Judul: Senja yang Mendadak Bisu
Penulis: Lugina W.G. dkk.
Editor: Ainini
Penerbit: de TEENS
Tahun Terbit: April 2015
Halaman: 240 halaman
Penulis: Lugina W.G. dkk.
Editor: Ainini
Penerbit: de TEENS
Tahun Terbit: April 2015
Halaman: 240 halaman
Kampus Fiksi bermula dari impian Bapak Edi
Akhiles untuk memanas-manasi penulis-penulis muda. Caranya adalah dengan
memberi fasilitas bagi mereka. Aih, zaman saya muda dulu, mana ada pelatihan
model begini. Kalopun ada, jarang, pake banget. Apalagi yang gretongan.
Nah, sejak diadakan dari tahun 2013, Kampus
Fiksi sudah menelurkan banyak alumni. Yah, saya sebut
menelurkan karena untuk memecah cangkangnya tetap perlu kemauan dari penulis
itu sendiri.
Iya, walaupun kamyu-kamyu
*mendadak unyu* ikut acara pelatihan menulis 1000x kalo nggak ada tekad ya
percuma. *ambil cermin*
Dalam rangka ultah KF kedua ini, peserta
untuk kumcer diperluas dengan peserta dari KF, baik reguler maupun roadshow. Jadi, pesertanya lebih
banyak....
Beberapa cerpen dengan cepat dieliminasi.
Banyak faktor, terutama ketidaksesuaian dengan tema. Beberapa lagi..., tim juri
butuh diskusi dan debat, mana yang masuk dan mana yang nggak.
Pembaca dapat menemukan beragam pesona
budaya di Indonesia dalam buku ini. Dan mungkin kemudian akan memilih salah
satunya sebagai cerita favorit.
Saya sendiri suka dengan cerpen “Rambu Solo
untuk Ambe”—tentang pengorbanan dan adat. Dari judulnya sudah bisa ditebak,
kan? Tentang perjuangan seorang anak untuk mengadakan upacara rambu solo bagi
ayahnya. Tapi nggak jadi favorit kalo nggak ada apa-apanya. Kalo dikasih tau di
sini ya nggak seru lagi, atuh... XD
Meskipun, tetap cerita “Iki Palek” yang
paling meninggalkan kesan pedih setelah membacanya sehingga saya pilih untuk
mengedit paling akhir. Cerpen ini berhasil membuat saya merasakan pedihnya
kehilangan.
Yosani sudah kehilangan hampir semua
anggota keluarganya. Demikian pula dengan jari-jarinya. Iya, setiap kehilangan
salah satu anggota keluarga, Yosani harus memenggal sebuah ruas jarinya. Hingga
tersisa satu jari, kelingking kirinya.
Yosani menguatkan hati sekali lagi. Kapak di tangannya sudah mengacung di udara. .... Dan sekali ayunan, ruas jari kelingkingnya menghilang. Darah banjir di sekitar. Merah seperti biji saga. Ia meringis kesakitan.—p. 47
Pas baca bagian itu, ngilu. Tapi ternyata
itu belum seberapa dibanding baca ending-nya.
Ish, sebel.
Kalau ingin mengenal budaya Lampung, kalian
bisa berkunjung ke cerpen “Pi’il Pesenggiri” yang menunjukkannya dengan baik.
“Api ubat malu, Indung?”“Mati, Anakku.”—p. 139
Karena berasal dari Lampung, saya bisa
membayangkan bagaimana sulitnya memperjuangkan kisah cinta di antara aturan
adat. Dan cerpen ini mungkin bisa membuka pola pikir para pejuang cinta.
Dari negara Tiongkok, ada kisah “Tentang A
Fen”, “Jangan Sebut Dia Singkek”, dan “Malam Ketiga Belas Setelah Tahun Baru
Lunar”. Keduanya tentang cinta yang manis.
Apakah melulu tentang cinta? Ah, nggak
juga. Dalam “Otok” ada kisah tentang bully.
Iya, mungkin tanpa disadari, kita semua pernah melakukan bullying. Sejak kecil. Jadi inget lagu “Gajah”-nya Tulus. Tapi,
nggak banyak orang yang berhasil bangkit dari batu-batu yang dilempar
kepadanya. Kebanyakan menerima saja hingga babak belur dan terkubur. Yah,
cerpen ini mungkin akan membuka kenangan masa kecil kalian.
Mengedit naskah dengan latar budaya membuat
saya memilah-milah mana yang sebaiknya di-Indonesia-kan dan mana yang
dibiarkan. Salah satu naskah yang saya biarkan adalah “Penerus Klithik”. Jika
ada yang hendak menilik KBBI, tentu dapat menemukan kata klitik sudah
termaktub. Namun, tidak saya gunakan. Karena, rasanya tentu berbeda antara
“klitik” dan “klithik”. Yang kedua lebih medok. *alasan macam apa inih?* *lalu
dibegal*
Berbicara mengenai adat di Indonesia, tentu
tak lepas dari hal-hal mistis. Demikian juga yang akan ditemukan pembaca dalam
cerpen “Battle Tirakat”, “Gadis di Pulau Seberang”, “Kunang-Kunang Ranu Lus”,
“Moksa”, “Pohon Randu Wangi”, dan “Yang Bernama Yang Tergambar Yang Berarti”.
