Entri Populer

Thursday, 12 March 2015

Ulasan novel Ally karya Arleen A

Dua bab pertama yang saya baca dari novel ini sukses bikin penasaran. Perkenalan pertama itu bisa dilihat di sini.






Jadi, ketika memasuki bab ketiga, saya agak berdebar. (ʃƪ) *haha* Sambil  membayangkan petualangan apa yang akan saya dapatkan.

 

Jika sebelumnya saya teringat pada dua film, setelah membaca lanjutannya, saya teringat 
pada dua film lagi. "The One" dan "The Time Traveler’s Wife". Dan di sini memang ada Guru Maaran, si satu-satunya.


Tapi, semakin membaca bab demi bab, saya semakin sadar bahwa kisah di novel ini berbeda dengan keempat film itu. 


Konsepnya adalah begini:
Ally adalah seorang manusia yang bisa berpindah tiba-tiba ke dunia-dunia lain selain dunianya sekarang. 


Itulah kenapa, ketika berumur sepuluh tahun, Ally yang anak tunggal tiba-tiba menjadi Ally yang memiliki adik. Lalu saat dia SMA dan mengalami proses yang dia sebut Ketidakberadaan, tiba-tiba dia menjadi Ally yang memiliki adik bernama Albert yang sudah meninggal setahun lalu.

Bagaimana dunia paralel itu tercipta? Hm, di buku ini sepertinya dunia akan terbagi ketika manusia memiliki pilihan. Jadi, misal kamu bimbang mau pilih jurusan bahasa Indonesia atau matematika dan ternyata di kehidupan ini kamu diterima di bahasa Indonesia, bisa saja kamu yang lain berhasil masuk jurusan matematika. *gitu kira-kira*


Jadi, banyak banget dong dunia paralel?


Iya. Ally mengibaratkan butiran pasir itu sebagai dunia paralel. Jadi, kita memang seperti butiran debu di dunia ini. *bahkan mungkin lebih kecil lagi*



Saya pun beberapa kali berharap dunia ini sungguh-sungguh ada. Maksud saya, asyik kan kalau benar-benar ada saya yang lain di dunia sebelah sana. *entah sebelah mana itu* Pasti banyak orang bersyukur kalau saya ada lebih dari satu, dan kasihan dunia yang nggak ada saya-nya. <(^0^)> Ngahahahahah…. *dilempar keset*


Bisa kalian bayangkan bila menjadi Ally? Dia tidak bisa memilih kapan dan di dunia Ally yang mana akan terlempar. Bagaimana perasaannya menyesuaikan diri dengan hidup yang tiba-tiba baru? Cerita pun akan dianter ke psikiater. Jadi, saya rasa Ally kesepian.



Hingga dia bertemu Kevin, orang yang bisa dia bagi cerita nggak masuk akal tentang perpindahan dunianya dan nggak tertawa. Kevin bisa menerima cerita itu dan ketika ternyata kejadian, dia bisa menyesuaikan diri dengan Ally lain yang datang. 



Jatuh cinta bikin Ally bahagia sekaligus sengsara. Karena, dia bisa sewaktu-waktu ditarik dari dunianya yang sekarang dan entah kapan kembali. Atau mungkin, di dunianya yang baru yang nggak ada Kevin. Atau mungkin, di dunianya yang baru Kevin jadi milik orang lain. Padahal, nggak mudah, kan, nyari orang yang bisa kita bener-bener ngerasa nyaman?


Saya berpikir beberapa hal selama membaca buku ini. Terutama ketika Kevin menghilang dan Ally menemukan catatan harian Ally lain yang memintanya menggantikan kehidupannya secara utuh agar orang-orang di sekitarnya nggak lagi ketemu Ally-Ally yang lain. Profesor Drone, salah seorang profesor kenalan mereka, sedang bereksperimen dengan alat yang bernama “jangkar” untuk menghentikan proses ketidakberadaan itu.

Kalau saya jadi Ally, mau nggak saya nerima permintaan itu?

Ketika sampai pada titik lelah terlempar ke sana-kemari, saya menemukan doa yang menarik yang diucapkan Ally.

“Tuhan, tolong beri aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, beri aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, dan beri aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”—p. 150

Doa ini bagus sekali.
Lalu, saya teringat bagian belakang buku ini.

Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya.

Iya, saya memang berpikir kembali tentang hidup dan cinta. Tentang kedatangan dan kehilangan. Tentang arti keberadaan seseorang yang ada di sekitar kita.

Ternyata memang selalu lebih mudah menjadi orang yang pergi daripada orang yang ditinggalkan. –p. 235

Novel ini bagus dengan riset yang bagus. Tapi kenapa nggak wah, menurut saya? Bukan karena penampakan kover atau masalah editing yang sedikit sekali (misal, tungal, p.39; “kondisi-ku, p.89). Tapi, karena konfliknya kurang tragis. Ahahahah…. *iya emang selera saya agak-agak*
(>_<)

Kalau yang suka model “The Times Traveler’s Wife” mungkin akan suka novel ini. Tapi, saya lebih suka “Butterfly Effect”. 



 
Kira-kira begitu perbandingannya.
(^-^)



Sumber Gambar: The One, Dunia Paralel, The Time Traveler's Wife, Butterfly Effect

2 comments:

  1. saya jg suka banget the butterfly effect mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa...
      Nah, buku ini lebih deket ke Time Traveler's Wife. Tapi tetep suka...
      XD

      Delete

Pages

There was an error in this gadget