena informasi teman.

Awal membuka buku ini, saya langsung suka. Prolog novel ini membuat saya menunda membaca. Karena khawatir begitu mulai nggak mau berhenti.
Masuk di tengah-tengah ya itu tadi, ada insiden sok-sok-an dari saya.
Lalu, ending-nya kece.  

Mungkin ini alasan saya menunda bikin ulasan buku ini. Karena kemungkinan besar justru bingung mau bahas apa lagi.
Jadi, udahin aja.
Tentu menyenangkan bertemu dengan Inspektur Saut dan Ireng lagi.

:D



Sumber gambar: satu, dua.

Tuesday, 22 November 2011

Pembunuh Sadis 1: Peter Kürten

Peter Kürten

Laki-laki, perempuan, anak-anak, dan binatang. Semua pernah menjadi objek pembunuh ini. Dan, dia juga suka melihat, dan kadang menghisapnya, darah yang menyembur.

 

Ketika akan dihukum penggal dengan guillotine, ia sempat bertanya pada psikiater penjara: "sesudah kepala saya menggelinding jatuh, bisakah saya mendengar, meskipun hanya sedetik, suara memancarnya darah saya sendiri dari potongan leher saya? Bila bisa, itu merupakan kenikmatan yang akan mengakhiri segala kenikmatan."
(dikutip dari buku The Legends, J. D. Rasz, terbitan Dastan Books)
-ya ampun..., ni orang bener2 suka semburan darah... (=.=")- 

 

Peter Kurten merupakan salah satu pembunuh yang memiliki latar belakang keluarga yang buruk. Mengingatkan kita akan besarnya pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan seorang anak. Saya menyertakan yang dari wikipedia saja agar lebih jelas.

From Wikipedia, the free encyclopedia
Peter Kürten

Mugshot of Peter Kürten taken in 1930 or 1931
Background information
Birth name Peter Kürten
Also known as The Vampire of Düsseldorf
Born May 26, 1883(1883-05-26)
Mülheim am Rhein
Died July 2, 1931(1931-07-02) (aged 48)
Cologne, Germany
Cause of death Decapitation by guillotine
Conviction Arson, attempted murder, burglary, theft, murder
Killings
Number of victims: Murders: 9 (possibly over 60)
Attempted: 7
Sexual assaults: unknown
Span of killings 26 May 1913–7 November 1929
Country Germany
State(s) Prussia Rhine Province
Date apprehended May 24, 1930
Peter Kürten (26 May 1883–2 July 1931) was a German serial killer dubbed The Vampire of Düsseldorf by the contemporary media. He committed a series of sex crimes, assaults and murders against adults and children, most notoriously from February to November 1929 in Düsseldorf.
 

Early life

Kürten was born into a poverty-stricken, abusive family in Mülheim am Rhein, the third of 13 children. As a child, he witnessed his alcoholic father repeatedly sexually assault his mother and his sisters. He followed in his father's footsteps, and was soon sexually abusing his sisters. He engaged in petty criminality from a young age, and was a frequent runaway. He later claimed to have committed his first murders at the age of nine, drowning two young friends while swimming. He moved with his family to Düsseldorf in 1894 and received a number of short prison sentences for various crimes, including theft and arson. As a youth he was employed by the local dogcatcher, a job which allowed him to indulge in animal cruelty.[1]
Kürten progressed from torturing animals to attacks on people. He committed his first provable murder in 1913, strangling a 10-year-old girl, Christine Klein, during the course of a burglary. His crimes were then halted by World War I and an eight-year prison sentence. In 1921 he left prison and moved to Altenburg, where he married. In 1925 he returned to Düsseldorf, where he began the series of crimes that would culminate in his capture, sentencing to death and execution.

Murders

On 8 February 1929 he assaulted a woman and molested and murdered an eight-year-old girl. On 13 February he murdered a middle-aged mechanic, stabbing him 20 times. Kürten did not attack again until August, stabbing three people in separate attacks on the 21st; murdering two sisters, aged five and 14, on the 23rd; and stabbing another woman on the 24th.[2] In September he committed a single rape and murder, brutally beating a servant girl with a hammer in woods that lay just outside of Düsseldorf. In October he attacked two women with a hammer. On 7 November he killed a five-year-old girl by strangling and stabbing her 36 times with scissors, and then sent a map to a local newspaper disclosing the location of her grave. The variety of victims and murder methods gave police the impression that more than one killer was at large: the public turned in over 900,000 different names to the police as potential suspects.
The November murder was Kürten's last, although he engaged in a spate of non-fatal hammer attacks from February to March 1930. In May he accosted a young woman named Maria Budlick; he initially took her to his home, and then to the Grafenberger Woods, where he raped but did not kill her. Budlick led the police to Kürten's home. He avoided the police, but confessed to his wife and told her to inform the police. On 24 May he was located and arrested.