*ish, ampon judul cerpen yang paling akhir panjang beud, yak* *itu cerpen yang ending-nya langsung ngingetin saya sama
lagu Nasar, tapi yang nulis dan temen-temen juri yang laen nggak ada yang tau
lagu itu. *coba kalo kalian sudah baca nanti kabarin ke saya, tau nggak lagu
itu...
*oke, cukup sampai sini perkara melenceng
dari tema ini* *setel dangdut biar fokus*
Buat yang suka kisah cinta yang manis-manis
pedih *ish, istilah apa pulak inih* atau pedih-pedih manis *sama aja woi!* akan
kalian temukan dalam “Hikayat Terpendam Gadis Lasem”, “Kapurung”, “Pasola”,
“Sarangan”, “Segenggam Mayam”, dan “Tanduk Emas”.
Kalau sudah baca, barulah kalian paham istilah yang saya karang tadi.
Atau, kalau sudah pernah merasakan kisah cinta
yang penuh warna, mungkin langsung bisa bayangin yang saya maksud.
Kalau yang
sampe sekarang masih jomblo adem ayem ya... coba baca dulu aja, siapa tau pas
nanti suatu ketika entah kapan kalian ketemu dengan cemceman, kisah di dalamnya
bisa dijadiin pelajaran.
Bahwa cinta nggak melulu manis.
Bahwa cinta lebih sering pedihnya.
Ngahahahahaha....
Sekarang, cerpen terakhir, yang jadi juara
sekaligus judul buku ini, “Senja yang Mendadak Bisu”.
Cerpen ini berhasil
memvisualisasikan dengan baik suasana pedesaan, hingga rasanya kita bisa
mendengar suara tawa anak-anak yang berisik di sekitar balong; juga kegundahan
hati Bah Kanta yang perlahan merasakan senja di desanya menjadi bisu.
Ketika
pemuda-pemuda kota mulai terlihat memburu burung caladi bawang dan ketika air
kendi mulai tergandi air kemasan, Bah Kanta mungkin sudah mendapat firasat
bahwa senja di desanya perlahan menjadi bisu.
Maka, Bah Kanta mulai bergerak,
berusaha melakukan pencegahan. Tapi, tak pernah Bah Kanta duga, senja bisa
mendadak bisu. Secepat itu. Apa yang membuat senja Bah Kanta tiba-tiba
bisu?
Gustiiii! Bah Kanta mendekap dada kirinya dengan gigi gemeretak. Seperti ada yang meremas jantungnya kuat-kuat hingga sesak. Aliran Cisaninten yang kian susut berkelebat di benaknya. Lalu senyap. Senja tiba-tiba tak terdengar lagi.—p. 202
*Nah..., sesak Bah Kanta dengan mudah akan
kita dirasakan juga oleh pembaca*
Hosh, hosh. *minum dulu*
Okeh, itu aja. Kalo mau dibahas satu-satu
semua cerpen di dalemnya, nanti ulasan ini malah jadi satu buku sendiri pulak.
Ahahahah....
Nah, sekarang saatnya giveaway.
Akan ada satu buku Senja yang Mendadak Bisu dan satu totebag Kampus Fiksi untuk satu pemenang.
![]() |
| note: ini bukan saya. makasih buat fotografer (Ayun) 'n modelnya (Winda) |
Caranya gampang:
- Follow @divapress01 atau like fanspage Penerbit DIVA Press.
- Share giveaway ini ke temen-temen kamu. Bisa lewat twitter, facebook, instagram, BBM, WA, Line, e-mail, SMS, tilpun, surat, telegram.... *oke cukup*
- Jawab pertanyaan berikut:
Ceritain salah satu hal yang khas dari daerah kalian. Boleh makanan, permainan, tarian, ritual, dan sebagainya, yang jarang diketahui orang.
- Giveaway ini berakhir pada tanggal 17 Mei 2015.
- Pengumuman tanggal 18 Mei 2015.
- Jangan lupa ikutin blogtour selanjutnya:
18-24 Mei 2015 di http://bibliough.blogspot.com/
25-31 Mei 2015 di http://dionyulianto.blogspot.com/
1-7 Juni 2015 di https://rezanufa.wordpress.com/ - Udah, itu ajah.
Baiklah, maafkan saya...
Kemaren saya mengalami kesulitan mendapatkan sinyal... *halah* Setelah ngetik dan nyoba berkali-kali apdet lewat HP dan gagal, saya memutuskan menunda. Maaf, ya....
(´._.`)
Setelah membaca komentar-komentar kalian, ternyata Indonesia kaya banget budaya. Tapi, karena cuma bisa milih salah satu. Saya milih jawaban Yosepri Wiranda.
Sebambangan bisa jadi alternatif kalo kamu mau nikah tapi nggak dapet restu.
Tapi, cara ini nggak recommended, deh.
Restu orang tua itu penting....Nah, buat yang belum beruntung, masih ada 3 blog lagi.
Semangat....
(งˆ▽ˆ)ง
Terima kasih...
(づ ̄ ³ ̄)づ~♡