Trial and execution

Kürten confessed to 79 offenses, and was charged with nine murders and seven attempted murders. He went on trial in April 1931. He initially pleaded not guilty, but after some weeks changed his plea. He was found guilty and sentenced to death.
As Kürten was awaiting execution, he was interviewed by Dr. Karl Berg, whose interviews and accompanying analysis of Kürten formed the basis of his book, The Sadist. Kürten stated to Berg that his primary motive was one of sexual pleasure. The number of stab wounds varied because it sometimes took longer to achieve orgasm; the sight of blood was integral to his sexual stimulation.
Kürten was executed on 2 July 1931 by guillotine in Cologne.[3]

Analysis

Kürten said to the legal examiners that his primary motive was to "strike back at oppressive society". He did not deny that he had sexually molested his victims, but he always claimed during his trial that this was not his primary motive.
In 1931 scientists attempted to examine irregularities in Kürten's brain in an attempt to explain his personality and behavior. His head was dissected and mummified and is currently on display at the Ripley's Believe It or Not! museum in Wisconsin Dells.[4]

Cultural references

Fritz Lang's 1931 film M, in which a serial child killer terrorizes a big city, is often said to have been based upon Kürten, but Lang denied that Kürten was an influence. Because of the similarities between Kürten and the film's villain, Hans Beckert, the film was known as The Vampire of Duesseldorf in some countries. While the location is never mentioned in the film, the dialect used by the characters and the several maps used throughout the film bearing the city's trademark bear symbol heavily suggest that the action takes place in Berlin.
The first biopic about Kürten was Robert Hossein's The Secret Killer (Le Vampire de Düsseldorf, 1965).[5] Kürten was subsequently played by Nigel Green in the LWT play Peter and Maria, written by Clive Exton and broadcast on 9 October 1970.
Playwright Anthony Neilson's 1991 work Normal: The Düsseldorf Ripper is a fictional account of Kürten's life, is told from the point of view of his defense lawyer. It was adapted for the screen as Angels Gone, and also released under the title Normal.
Randy Newman's song "In Germany Before the War" from the album Little Criminals is based on Kürten's life, with some poetic license (the song is set in 1934, for example, despite the fact that Kürten was executed in 1931). [6]
In 1981 the British noise band Whitehouse released an album titled Dedicated to Peter Kürten.
The American death metal band Macabre recorded a song called "Vampire of Düsseldorf" about Kürten.
A number of novels have made substantial mention of Kürten. In the 1975 novel Salem's Lot by Stephen King, Kürten's history is summarized by Matt Burke as part of his research into vampirism, though Kürten is referred to as 'Kurtin' throughout. In Chapter 4 of D.M. Thomas's The White Hotel (1981), the main protagonist, Frau Lisa Erdman, is haunted by Kürten's story, which she experiences as a "compulsive daylight nightmare". In the novel Swimsuit (2009) by James Patterson, Henri Benoit, a serial killer himself, makes a reference to Kürten while recounting his own crimes for an autobiography. In the Arianna FranklinCity of Shadows, one of the main characters is a police inspector who helped to catch Kurten. novel
In the movie Copycat (1995), a serial killer uses "Peter Kürten" as an alias (the protagonist, played by Sigourney Weaver, explains the reference).

Further reading

References

  1. ^ http://www.trutv.com/library/crime/serial_killers/history/kurten/killer_4.html
  2. ^ "Peter Kürten: The Vampire of Düsseldorf" Gilbert, Alexander. Crime Library. Retrieved on 2007-10-03
  3. ^ About the decapitation by executioner Carl Gröpler read in detail: Blazek, Matthias, Scharfrichter in Preußen und im Deutschen Reich 1866-1945, Stuttgart 2010, p. 74 f.
  4. ^ Raphael, Lutz; Tenorth, Heinz-Elmar, Ideen als gesellschaftliche Gestaltungskraft im Europa der Neuzeit – Beiträge für eine erneuerte Geistesgeschichte, Ed. 20, Berlin 2006, p. 432.
  5. ^ http://www.imdb.com/title/tt0058922/.
  6. ^ http://www.songfacts.com/detail.php?id=11340
  • Lane, Brian and Gregg, Wilfred (1992). The Encyclopedia of Serial Killers. Berkley Books.
  • Fuchs, Christian [1996] (2002). Bad Blood. Creation Books.
  • Cummins, Joseph S. (2001). "Cannibals: Shocking True Tales of the Last Taboo on Land and at Sea." Lyons Press.
Tidak ada alasan khusus mengapa saya memasukkannya ke nomor 1. Sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih perempuan yang mandi dengan darah, Elisabeth Bathory.
 
-Duh, sebaiknya saya berhenti sejenak dengan pembunuhan yang asli ini. Kalo dalam fiksi, saya masih kuat berlama-lama. He....-
sudah dua hari tidak menengok blog ini. Sudah dua hari pula kerjaan nggak jelas.
fyuuhh... semoga besok, eh, hari ini ding, udah jam satu kok. Lebih baik. Amin.
terima kasih sudah mampir (=o=")//

Pages